Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
81. Kabar Arsen Kabur


__ADS_3

Axel mengangguk dengan wibawa, melirik karyawan yang terdiam sejenak. Pria itu sedikit sadar diri pun berdehem.


"Kalau begitu, saya akan kembali ke ruang kerja." Ia pun keluar setelah berpamitan.


Axel mengernyitkan wajahnya sejenak melihat punggung karyawan yang telah menjauh. "Terima kasih, Rasti. Saya akan ke sana sekarang juga."


Axel menuju kejaksaan negeri ini dengan segera menemui pimpinan instansi tersebut. Wajah Pak Arifin tampak serius menyimpan sesuatu yang membuat Axel merasa penasaran.


"Seperti yang sudah direncanakan semenjak awal, subuh ini Dokter Arsenio Wijaya mendarat di bandara TNI angkatan udara."


Arifin sengaja menggantung ucapannya membiarkan sang pengacara muda mengerutkan kening menebak apa yang akan menjadi pembicaraan selanjutnya.


"Apa kamu sudah mendengar informasi terbaru masalah yang terjadi?" tanya Arifin, menguji Axel.


Axel mencoba menebak dan memikirkan sesuatu yang mungkin saja terjadi. "Apakah mereka sudah membawanya pada rumah tahanan yang telah ditentukan?"


Arifin menghela napasnya dengan berat. Beliau menggelengkan kepala dengan raut ketakutan.


"Apa yang terjadi? Jangan katakan kalau dia ...."


"Ya, itu lah yang terjadi. Ia berhasil dibawa kabur oleh orang-orang dari komplotannya."


Axel terperenjat sendiri dengan kesimpulan yang ia dapatkan dan itu merupakan sebuah kenyataan. Rasa takut itu kembali muncul.

__ADS_1


*


*


*


"Di mana anakku, Aziel?" Arsen telah berganti pakaian menggunakan yang sama seperti anggota lainnya.


"Kami mendapat kabar dia tinggal bersama pengacara dan Mila yang ternyata istrinya, Boss," ucap Kano di belakangnya.


"Cari keberadaan mereka. Kita akan membalikkan posisi di mana mereka semua harus berada."


*


*


*


Axel mendapati sang istri sedang memasak di dapur, dan Aziel sedang asik bermain di dekat Yuvi memasak. Tanpa babibu ia langsung memeluk Yuvi yang tidak menyadari kedatangannya.


"Syukur lah, kalian baik-baik saja," bisiknya.


"Aah, Mas ... mau makan siang di rumah?"

__ADS_1


Axel tersenyum tipis dan ia mengangguk di belakang sang istri.


"Tunggu ya? Sebentar lagi selesai. Tapi masakanku tidak seenak masakan Bibi yang ada di rumah mamamu, lho?" ucap Yuvi membolak-balik ikan yang sudah masak pada sisi sebelahnya.


"Setahuku, masakanmu lebih enak dibanding koki mana pun."


"Ah, bisa aja?" Yuvi masih sibuk dengan pekerjaannya di depan kompor.


Axel melihat cucian yang belum sempat dijemur. "Ah, ini biar aku yang jemur."


"Nggak usah, nanti malah membuat baju kerjamu basah ..." ucap Yuvi tetapi wajahnya tampak sumringah.


"Airnya kan udah kering? Nggak akan basah kok." Axel mengangkat cucian itu menuju area yang telah dijadikan sebagai lahan untuk menjemur pakaian. Ketika sedang asik menjemur pakaian, terdengar seseorang yang muda berpakaian biasa bertanya-tanya kepada tetangganya.


Entah kenapa ia merasa tertarik. Hal ini membuatnya begitu saja turut serta mendengarkan perbincangan dari jauh sambil menjemurkan pakaian bersih itu.


Ternyata, pemuda itu sedang mencari kerabatnya, bertanya kepada ibu-ibu yang sedang belanja sayuran dengan pedagang sayur keliling. Pemuda itu memegang sebuah benda yang terbuat dari kertas.


"Saya mencari paman saya yang tinggal di perumahan ini. Kalau boleh tau di mana lokasi blok K? Paman saya, adalah adik dari ayah, yang telah lama tidak bertemu. Namun, ayah meminta saya untuk segera mencarinya." tanya pemuda itu kepada para ibu muda yang sedang berbelanja sayuran.


"Blok K? Apa ada blok K ya di kompleks ini?" tanya seorang ibu kepada yang lain.


"Saya rasa, kompleks kita tinggal ini hanya sampai blok J," jelas ibu muda yang lain.

__ADS_1


"Waah, begitu ya, Bu? Sepertinya saya salah alamat ya?" tanya pemuda itu lagi. Lalu mata pemuda itu liar memandangi segala arah. Ia menangkap pria berpakaian rapi sedang menjemur pakaian.


__ADS_2