
Arsen menyerahkan benda-benda yang ada pada tangannya kepada tangan kecil Aziel. "Kasih buat dia!"
Aziel meneliti benda-benda yang diberikan Arsen. "Ini apa, Pa?"
"Kasih saja buat dia!"
Arsen tersentak kembali karena benda pipih yang ada di kantong celana, bergetar seolah membuatnya merasa tergelitik. Sejenak ia melihat panggilan tersebut dan beranjak pergi meninggalkan Aziel yang masih bingung.
Arsen menuju ruang kerjanya. "Sudah saya katakan, anak Bapak harus segera menjalani operasi jantung. Semakin cepat, semakin baik!"
"Tapi rumah sakit kalian tidak memiliki stok jantung untuk usia remaja seperti putri saya." Ucap yang di seberang.
"Kalau saya siapkan, Anda berani membayar saya berapa?" tantang Arsen lagi.
"Saya akan membayar berapa pun itu asalkan putri saya Danisha bisa pulih kembali."
__ADS_1
Arsen tersenyum tipis. Panggilan tersebut ditutup beralih melakukan panggilan pada Kano. "Cepat cari mangsa remaja! Malam ini harus sudah ada!"
*
*
*
Pagi ini, Axel mendatangi wilayah kumuh area pembuangan sampah umum untuk menggali informasi terbaru. Ia mendapat kabar, bahwa wilayah ini begitu banyak warga hilang tanpa sebab. Akan tetapi, ia tak pernah kembali lagi setelah sekian lama.
Warga daerah kumuh ini, memilih bungkam dari pada melapor. Apalagi, orang yang tinggal di sekitar sini rata-rata berasal dari luar kota yang gagal mengadu nasib di kota ini. Sehingga, memaksa mereka untuk menjadi pemulung demi memenuhi kebutuhan hidup.
Sejenak, Axel melihat seorang remaja, tengah memanggul karung berisi sampah untuk daur ulang dalam jumlah besar. Ia cukup tertarik pada anak yang cukup gigih itu. Ia melirik jam tangan mewah yang melingkar pada pergelangan tangan.
"Harusnya, jam segini dia dalam jam sekolah," gumam Axel prihatin.
__ADS_1
Briptu Gilang terkekeh mendengar komentar itu. "Bagaimana lagi, Pak Pengacara. Isi perut lebih penting daripada mengisi kepala."
Tak jauh dari tempat itu, dalam sebuah mobil bewarna gelap, terlihat beberapa orang tengah memantau. Leher mereka terlihat panjang mencari para gembel dengan usia masih belia yang menjadi target karena permintaan kostumer hari ini.
Dan mereka menemukan satu sosok yang dicari, seorang laki-laki muda yang memanggul beban di punggungnya.
Kano memberi kode kepada orang-orang yang ikut dengannya, dan mereka pun menganggukkan kepala segera keluar dari mobil.
Remaja tadi adalah Beni. Ia membawa sampah-sampah yang baru saja ia dapatkan menuju ke rumah pengepul langganan untuk dijual. Ia sama sekali tak menyadari bahwa dirinya sedang diikuti oleh beberapa orang yang mencurigakan.
Beberapa waktu usai menimbang berat sampah-sampah yang dikumpulkan, Beni menerima sejumlah uang yang akan digunakannya untuk memenuhi kebutuhannya bersama sang adik.
"Lumayan, ditabung buat sekolah Doni." Senyuman di bibir Beni membawa langkah ringan kembali menuju ke rumah.
Langkah ringan setelah mendapatkan uang hasil penjualan benda-benda yang ia kumpulkan, membuatnya mulai menyadari sebuah keanehan. Beni berhenti, dan merasakan derap langkah yang tadi mengiringinya pun turut berhenti.
__ADS_1
Beni diam sejenak mengerutkan kening memutar tubuh, melihat ke arah belakang. Akan tetapi, tak satu pun yang terlihat.
"Apa perasaanku aja ya?" gumamnya menggaruk pelipis yang tiada henti meneteskan peluh.