Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
83. Hilang


__ADS_3

Saat di dalam rumah, ia mendapati suaminya telah menyantap makan siang seadanya, bersama bocah yang ada di sampingnya. "Maaf, aku buru-buru. Makanya aku makan duluan."


"Huuufft, ternyata Aziel udah ada di sini? Mama khawatir tadi mencari ke mana-mana tapi gak ada."


Aziel hanya menjawab Yuvi dengan cengiran. Mulutnya masih penuh oleh sisa makanan.


"Dia langsung keluar waktu aku mulai makan. Katanya lapar juga." Axel kembali menyuapi bocah itu makan dari tangannya.


"Oh, syukur laaah."


"Ayo duduk di sini." Axel menarik kursi untuk istrinya.


"Giliran Mama yang disuapin ya, Cah?"  Bersiap menyuapkan Yuvi.


"Tapi Aziel belom kenyaaaang ...." Aziel menarik tangan Axel memasukan makanan yang ada di tangan Axel ke dalam mulutnya.


"Oke, kalau begitu Mama makan sendiri ya? Papa Axel nyuapin si sulung dulu."


Yuvi hanya tersenyum memperhatikan suaminya lebih sibuk menyuapi Aziel dibandingkan memasukan makanan ke dalam mulutnya sendiri. Akhirnya, Yuvi memindahkan makanan masuk ke dalam piringnya, menyuapkan sang suami.


Seperti janjinya, Yuvi menghampiri tetangga setelah suaminya kembali ke kantor. Tidak hanya itu, Yuvi ikut membawa Aziel untuk main, siapa tau mereka memiliki anak seusia Aziel.


"Umurmu berapa? Saya lihat masih cukup muda ya? Tapi anak kalian sudah cukup besar." tanya tuan rumah bernama Hani.

__ADS_1


Semua tetangga yang penasaran terhadap Yuvi, dipanggil oleh Hani untuk datang ke rumahnya.


"Iyah, kayaknya sama-sama pasangan muda nih." timpal Kiky.


Yuvi tidak pernah berpikir menanyakan berapa usianya kepada sang suami. Yang dia tahu, dirinya hadir sebagai istri seorang Axel.


"Usia kami sudah empat puluh tahunan kok," jawabnya asal.


Semua yang mendengar tercengang dan tidak percaya.


"Yang bener? Kamu bohong ya? Masa iya kamu paling suhu di antara kami semua?"


Yuvi mengangguk kikuk menggaruk pelipisnya. "Iya, bener."


"Waah, pakai skincare apa dong? Kasih tau kami." serobot Kiky antusias.


"Lalu, Aziel mirip siapa? Kok nggak mirip dengan kalian sedikit pun?" tanya Hani kembali.


"Oh, dia mirip sama keluarga ayahnya," ucap Yuvi asal lagi.


"Bener juga sih, anak bisa nggak mirip dengan orang tua kontannya. Bisa saja mirip sama buyutnya atau yang lain. Tapi, yang penting nantinya Aziel itu akan jadi idola para wanita."


Rumah itu menjadi heboh dan takjub memberondong Yuvi dengan pertanyaan-pertanyaan tambahan. Mereka ingin terlihat muda seperti Yuvi juga. Sehingga, mereka mengabaikan anak-anak yang asik sendiri di luar sana.

__ADS_1


Usai perbincangan pengenalan tersebut, semuanya mulai memandang hormat kepada Yuvi, yang dianggap paling senior.


"Kalau begitu, saya pulang dulu." Yuvi melambaikan tangannya keluar dari rumah itu.


Matanya mulai liar mencari bocah yang selalu ada di sekitarnya tadi. "Aziel?"


Satu per satu anggota ngerumpi keluar dari rumah itu. Mereka memanggil nama anak yang tadinya dibawa.


"Kemana Cika ya? Tadi dia main-main di sini bareng anak yang lain." gumam Kiky.


"Iya, tadi Aziel kayaknya main sama-sama mereka juga aku dengar." Yuvi mulai bergerak melirik ke segala arah.


"Aziel?"


"Cika?"


"Feby?"


"Evan?"


Yuvi mengira Aziel melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan tadi, segera mengecek ke rumahnya. Namun, pintu rumah dalam keadaan terkunci. Wajah Yuvi memucat dengan seketika.


"Aziel? Kamu ke mana, Nak?"

__ADS_1


Kaum ibu tersebut mulai sibuk mencari anak mereka. Keempat anak mereka yang bermain bersama hilang begitu saja bagai ditelan bumi.


****************


__ADS_2