
Aziel menelengkan kepala melirik pria yang dipanggilnya dengan sebutan 'papa' ini. "Masa lalu itu seperti apa?"
"Apa ya? Berarti pada waktu yang telah berlalu. Misalnya nih, dulu kan Mama belum menikah sama Papa. Jadi Mama lupa, kayak apa masa itu. Jadi, kita ke sini buat bantu Mama mengingat semua masa itu."
Aziel menganggukan kepalanya seakan mengerti apa yang disampaikan oleh Papa Axel. Entah benar-benar mengerti, atau hanya sekedar mengangguk saja.
Axel memegang tangan Aziel, membiarkan istrinya berjalan sendirian menilik satu demi satu aksen pada beranda bagian depan rumah yang tak bisa lagi dikatakan sederhana itu. Namun, ia mendapati jendela yang penuh dengan debu. Dua daun pintu menutupi pintu lebar rumah yang berdiri kokoh dan megah.
Yuvi mengetuk pintu rumah tersebut dengan pelan. Namun, ketukan pertama tak kunjung mendapat sahutan dari sang penghuni rumah. Yuvi menoleh kepada suaminya, tetapi sang suami memberi kode agar dia kembali mengulanginya.
Aziel melepaskan genggamannya dari tangan Akel. Ia berlari kecil menuju wanita yang selalu dipanggilnya dengan Mama. Setelah posisi sejajar, Aziel memukul-mukul pintu itu dengan kekuatan yang cukup besar.
"Assalamualaikum ...." Aziel bersemangat menggedor pintu rumah tersebut.
"Jangan terlalu kuat, Cah!" teriak Akel mulai berjalan mendekat.
Yuvi pun mencoba menahan Aziel yang menggedor-gedor penutup rumah tersebut, tetapi terlambat ....
Kruuuuk
Tangan Aziel mengeluarkan suara yang cukup memilukan masuk dan gemetaran. "Maaamaaaaa ...." pekiknya kesakitan.
"Aduh, Mas?" pekik Yuvi mencoba menunduk, tetapi pinggangnya langsung terasa sakit. Ia kembali posisi tegak, memegangi pinggangnya dengan kernyitan di wajah.
Axel yang melihat kejadian tersebut mempercepat langkahnya dan langsung mengecek tangan Aziel memerah. Dengan panik ia berlari ke arah keluar meminta pertolongan.
"Tolong, di mana klinik atau rumah sakit terdekat?"
__ADS_1
Di sisi lain, Yuvi berusaha mengikuti langkah suaminya yang telah menghilang. Dari arah luar halaman, muncul seseorang tua dengan pakaian lusuh.
"Siapa itu? Apa yang terjadi di rumah saya?" Kepala pria yang sedang memakai caping itu sedikit meneleng mencoba lebih fokus pada wanita hamil yang berada di halaman rumahnya.
"Yu-Yuvi? Itu kamu?" Pria yang cukup berumur itu berjalan melempar cangkul dan karung yang dipanggul di pundaknya.
"I-iya ...." Yuvi kebingungan. Kepalanya liar mencari suaminya yang membawa Aziel entah ke mana.
"Yuvi? Ini benar-benar kamu?" Pria itu membuka caping yang menutupi kepala, kali ini memamerkan rambut yang mulai memutih. Ia mendekat dan mendekap kedua pipi Yuvi.
Yuvi tergagu perlahan menggenggam tangan dan menciumnya. Sang ayah langsung mendekap putri yang dikabarkan masuk deretan korban kecelakaan pesawat terbang beberapa bulan lalu.
Yuvi masih terlihat kebingungan, tetapi tangannya yang tadi kaku, kini turut mendekap tubuh kurus, berkulit gelap, terbakar matahari tersebut.
"Syukur lah, alhamdulillah ... kamu selamat." Pria tua itu mengusap punggung putrinya tak kuat menahan rasa haru dan pecah lah air mata membanjiri pipinya.
*
*
*
"Maaf, Bu ... maafkan Yuvi tidak segera kembali ke rumah ini."
Ibu Yuvi mengalami stroke di saat mencari informasi kecelakaan pesawat tersebut. Kedua orang tuanya ini sengaja mencari informasi mengenai kecelakaan pesawat terbang, tetapi mereka malah mendapat kabar buruk. Ketika ingin menghubungi suami anaknya, mereka tak memiliki kontak Axel dan tidak mengenal siapa keluarganya, karena Axel hanyalah menantu dadakan.
Ibu Yuki terlihat meneteskan air mata, tetapi tubuhnya tak bisa digerakan sama sekali.
__ADS_1
Dari arah luar, terdengar sedikit suara. Axel telah kembali membawa bocah yang kini telah berusia enam tahun, dalam keadaan tangan di gips, mengalami patah saat meemuukul pintu tadi.
"Nah, lain kali jangan diulangi lagi ya? Bahaya kan?" ucap Axel mengusap kepala Aziel mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum."
Ayah bergerak keluar menyambut orang yang ia ketahui datang bersama anaknya. Melihat ayah mertunya muncul, Axel segera berlari menyambut tangan sang mertua dan menciumnya.
"Maaf, Yah ... Maafkan saya tidak langsung membawa Yuvi ke sini," sesalnya.
Ayah menepuk bahu Axel dua kali. "Tidak, kamu jangan merasa bersalah begitu. Kehadirannya saat ini saja, merupakan berita luar biasa yang sangat menggembirakan."
Lalu ketiga pria itu bercerita, membiarkan Yuvi bersama ibunya saling melepas rindu. Axel menceritakan semua kejadian hingga berhasil menemuka Yuvi kembali.
"Terima kasih Axel. Ayah bersyukur karena kamu berhasil menemukan Yuvi." Ayah melirik rumah besar yang mereka tempati ini.
"Kamu tahu, rumah ini hampir saja kami jual. Kami tidak memiliki uang untuk pengobatan ibu mertuamu. Biasanya, Yuvi lah yang mengirimkan uangnya kepada kami. Tapi, setelah kejadian itu, kami berusaha memenuhi kebutuhan hidup kembali menjadi buruh tani, para juragan yang memiliki kebun."
"Tak jarang yang mencemooh kami, seorang buruh tani miskin, tinggal di rumah megah buatan Yuvi ini."
...****************...
Yuhuu, maaf yaaa udah telat update. Ini selain ntun yang mengecewakan, juga karena kondisi kesehatan Authornya yang menurun.
Yuuk, mampir yuuuk pada karya temannya Author.
Judul: Terjebak Cinta Mbak-Mbak
__ADS_1
Author: amih_Amy