
"Bagaimana jika hal ini terjadi pada istri Anda, Pak? Apakah akan tetap berpangku tangan?" tanya Akel kembali.
Arifin menghela napas panjang. "Huuff ...." Ia tampak kebingungan dengan pertanyaan intimidasi yang dilemparkan oleh Axel barusan.
Arifin diam merenung dengan urat pada pelipisnya bergerak karena turut merasakan apa yang dirasakan pria berprofesi sebagai pengacara ini. "Baik lah, saya akan mencoba menghubungi pusat bidang inteligen."
Axel dengan cepat menyalami Arifin dengan wajah haru. "Terima kasih, Pak." Meskipun bukan bidangnya, ia memahami maksud dari Arifin tersebut, yang akan meminta bantuan ke tingkat yang lebih tinggi lagi.
Pada malam harinya, Axel berpamitan kepada orang tuanya. "Pa, aku akan pergi ke Amerika sejenak."
Nana sang ibu tampak heran dengan kepergian tiba-tiba sang putra sulungnya ini. "Ngapain kamu ke sana? Kenapa tidak ajak Mama?"
Axel menatap sang ibu dengan wajah datar. "Ini semua karena Mama."
Nana tersentak oleh tuduhan putranya ini. "Kenapa malah nyalahin Mama sih? Mama cuma ingin diajak jalan-jalan ke Amerika juga."
"Aku ke sana bukan untuk bersenang-senang, Ma. Aku ke san untuk menjemput istriku."
Nana tertawa lirih mendengar ucapan sang putra. "Kamu jangan mengada-ada Xel. Tak mungkin kamu menjemput istrimu? Mungkin saja dia sudah menunggu antrian, entah di pintu surga, atau mungkin nera—"
__ADS_1
"Ma, aku mohon Mama hentikan untuk terus menghin4 istriku. Aku harap Mama menghargainya sebagai anak Mama juga. Dia itu istriku. Aku sangat mencintainya. Dan ia, sedang mengandung anakku."
Nana memutar bola matanya tak percaya dan menerima penjelasan Axel. "Dia hamil? Masa sih? Bukan kah kalian sudah lama tidak berjumpa? Atau jangan-jangan dia hamil anak orang lain?"
"Ma, jika Mama begini terus. Jangan salahkan jika nanti, saat aku berhasil membawanya pulang, aku tak akan menginjakan kaki lagi di sini sebelum Mama meminta maaf padanya." Axel pergi, kali ini tidak memedulikan apa lagi yang terucap dari mulut sang ibu.
Beberapa waktu kemudian, Axel sudah duduk di bangku pesawat terbang yang akan membawanya ke New York. Pihak penyidik dari kepolisian negara dan badan inteligen kejaksaan agung turut berangkat bersamanya. Mereka telah menghubungi National Central Bureau (NCB) INTERPOL Indonesia yang berada di dalam struktur organisasi Divisi Hubungan Internasional, Polri, yang ada di Amerika.
"Sayang, seperti janjiku ... aku akan menjemputmu meski ke ujung dunia sekali pun."
Sementara di benua yang jauh itu, Mila sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka bertiga. Hari ini adalah hari pertama Arsen bekerja sebagai dokter di kota New York. Arsen tidak berhenti memikirkan tingkah Mila yang terasa sangat aneh tadi malam.
"Nah, makan dulu. Pagi ini aku memasak omelet sebagai menu sarapan pagi. Kalau belum kenyang, boleh dimakan sama roti."
"Sudah aku katakan, tadi malam itu aku sangat haus. Udara di sini itu kering!" Mila memutar bola matanya tidak berani menatap Arsen yang dingin.
Mila mengalihkan perhatian menaruh dua keping roti di sisi omelet yang ia serahkan kepada Arsen. Arsen dalam diamnya menerima dan memasukkan omelet tersebut ke dalam roti. Ia terus memperhatikan gerak gerik Mioa.
"Aziel mau pakai roti juga?" tanya Mila duduk di samping Aziel masih membuang muka dari tatapan Arsen.
__ADS_1
Aziel menggelengkan kepalanya. "Mau omelet aja," ucapnya. Aziel mengambil garpu dan benda itu malah jatuh ke bawah meja.
"Maaf, Ma ... Aziel ga sengaja." Aziel beringsut untuk turun.
"Tidak usah! Biar Mama yang mengambilkan." Mila merasa lega bisa mengalihkan pandangan dari wajah Arsen. Ia membungkukkan tubuh memungut garpu yang tergeletak di lantai tersebut.
Matanya membesar saat melihat potongan kecil kertas di lantai, tepatnya dekat kaki Arsen. Mia turun sepenuhnya dan hendak merangkak turun di bawah meja.
"Apa yang kau lakukan?" bentaknya lagi.
Mila tersentak mendengar suara Arsen. Ia membatalkan niatnya mengambil potongan kertas tersebut. Mila bangkit dan memamerkan garpu yang baru saja dipungutnya dengan wajah kikuk.
"Mama cuci dulu garpunya, ya." Mila bangkit hendak beranjak.
"Tidak usah! Kamu ganti sendok yang lain aja!" titah Arsen.
Mila mengangguk dan mengganti garpu yang baru menyerahkannya kepada Aziel. Tanpa ia sadari, matanya kembali mencuri pandang pada potongan kertas yang berada tidak jauh dari kaki Arsen.
"Kenapa kamu terus melihat ke arah kakiku?"
__ADS_1
Mila menggelengkan kepala dengan cepat dan menyantap makanan yang ada di atas meja. Tak lama kemudian, Arsen berangkat tanpa banyak bicara.
Ia segera menuju rumah sakit dengan sedikit tergesa. Tanpa ia sadari, pergerakannya sedang dipantau oleh beberapa pria berseragam di dalam sebuah kendaraan.