Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
42. Bertahanlah!


__ADS_3

Dua orang yang asik menikmati suasana dikagetkan oleh suara Arsen yang muncul tiba-tiba.


"Tuan mencari kami?" tanya Mila.


"Ngapain kalian di sini?"


"Aziel bosan ... Aziel nggak suka di sini. Aziel sama Mama pulang aja ya, Pa?"


Arsen menatap Aziel dan Mia bergantian. "Kenapa baru akhir-akhir ini kamu bosan, hah? Padahal kamu sudah ikut dengan Papa semenjak lahir ke sini."


"Pokoknya Aziel bosan! Aziel mau pulang!" rajuknya.


"Tidak boleh! Kamu harus tetap di sini bersama Mila!"


Aziel melipat kedua tangan membulatkan bibir, membuang mukanya dari Arsen. "Aziel benci Papa!"


Mila melihat tingkah Aziel pun mengusap kepalanya. "Aziel jangan dibentak lagi, Tuan. Dia ini masih sangat kecil."


Sesaat Arsen kembali naik darah mendapat nasihat dari Mila. Namun, melihat wajah Mia membuatnya memilih untuk diam sejenak.


"Bagaimana pun, kalian harus di sini bersamaku. Nanti, kalau udah jam lima sore, akan aku antar pulang seperti kemarin."


Aziel masih dalam posisi bersidekap dada. "Papa jahat! Aziel tidak suka Papa! Aziel cuma sayang Mama Mila!" Amarah yang terus membuncah, membuat anak yang akan menginjak usia enam tahun itu menangis mengejar dan memeluk Mila.


"Sudah ya, Ziel. Tidak boleh begitu. Bagaimana pun, Papa kamu itu pasti sayang sama kamu." ucap Mila menasehati.


"Tidak mau, Aziel cuma sayang sama Mama. Aziel maunya sama Mama aja," tangisnya.


Arsen menarik Aziel dari pelukan Mila. Hal ini membuat tangisan Aziel semakin keras dan membuat perasaan Mila menjadi bercampur aduk.

__ADS_1


"Tidak mau Papa ...." tangisnya di hadapan Arsen.


Arsen menarik Aziel dari pelukan Mila. Tangannya menggenggam erat tubuh Aziel yang sepenuhnya terjepit di dalam genggamannya. "Kamu itu lelaki! Kamu tidak boleh cengeng! Kamu itu calon pemimpin! Sebentar lagi kamu akan sekolah! Jika kamu masih seperti ini, Papa tidak akan menyekolahkanmu di luar! Kamu sekolah di rumah saja!"


"Tidak mau! Aziel tidak mau! Aziel benci Papa!" Tangan Arsen dilepaskan oleh Aziel dan ia berlari menjauh dari gazebo itu.


"Apa tidak bisa Tuan bersikap lebih lembut kepada anak sendiri? Dia akan menyimpan memori setiap kenangan atas perlakuan Anda kepadanya. Jika Anda terus begini padanya, ia bisa meniru perbuatan Anda di kemudian hari."


"Diam kau! Tau apa kau masalah perkembangan anak? Sedangkan,  dirimu sendiri saja kau tidak mengingat apa-apa!" cecar Arsen.


Mila tersentak mendapat hinaan dari Arsen barusan. "Aku memang tidak mengenal siapa diriku ini. Tapi aku tahu, orang yang menjadi ayah bagi anakku ini, adalah pria baik yang tidak seperti Anda."


Rahang Arsen mengeras mendengar ucapan Mia barusan. "Diam kau! Kau hanya wanita yang hamil tanpa suami lalu dibuang! Seharusnya kau berterima kasih kepadaku karena aku sudah menemukan dan merawatmu hingga saat ini."


"Tidak! Ayah anakku orang yang baik!" Wajah Mila mengernyit memegangi perutnya menjepit bibir. Rona dalam raut itu memutih dengan tiba-tiba.


Arsen hening sejenak melihat Mila terlihat kesakitan. "Kamu kenapa? Jangan berpura-pura! Beberapa detik lalu saja masih kuat melawanku!"


"Sa--kit ... sa—kit," ringisnya.


*


*


*


Degh ....


Axel tiba-tiba merasakan desiran hebat di dadanya. Matanya melirik pada bagian rumah sakit yang tak jauh dari posisinya saat ini. Axel merasa debaran jantungnya menyentak hebat dengan tiba-tiba. Tangannya menekan dada yang terasa semakin sakit.

__ADS_1


"Pak Axel, Anda kenapa?" tanya Dokter Farhan melihat orang yang mengajaknya untuk bekerja sama ini, tiba-tiba menjadi pucat pasi.


"Saya tidak apa-apa. Hanya saja saya ingin kembali ke rumah sakit itu saat ini juga."


"Kenapa, Pak? Apa ada merasa sakit? Di sini sudah ada Dokter Farhan yang bisa langsung memeriksa kondisi Anda," ucap Aiptu Leticya.


Axel membuka pintu kendaraan itu, lalu menarik daster yang tadi masih terpasang di tubuhnya. Di dalam daster itu melekat t-shirt dan celana pendek yang sudah dipakainya sebagai dalaman. Ia menarik tas ransel dan mengeluarkan kemeja kerja bewarna putih. Setelah itu menarik celana dasar berwarna gelap langsung disorongkan pada kedua kakinya.


Tanpa memikirkan kerapian pakaian yang ia gunakan, Axel bergerak cepat kembali masuk lewat pintu gerbang rumah sakit tersebut beralaskan sendal jepit. Ia berjalan cepat menuju beranda, dan di sana ia melihat seorang pria dalam jas putih meninggalkan wanita yang terlihat kesakitan pada sebuah gazebo.


"Ck!"


Axel membuang perasaannya yang bercampur aduk dalam keraguan. Arsen telah masuk ke dalam koridor rumah sakit.


Axel berlari kecil mengejar wanita itu dan ... degh ... ia adalah Mila.


"Ka-kamu? Kamu kenapa?" tanya Axel melihat Mila terus memegangi perutnya.


Mila membuka mata melihat kehadiran seseorang. "Perutku sakit," ucapnya menggigit bibir karena kesakitan luar biasa.


Tanpa berpikir panjang, Axel mengangkat lalu menggendong Mila menuju koridor beranda. Pada beranda tadi, tampak Arsen beriringan dengan beberapa perawat yang mendorong brangkar.


"Kau, apa yang kau lakukan kepadanya?" teriak Arsen kepada Axel.


Tanpa mengatakan satu patah kata pun, Axel terus menggendong Mila mengabaikan brangkar yang telah disiapkan berjalan terus masuk ke dalam koridor rumah sakit itu menuju ruang emergency yang sudah dihafalnya.


"Mamaaaaa?" teriak Aziel melihat Mila dalam gendongan Axel.


Axel menempatkan Mila pada salah satu brangkar yang ada dalam ruang darurat dan tangannya refleks begitu saja menggenggam tangan Mila. "Bertahan lah! Semua akan baik-baik saja!"

__ADS_1


__ADS_2