Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
9. Periksa Keadaan


__ADS_3

"Kuperingatkan sekali lagi! Jangan mendekat!" Jemari telunjuk Arsen mengacung menunjuk ke atas. Napasnya jelas terdengar memburu.


Arsen menarik Mila kembali naik ke dalam kendaraan mewah yang terparkir tak jauh dari mereka. Axel menatap panjang pada kendaraan yang membawa orang-orang tadi pergi tanpa pamit. Tangannya tergenggam erat dan segera berlari kecil menuju kendaraannya yang terparkir.


Axel menginjak gas dengan secepat ia mampu berharap bisa menyusul kendaraan tadi yang membawa wanita yang ia dengar bernama Mila. Namun, ternyata kendaraan tersebut telah menghilang tampa jejak.


Bak


Bak


Bak


Akel memukulkan setir kendaraannya dengan penuh amarah. "Sial! Kenapa dia selalu menghalangiku untuk mendekati dia? Apa yang disembunyikan?"


Pada kendaraan lain, Arsen menyeringai puas merasa keberuntungan berada di pihaknya. Setelah memastikan kendaraan mereka aman, Arsen menyandarkan dirinya pada sandaran jok mobil super nyaman yang ia duduki.


"Apa Tuan mengenal orang tadi?" tanya Mila memandangi Arsen dengan penuh tanda tanya.


Arsen kembali memasang raut datarnya. "Tidak, dan tidak ingin mengenalnya."


Sementara itu, Mila diam-diam merasakan debaran hebat pada jantungnya. Tanda tanya menghiasi dirinya, penasaran pada pria tampan tadi. Namun, ia memilih bungkam tak menceritakan apa yang ada di dalam hatinya saat ini.


Pada malam hari, Arsen menyandarkan dirinya pada sandaran ranjang yang telah ditopang oleh sebuah bantal. Ia teringat akan kekonyolan yang tadi ia lakukan.


"Kenapa aku bisa begitu? Harusnya aku biarkan ia kembali pada keluarganya," desis pria bermata coklat perawakan tegas yang menyembunyikan sisi manis yang tenggelam oleh kegelapan hatinya. Ia menatap foto mendiang istri.


"Dia itu adalah tabungan kami, jika tidak ada lagi yang bisa kami ambil, mungkin organ miliknya bisa jadi pilihan terakhir," jawabnya sendiri.


"Kenapa wanita itu ikutan mual? Sepertinya dia harus diperiksa. Sebagai calon mangsa, dia harus sehat. Tidak boleh kurang satu apa pun," gumamnya lagi.

__ADS_1


'Apakah dia sedang hamil?'


Dalam pikirannya, terngiang pertanyaan pria siang tadi. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Arsen segera menuju ke kamar Aziel. Di mana, Mila dipastikan sedang menemani putranya itu.


"Aziel mau Mama Mila menemani kami untuk selamanya. Aziel sayang Mama. Papa juga pasti sayang sama Mama."


Arsen mendengar obrolan sang anak dari balik pintu kamar Aziel. Ia tak tak tahu harus bagaimana cara untuk memisahkan anaknya dari calon mangsa yang menjadi sasaran empuk ini.


"Mama, kenapa diam saja?" Aziel kembali bertanya, karena suara Mila tak terdengar sama sekali.


"Ayo bobo dulu, biar Mama bacakan dongeng sebelum tidur untukmu. Kamu mau baca dongeng tentang apa?"


Arsen hening membisu karena Mila tidak menanggapi ucapan anaknya sama sekali. "Huuufftt ...." Ia menghela napas panjang. "Sepertinya dia memang ingin pergi dari tempat ini," gumamnya lagi.


"Bagus lah! Dengan begitu, aku tak perlu sungkan lagi mengambil seluruh organ miliknya." Arsen membatalkan keinginannya untuk menemui dan memeriksa keadaan wanita yang berada di dalam kamar anaknya itu.


*


*


*


Esok di pagi hari, Mila kembali merasakan gejolak hebat pada dirinya. Ia berlari menuju kamar mandi. "Huweeek ... huweeek ... huweeekk ...."


Di tempat lain, seorang pria terlihat lemas memegangi perutnya yang baru saja mengeluarkan segala hal yang tersimpan semenjak mal. "Huuufft, sampai kapan aku akan terus seperti ini?"


Axel membuka pintu kamar mandi, sang ibu telah menatapnya dengan wajah heran. "Apa kamu tidak berniat untuk memeriksakan diri ke dokter?"


"Jangan pikirkan aku. Mama urus saja urusan Mama sendiri. Sejak kapan Mama memikirkan apa yang terjadi padaku? Sampai tega mengusir istriku hingga kecelakaan maut itu terjadi. Jika tidak begitu, Yuvi pasti akan tetap di sini." Axel menarik handuk, kembali masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Bagaimana pun, kamu itu anak kebanggaan kami. Mama tentu menginginkan kamu memiliki istri dari keluarga terpandang. Masa anak keluarga ningrat seperti kita nikah sama babu luar negeri? Terserah kamu lah! Mau diperiksa atau tidak!" Wanita itu keluar dari kamar sang anak dengan wajah kesalnya.


Axel telah keluar dari kamar mandi. Ia mengunci pintu kamarnya setelah sang ibu keluar. Dalam pikirannya memilih setuju untuk ke rumah sakit. Namun, ia tak mengatakan apa-apa.


Pada mansion keluarga Arsen, pria itu telah berdiri tepat di depan pintu kamar yang ditempati oleh Mila. Dengan jelas, ia mendengar suara Mila yang tak berhenti muntah dengan rasio berat.


Arsen telah rapi menggunakan kemeja dan dasi yang siap dilapisi oleh jas putih. Namun, memilih menunggu seseorang yang ada di dalam keluar dari dalam kamarnya.


"Ck, kenapa dia lama sekali?" Arsen menatap jam yang mengikat pergelangan tangannya. "Lima belas menit menunggu dia, tetapi ia belum keluar juga."


Arsen akhirnya merasa bosan memilih untuk memutar tubuhnya bergerak menuju ruang makan.


Tak


Terdengar suara kunci kamar itu dibuka dari dalam. Arsen pun menghentikan langkah memutar tubuhnya kembali dan menatap wanita muda yang terlihat lesu pucat pasi.


"Ah, Pak Boss?" gumamnya terkejut menyadari kehadiran Arsen.


"Jangan panggil seperti itu lagi!" ucapnya dengan bentakan.


"I-iya, Tuan. Ada apa, Tuan?"


Arsen menatap panjang memandangi wajah sang pengasuh yang telah memutih. Dengan langkah cepat, dokter pemilik rumah sakit swasta itu menarik Mila menuju ruang kerjanya. Di sana ada berbagai peralatan medis sederhana yang selalu tersedia untuk kebutuhan pribadi.


Arsen mengeluarkan stetoskop dan sphygmomanometer atau tensimeter. Stetoskop dipasang pada kedua alat pendengarannya, lalu mengikatkan alat ukur tekanan darah pada lengan Mila.


Mila tidak mengatakan apa-apa mendapat perlakuan seperti ini karena ia menyadari keadaannya memang tidak baik-baik saja semenjak lomba muntah dengan pria asing kemarin.


"Bagaimana siklus menstruasimu?" tanya Arsen.

__ADS_1


__ADS_2