
Yuvi merasa kecewa mendengar kabar tersebut. Ia merasakan kegundahan di hatinya, tetapi ia mencoba untuk tetap tenang dan menghibur majikannya.
"Mungkin mereka khawatir tentang keadaan dan kesehatan Anda, Nyonya. Kita bisa mencari alternatif lain atau mengajak mereka berbicara agar mereka mengerti bahwa perjalanan ini juga penting bagi Anda," ujar Yuvi dengan lembut.
Nyonya Hong menghela nafas berat. "Aku hanya bercanda. Mereka tidak mengizinkanku untuk pergi denganmu ke Seoul. Akan tetapi, jika kamu ingin pergi, aku tidak akan melarangmu untuk berlibur." Nyonya Hong terkekeh usai mengerjai Yuvi.
Yuvi merasa lega dan senang mendengar perkataan Nyonya Hong. Ia tidak bisa menahan kegembiraannya dan langsung melompat ke udara, menunjukkan ekspresi kegirangan yang tak terbendung.
"Benarkah, Nyonya? Anda serius? Nanti Anda bagaimana?" tanya Yuvi dengan penuh antusias.
Nyonya Hong tertawa melihat reaksi Yuvi yang bersemangat. "Hahaha, tenanglah, Yuvi. Tentu saja kamu boleh pergi ke Korea. Kamu tak usah memikirkan aku. Sebelum kamu ada, aku masih bisa mengurus diri sendiri. Paling tidak, mungkin anak-anakku akan mengajak untuk tinggal dengan mereka untuk sementara," ucap Nyonya Hong.
Wajah Yuvi berubah menjadi campuran kelegaan dan sedih karena tidak bisa pergi dengan wanita baik itu. Ia menghampiri Nyonya Hong dan memeluknya dengan erat. "Terima kasih, Nyonya! Anda sungguh luar biasa! Anda tak ada bedanya dengan Ibuk Bapak yang ada di kampung. Saya sangat berterima kasih karena diberi kesempatan untuk liburan ke sana, meskipun tanpa Anda."
Nyonya Hong membalas pelukan dengan hangat. "Semenjak kamu hadir di sisiku, kamu tak ada bedanya seperti anakku. Kamu adalah bagian dari keluargaku, Yuvi. Aku ingin kamu bahagia dan memiliki pengalaman baru. Pastikan kamu menikmati perjalananmu dan jaga dirimu dengan baik di sana."
Yuvi melepaskan pelukan dan tersenyum lebar. "Saya berjanji, Nyonya. Saya akan menjaga diri dan tetap berkomunikasi dengan Anda. Terima kasih atas kebaikan dan dukungan Anda. Saya sangat beruntung bisa bekerja untuk Anda."
Nyonya Hong mengusap lembut pipi Yuvi. "Aku juga beruntung memiliki ART seperti kamu. Sekarang, ayo kita atur semuanya untuk perjalananmu ke Korea. Kita akan membuatnya menjadi pengalaman yang tak terlupakan!"
__ADS_1
Momen itu menjadi bukti nyata betapa eratnya hubungan antara Yuvi dan Nyonya Hong, dan bagaimana mereka saling mendukung dan memperlakukan satu sama lain dengan penuh cinta dan kebaikan. Yuvi merasa sangat beruntung memiliki majikan seperti Nyonya Hong yang tidak hanya memperlakukaninya sebagai ART, tetapi juga sebagai anggota keluarga. Ia bersemangat untuk perjalanan ke Korea dan berharap dapat membuat Nyonya Hong bangga dengan pengalamannya di sana.
Saat hari keberangkatan tiba, Nyonya Hong dan Yuvi saling berpelukan erat. "Selamat jalan, Yuvi! Nikmati setiap momen di sana dan jangan lupa mengirimi aku kabar tentang petualanganmu," kata Nyonya Hong dengan senyum bahagia.
