
Sebuah teriakan yang bisa didengar oleh semua orang, membuat kepala para pengunjung Namsan Tower refleks berputar ke arah sumber suara.
Meskipun Axel sudah mulai menuruni anak tangga, tetapi suara itu begitu jelas mengingatkannya pada sebuah suara yang selalu ia rindukan di setiap panggilan suara. Namun, Axel terus berlogika menggelengkan kepalanya.
'Tak mungkin! Tak mungkin dia berada di sini. Ini hanya sebuah kebetulan nama mereka sama dan suaranya juga sama,' batinnya. Axel melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga satu demi satu.
"MAS AXEEEL ... AKU MENCINTAIMU! KENAPA KAMU MENGHILANG?"
Degh
Refleks kepala Axel melirik ke bagian atas. Dengan jelas, dalam teriakan itu menyebut namanya.
"Axel? Bukan kah itu namamu?" tanya Brade.
"Yang bernama Axel kan sangat banyak." Axel masih mencoba melawan dengan logikanya.
'Tak mungkin itu Yuvita, snow white-ku. Ini Korea, bukan Indonesia.'
Dari bagian atas tangga, terdengar langkah cepat yang tergesa. Axel dan Brade menatap bagian atas ada dua sosok gadis berlari menuruni anak tangga.
"Kamu ini bikin malu aja! Bisa nggak, perangai udiknya dikondisikan? Ah, bikin malu aja," ucap salah satu gadis tadi berlari menuruni tangga.
"Harap hati-hati! Jangan berlari di tangga!" ucap petugas dari bagian atas dalam bahasa lokal.
Namun, gadis-gadis itu hanya menghiraukan himbauan yang tidak dipahami karena menggunakan bahasa Korea. Sementara itu, gadis berambut panjang sedikit keseleo hingga membuat tubuhnya oleng, berputar, dan ambruk ke bawah.
Gadis itu telah pasrah terjatuh memejamkan mata berdoa di dalam hatinya. Beruntung, Axel dengan cekatan menangkap gadis yang hanya melihat uraian rambut panjang miliknya.
Hap
Axel menangkap tubuh itu. Axel tertegun memandangi wajah gadis yang kini berada dalam dekapannya. Kening gadis itu mengerut menyadari dia tidak jatuh hingga ke lantai dasar, tetapi ada seseorang yang berhasil menangkap tubuhnya.
Yuvi perlahan membuka mata, dan mata itu mulai terbelalak membuka dengan sangat lebar melihat siapa yang ada di hadapannya.
Sementara itu, pria yang berhasil menangkapnya juga mematung tak mengedip sedikit pun.
__ADS_1
"Ah ...." Yuvi segera bangkit dan melepaskan diri dari dekapan pria itu. Ia tidak tahu harus berkata apa, karena pria yang menolongnya ini begitu mirip dengan lelaki yang selalu menghubunginya lewat video call.
"Thanx," ucap Yuvi bingung. Namun, pria itu masih mematung menatapnya dalam diam seribu bahasa.
"Yuvi, kamu tidak apa-apa?" Mili segera mengejar Yuvi memasang wajah khawatir.
"Iya, alhamdulillah aku tidak apa-apa. Aku bingung bagaimana cara bicara dengan orang Korea," ucapnya tersenyum kikuk melirik pada pria yang menolongnya.
"Kalau tidak salah 'Ghamsahamnida'!" bisik Mili. "Jangan lupa tundukan badan," tambah Mili.
"Oh iya." Yuvi segera menundukan badannya. "Ghamsahamnida," ucapnya.
Namun, pria itu langsung memeluk tubuhnya. Yuvi tertegun oleh pria yang sangat mirip dengan mantan kekasihnya dulu. Dia ingin menolak, tetapi tubuhnya menjadi kaku, tak bisa menolak pelukan hangat itu.
"Yuvita?" ucap pria itu.
Seketika, kepala Yuvi tegak menatap wajah pria yang baru saja menyebut namanya. Kedua mata mereka beradu pandang.
"Mas Axel?" ucapnya terbata.
Axel mengusap rambut panjang milik Yuvi. "Jadi, benar ini kamu? Snow white-ku?" bisiknya menarik dagu Yuvi.
Air mata Yuvi menetes begitu saja. Ia tak menyangka, rindu yang teramat besar itu akhirnya berlabuh pada tempat yang tak pernah ia duga.
