Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
63. Obat Sakit Kepala


__ADS_3

Aziel terlihat ceria menikmati permen yang ukurannya sangat besar. "Papa gak pernah bolehin Aziel makan permen. Tidak boleh makan es krim banyak-banyak. Tidak boleh makan manis-manis. Dan tidak boleh lain-lain. Papa kerjanya marah-marah terus. Tapi, sekarang Aziel dapat permen yang besaaar banget. Makasi ya, Om?"


"Mungkin karena papamu seorang dokter kali ya, jadi banyak larangan. Atau mungkin alasan lain. Sebenarnya memang benar sih. Tapi, sesekali boleh laah." pungkas Axel.


Aziel berlari ke sana ke mari menunggu dua orang yang berjalan sambil bergandengan tangan. Wajah mereka, tak henti memamerkan senyuman, sembari mengawasi Aziel yang asik dengan permennya.


"Begini saja aku sudah merasakan menjadi keluarga utuh. Ada ayah, ibu, dan anak. Hebat ya? Pulang dari Amerika aku sudah membawa keluarga baru dengan lengkap," canda Axel.


Yuvi menghentikan langkahnya. "Bagaimana dengan nasib Tuan Arsen setelah ini?"


"Dia akan diekstradisi kembali ke Indonesia. Prosesnya akan sangat panjang. Dia harus dideportasi terlebih dahulu, agar negara ini tidak memiliki kewajiban untuk membelanya. Hal ini, akan melewati proses yang sangat lama." terang Acel terus melangkah mengikuti Aziel yang berlarian di sepanjang trotoar.


"Apakah kita akan tetap di sini hingga proses Pak Arsen selesai?"


Axel menggelengkan kepalanya. "Ranah yang berkaitan dengan ini sudah terlalu luas. Aku hanya seorang jaksa hukum dari Dokter Diki yang dijadikan sebagai kambing hitam. Bagaimana proses hukum terhadapnya, bukan kuasaku."


Yuvi memijit-mijit kepalanya. "Jadi, karena itu Aziel dilarang nonton tivi oleh Tuan Arsen? Apakah semua ini akan sangat menghebohkan negara kita? Apalagi, tuntutan yang ia hadapi sangat lah banyak. Jika Aziel melihat papanya di televisi, mungkin ia akan mengalami trauma psikis."


Yuvi memandangi wajah ceria Aziel yang masih mudah untuk berubah. "Ah, kenapa aku sok ngerti ya?" Yuvi memijit bagian belakang kepalanya yang terasa senat-senut.


Axel merangkul kepala Yuki dengan lengan, menarik lalu mengecup keningnya begitu saja.


"Ah, apa yang kamu lakukan?" tolak Yuvi merasa malu mendapat kecupan tiba-tiba itu.


"Aku sedang mengobati sakit kepalamu," seloroh Axel.

__ADS_1


Yubi menahan senyumnya kembali, ia berjalan mendahului pria yang masih terus menggodanya pada setiap kesempatan yang ada.


"Pelan-pelan aja!" teriak Axel mengejarnya.


*


*


*


"Mama ... ayo kita ke tempat Papa?!" Aziel menarik Yuvi yang duduk di atas ranjang pada sebuah kamar di hotel.


Di sisi lain, tampak seorang pria tergeletak lelah tak terganggu sama sekali oleh kericuhan yang dibuat oleh Aziel.


"Tunggu, Sayang. Lihat Om Axelnya lagi tidur. Sepertinya, dia capek banget."


Yuvi memandang langit yang sudah gelap di luar jendela. "Sekarang istirahat dulu ya? Besok pagi kita ke tempat papa kamu."


"Tapi Aziel mau ketemu papa, sekarang." rengeknya.


"Iya, sabar ya? Kita bobok dulu? Udah malam lho? Nanti ketemu nenek sihir kalau keluar malam-malam." bujuk Yuvi sambil menakut-nakuti.


Hal ini membuat Aziel refleks menutup wajah. "Nggak mau, Aziel takut."


"Ayo, bobok dulu!" Yuvi menepuk pelan kasur empuk kamar hotel yang mereka tempati.

__ADS_1


"Kita bertiga tidur di sini? Bersama Om itu?" Tunjuk Aziel pada Axel yang bernapas dengan teratur.


"Iya, nggak apa. Ini tempat tidurnya gede kok. Aziel di sini!" Yuvi menepuk pelan posisi tengah beberapa kali.


Aziel melirik Axel yang benar-benar pulas dalam lelapnya. "Om bobo dengan nyenyak ya, Ma?"


"Iyah, kayaknya Om itu kurang tidur. Makanya langsung tepar ketemu kasur." Yuvi merebahkan diri mengeloni Aziel.


Saat tengah malam Axel terbangun menemukan dirinya yang tidur sendirian di bagian pinggir. Melihat Aziel yang dipeluk, ia mengernyitkan wajah. Hingga sebuah ide terlintas dalam pikirannya untuk berganti posisi.


Aziel diangkat, ditaruh pada pinggir kepala ranjang dan ia mengambil posisi masuk ke pelukan istrinya.


Sebenarnya ia ingin lebih. Apalagi sudah lama sekali ia berpuasa. Namun, ia melirik istrinya tidur dengan pulas, akhirnya memilih untuk mengalah.


Axel mencium perut Yuvi lalu beralih mencium pipi sang istri. Axel menarik tangan Yuvi, yang masih dilingkari cincin pernikahan mereka dulu.


Axel menopang kepalanya dengan tangan membelai lembut rambut Yuvi yang sedang larut di dalam dunia mimpi.


"Sayang sekali, kita memang tidak memiliki banyak kenangan. Pertemuan pertama kita pun sesaat sebelum menikah denganmu. Ketika aku membawamu pulang, kejadian nahas itu membuat kita semakin menjauh." Axel masih memainkan jemari sang istri.


Lagi-lagi, terlintas sebuah ide. Ia mengambil ponsel memotret tangan mereka yang sama-sama tengah terpasang cincin pernikahan.


Ia segera memosting foto tersebut sebagai story pada sosial medianya.


Akhirnya, kali ini kita bisa melukis kenangan yang belum sempat kita tulis.

__ADS_1


Setelah itu ia tidur memeluk sang istri melupakan Aziel yang tidur di pojokan sendirian.


"Om Axel nakal?" Teriakan Aziel bagai alarm alami membangunkan semua orang di pagi kelam.


__ADS_2