"Terima kasih, Nyonya! Saya akan menjaga diri dengan baik dan pasti akan memberitahu Anda tentang semua hal yang saya alami di Korea," ucap Yuvi dengan suara penuh semangat.
Mereka berdua saling melambaikan tangan saat Yuvi berangkat ke Korea. Yuvi merasa bersemangat dan bersyukur atas kesempatan ini. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat perjalanan ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan, sekaligus memberikan yang terbaik bagi Nyonya Hong yang selalu ada untuknya. Yuvi berangkat dengan teman-teman Indonesia yang juga diberi kesempatan yang sama oleh majikannya.
Di Korea, Yuvi menghadiri festival musim semi dan menjelajahi tempat-tempat menakjubkan. Ia mengirimkan pesan, foto, dan cerita kepada Nyonya Hong setiap kali ia menemukan sesuatu yang menarik. Setiap kali, Nyonya Hong memberikan tanggapan hangat dan semangat yang membuat Yuvi merasa lebih dekat dan dihargai.
Ketika Yuvi kembali dari perjalanannya, mereka bertemu dengan senyuman besar di wajah mereka. Yuvi membagikan pengalaman-pengalamannya dengan penuh antusiasme, dan Nyonya Hong dengan hangat mendengarkan setiap detilnya.
"Kamu juga luar biasa, Yuvi. Aku senang melihatmu bahagia dan memiliki pengalaman berharga di Korea. Seperti yang sudah aku katakan, kamu sudah menjadi bagian penting dari hidupku," ujar Nyonya Hong dengan penuh kasih sayang.
"Tunggu aku ya, Nyonya. Aku janji akan membawakan benda unik yang ada di kota ini." Yuvi memutuskan sambungan telepon videonya dan melanjutkan perjalanannya dengan Mili, teman sesama TKW yang dekat dengannya.
Di sisi lain, Axel merenung menatapi bunga sakura yang bersemi di negeri gingseng itu. "Yuvi," gumamnya. Ia mengingat setiap pesan dan video call tentang kekasihnya itu.
Semenjak ia memutuskan mengakhiri kisah jarak jauhnya dengan Yuvi, Axel bagai kehilangan gairah. Kadang, ia ingin memutar waktu kembali pada masa ia mengetik kalimat untuk mengakhiri kisahnya dengan Yuvi. Ketika ia mencoba untuk menghubungi Yuvi kembali, tak pernah lagi panggilannya tersambung. Yuvi mengganti kontak ponselnya.
__ADS_1
"Ke mana kamu menghilang? Jika kita masih bersama, mungkin aku akan tetap bisa mendengar suara tawamu. Aku akan memperlihatkan indahnya musim semi di sini. Ah, seandainya saja aku tidak mengambil program ini, mungkin aku akan segera berlari ke tempatmu berada. Aku sangat merindukanmu."
Axel merenung sendirian usai perkualiahannya sebagai mahasiswa internasional, program pertukaran pelajar.
"Ayo sini! Di sini view-nya bagus sekali!" ucap salah satu dari gadis yang menggunakan Bahasa Indonesia.
"Ah, ada orang Indonesia di sini," gumam Axel menatap dua gadis yang terlihat sangat ceria.
Degh
Jantungnya terasa berdenyut hebat melihat satu gadis belia berambut panjang. "Ah, mungkin aku terlalu merindukannya. Sehingga semua wanita terlihat sangat mirip dengannya," gumam Axel terus memperhatikan dua gadis itu.
Namun ternyata, gadis yang ia tatap juga membalas tatapannya. Pandangan mereka saling bersatu dan tak berkedip.
"Ayoo, ngapain sih bengong? Kita belum ke sana!" Gadis yang bersamanya menarik gadis yang bertatapan dengannya.
Axel melihat gerakan bibir itu seolah memanggilnya.
"Mas?"
__ADS_1
Axel mematung merasakan sebuah fatamorgana yang tak terduga di negeri asing ini, menemukan WNI. Axel bangkit dan memutar kepalanya mencoba mencari bayangan dua gadis tadi.