Namun, tiba-tiba ia teringat pada moment di mana hubungan mereka berakhir. Ia menyadari, saat ini mereka bukan siapa-siapa lagi. Dengan cepat ia menarik tubuhnya dari pelukan Axel.
"Maaf," ucapnya. Kali ini raut wajahnya terlihat berubah. Axel menarik tangan Yuvi, tetapi ditepis olehnya.
"Bro, sepertinya kalian saling mengenal?" sela Brade yang sedari tadi menjadi penonton.
"Oh, ya. Kau boleh duluan. Saya ingin berbicara dulu dengannya," ucap Axel.
"Oke, kalau begitu sampai jumpa," ucap Brade melambaikan tangan dan berlalu meninggalkan mereka.
"Ah, aku juga harus pergi," ucap Yuvi memasang wajah kesalnya menarik Mili pergi melanjutkan langkah mereka menuruni tangga.
__ADS_1
"Eh, kok?" Mili mengerutkan keningnya. Karena ia menyadari ada sesuatu yang tidak ia ketahui antara Yuvi dan pria yang mereka temui di negeri gingseng ini.
"Yuvita, tunggu!" Axel mengejar dan akhirnya mendahului langkah Yuvi.
"Maaf, Mbak. Saya pinjam Yuvita dulu ya?" pintanya kepada Mili.
"Oh, ya ... Silakan," ucap Mili kikuk.
Axel menarik tangan Yuvi, tetapi gadis itu kembali mencoba untuk melepaskan tangan Axel. Namun, Axel dengan erat menggenggam tangan Yuvi.
"Lepaaas!" ucap Yuvi.
"Kita harus bicara!" ucap Axel.
"Tidak ada yang harus kita bicarakan lagi, semenjak kamu memutuskan aku!" ucap Yuvi terus memberontak.
Axel merasa geram akhirnya memegang kedua pundak Yuvi. "Bukan kah kamu yang minta putus? Kamu yang terus curiga padaku? Kamu yang mengganti kontak tanpa pernah menghubungiku lagi. Kenapa kamu malah menyalahkan aku?"
Yuvi membuang muka. "Harusnya kamu bujuk aku! Aku suka jika kamu bujuk seperti biasa. Namun, bukannya membujukku, tapi malah mengucapkan kata 'terserah' dengan huruf besar semua. Itu tandanya kamu juga ingin mengakhiri kisah kita! Dasar laki-laki pembo—"
Axel menarik Yuvi kembali masuk ke dalam pelukannya. "Maaf ... Maafkan aku. Aku terbawa suasana. Aku tak cukup dewasa menghadapimu. Maafkan aku," bisik Axel memeluk Yuvi dengan erat.
Dalam beberapa waktu, di tengah hembusan semilir angin musim semi, menerbangkan kelopak sakura yang mulai lepas dari tangkainya, dua sejoli itu kembali hening menyatukan rindu yang begitu lama mereka rasakan.
Setelah itu, dalam suasana lebih tenang, pada sebuah taman, kedua insan itu duduk pada sebuah bangku taman. Sementara itu, Mili menikmati suasana taman yang dipenuhi oleh bunga warna warni, dengan mengabadikan momen berfoto menggunakan ponselnya.
"Yuvita, aku juga merindukanmu," ucap Axel.
Yuvi memutar kepalanya menatap Axel yang menatap lurus ke depan. "Aku tak merindukanmu," ucapnya ketus, lalu membuang mukanya kembali.
"Aku mendengar saat kamu berteriak tadi. Kamu tak bisa membohongiku." Axel terkekeh mengingat kejadian tadi.
Tiba-tiba, pipi Yuvi merona mengingat kebodohannya tadi. "Jika kamu memang mengetahui itu adalah aku, kenapa kamu tidak menghampiriku dengan segera?"
"Maaf. Tadi aku sempat merasa ragu. Namun, aku sungguh bahagia jika orang itu ternyata memang kamu." Axel menarik tangan Yuvi kembali, menautkan jemari di tangannya yang besar di antara jemari-jemari mungil milik Yuvi.
__ADS_1
"Kamu hadir tepat di saat aku mengharapkan kita bisa menikmati suasana ini berdua. Kamu tahu, tak sedetik pun hariku terlewat tanpa memikirkanmu. Sedari dulu aku ingin menghubungimu kembali, tetapi tak kunjung nyambung. Apa kamu mengganti kontak atau sengaja memblokir kontakku?"