
Arsen menarik kerah pakaian Axel yang sudah tengkurap di lantai lift, langsung memiting tangan Axel dari belakang dengan sekuat tenaga.
Axel telah berada dalam keadaan terjepit dan kesakitan. Ia mencoba membuka jepittan tangan dan kaki Arsen.
Ting
Pintu lift terbuka dan Axel langsung menarik tangan Arsen yang sudah menjempitnya lalu membanting tubuh Arsen dengan sekuat tenaga. Hal ini membuat orang yang hendak masuk ke dalam lift tersebut kaget.
"Why are you fighting here? If you want to compete in strength, just get into the ring!" (Kenapa kalian bertengkar di sini? Kalau ingin adu kekuatan, naik ke atas ring saja!)
Axel segera keluar dari lift tersebut dan berlari menuju tangga tertatih turun dua lantai ke tempat Mila berada. Arsen yang sudah terpental jauh, turun cepat melewati tangga yang sama.
Ia mencari posisi keberadaan Axel, tetapi ternyata lawannya itu sudah berada pada lantai tempat Mila berada. "Siiaal!" Arsen berlari menuruni tangga dan membuka pintu mencari keberadaan Axel.
buuugh
"Aaagghh!" Kali ini Arsen yang ambruk. Axel berlari mengembalikan tongkat softball yang ia pinjam dari seseorang yang berpakain olah raga itu dengan lengkap.
"What are you doing?" (Apa yang kamu lakukan?) tanya pria itu protes saat melihat pria tergeletak setelah dipukulnya.
__ADS_1
"Stay away! He's a psychopathic criminal." (Pergi lah! Dia pelaku kriminal psiko!) Axel mendorong pria itu segera menjauh dari lokasi.
"Really?" ungkapnya tampak tak percaya.
Axel tak lagi memedulikan pria berpakaian softball tadi. Ia melirik Arsen sejenak yang masih lumpuh setelah mendapat pukulan kuat di bawah tengkuknya. Axel pun segera mencari nomor rumah keberadaan Mila.
Tak lama, ia menemukan pintu dengan nomor yang sama. Ia melirik Arsen mulai berusaha untuk bangkit ditolong oleh pria yang memakai seragam softball tadi. Dengan tidak sabar, Akel menekan tombol bell rumah tersebut.
"Mama, ada orang yang mau bertamu ke sini," ucap Aziel mendengar suara bel yang tidak berhenti berbunyi.
Mila sedang berada di dalam toilet. Ia yang masih berkonsentrasi mengeluarkan hajat di dalam toilet, memilih untuk diam melanjutkan yang sudah setengah jalan.
"Mama! Ayo, Ma! Kita ada tamu, Ma. Orangnya sudah tidak sabar ingin ketemu dengan kita." Aziel pun tak berhenti memukul-mukul pintu tersebut.
Mila memasang wajah kesal, padahal ia mengalami konstipasi semenjak tinggal di negara ini. Selain faktor kehamilan, di sini mereka jarang mengonsumsi sayuran.
Pintu toilet tak berhenti digedor oleh Aziel, membuat ia terpaksa mengakhiri segala. Mila pun membuka pintu toilet tersebut. "Kenapa sih, Ziel? Mama lagi nanggung juga ah?"
Mila akhirnya mendengar suara bel yang terus berbunyi tanpa henti. "Siapa sih? Kenapa tidak sopan begitu?" Mila segera berjalan menuju pintu masuk dan membukanya.
__ADS_1
Saat membuka pintu, ia hanya melihat pria berpakaian softball tergeletak di atas lantai. "Aaaaggghhh!" teriaknya.
Interpol yang melihat lift berhenti pada lantai di mana Axel dan Arsen keluar tadi, turut mengejar sampai ke lantai yang sama? Namun, mereka tidak menemukan siapa pun selain warga yang tinggal di apartemen ini.
"Where are they?" (Di mana mereka?)
Para interpol pun menghubungi kawanannya yang memantau CCTV.
Sementara itu, di bagian lain, Arsen menyeret Axel yang sudah tidak berdaya dengan satu tangan. Pada bagian pelipis Axel, terlihat darah segar, dan tangannya yang lain memegang tongkat softball yang berhasil direbut dari pria bule tadi.
Axel mencoba untuk tetap sadar meraih tangan yang menyeretnya itu. Namun, karena pukulan pada bagian kepalanya tadi, membuat tubuhnya seolah tak berdaya. Axel tidak sanggup menggerakkan tubuhnya.
"Kali ini, tamat lah riwayatmu!" Arsen menyeringai melihat deretan anak tangga yang tersusun rapi hingga ke lantai dasar.
"Ja-jangan!" rintih Axel mencoba melepaskan diri mengangkat tangan itu ingin memukulnya yang menyeret dirinya bagai onggokan sampah. Namun, apa daya ... tangan Axel hanya bergetar terasa berat.
"Setelah kamu mati, maka aku berhak memiliki Mila seutuhnya."
"Ja-jangan mimpi!" Axel kembali mencoba mengangkat tangannya dengan sekuat tenaga, mencoba untuk memukul Arsen dengan tenaga yang benar-benar lemah.
__ADS_1
"Selamat tinggal!" Arsen pun mendorong Axel menuju anak tangga.