
"Mamaaaaaa ...." Aziel berlari menuju wanita yang memandangi mereka dengan heran. Namun, bibirnya pun merekah saat melihat siapa yang ada di sana. Mila menundukkan wajah merasa pipinya memanas melihat pria itu tersenyum padanya.
Sejenak, ia merasakan getaran halus dari dalam rahimnya. Ia membelai kembali perutnya yang terasa aneh, di saat melihat pria asing tetapi terasa tak asing.
Sebenarnya dia siapa? batinnya.
"Mama, kenapa tadi lama sekali?" Aziel memeluk Mila dengan erat.
"Iyah, tadi banyak yang harus diperiksa sama Tante Lianinya."
"Tante Liani tidak jahat sama Mama kan?" tanya Aziel dengan polos.
Axel merasa mengenal nama yang disebutkan Aziel barusan. Namun, ia memilih untuk menyimak. Karena baginya Liani adalah sebuah masa lalu.
Mila tersenyum dan mengusap kepala Aziel.
"Mama mirip dengan Om itu deh. Suka ngelus-elus kepala Aziel? Beda banget sama Papa, yang kerjanya cuma marah-marah."
Mila tersenyum kecut membelai pipi Aziel, kepalanya terangkat memandangi wajah orang yang dimaksudkan oleh Aziel. Mila menganggukkan kepala, lalu memutar badan dan pergi.
"Tunggu!" Axel menahan kepergian wanita yang begitu mirip dengan istrinya ini.
"Kalau boleh tahu, namamu siapa?" tanya Axel kembali.
"Tuan Arsen memberiku nama Mila. Jadi, panggil saja aku dengan Mila. Aku ke dalam dulu." Mila menggandeng tangan Aziel masuk menyusuri koridor kembali.
"Tuan Arsen memberiku nama Mila?" Akel mengulangi ucapan wanita itu. "Apa maksudnya?" Axel mengikuti Mila dan Aziel berusaha mengejar mereka.
Akan tetapi, di hadapan Mila dan Aziel telah berdiri pria yang membentaknya tadi malam. Mata pria berjas putih tersebut menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Kau ke sini untuk menggoda istriku lagi?"
Semua orang yang tak jauh dari sana mendengar ucapan Arsen barusan. Beberapa perawat terlihat berbisik setelahnya.
"Jika kamu masih menggoda istri sa—"
"Aku ini bukan istri Tuan!" sela Mila tak rela.
"Aku muak saat Anda mengakui saya sebagai istri Anda!" Mila melirik Axel sejenak, lalu menggandeng Aziel menyusuri koridor menghilang masuk ke dalan sebuah ruangan.
Axel kembali mencerna setiap kata demi kata yang diucapkan oleh Mila tadi. 'Jadi, Mila bukan istrinya? Kenapa dia mengaku-ngaku sebagai suaminya? Atau jangan-jangan ....'
"Kau jangan menggoda istriku! Awas jika mau masih mendekatinya lagi!" Arsen pun memutar tubuhnya menatap para perawat yang tiada henti berbisik.
Saat menyadari wajah datar Arsen menatap mereka dalam diam. Para perawat itu menundukkan wajah. Tak jauh dari sana, Liani mengepalkan tangannya dengan napas yang memburu.
Axel kembali ke unit gawat darurat, di mana ia meninggalkan Beni dan Ron. Beni terlihat tidur di atas brangkar, sedangkan Ron langsung menyambut kehadiran Axel.
"Gimana, Pak?" bisiknya.
Axel mengacungkan jempolnya. "Kita harus meninggalkan tempat ini dengan segera!"
Beni langsung terduduk. Ia menganggukkan kepala, begitu juga dengan Ron.
Arsen memandangi Mila yang sedang duduk di ruang santai. Mila memasang muka masam melirik Arsen. Ia sendiri tidak mengerti alasan menjadi marah setiap Arsen mengatakan bahwa ia adalah istrinya.
"Mama marah sama Papa?" celetuk Aziel menggunakan wajah polosnya.
Mila yang masih terpaku dengan rasa amarah di dadanya, melirik Aziel yang duduk di sampingnya. "Tidak apa, Mama hanya merasa sedikit tidak enak hati," ucapnya asal.
__ADS_1
"Boss! Boss! Gawat!" Seorang pria berpakaian serba hitam yang kontras dengan suasana rumah sakit ini, telah berdiri di dekat Arsen dengah wajah tegang.
Mila mencoba memasang telinganya dengan baik. Arsen pun menyadari bahwa Mila sedang menyimak obrolan mereka.
"Ekhem ... ke sana saja!" Arsen meninggalkan ruang santai yang sedang diisi oleh Mila dan Aziel.
Arsen dan seorang yang memanggilnya tadi, berjalan menuju ke arah belakang. "Ada apa? Kau jangan muncul di hadapan anak saya!"
"Ma-maaf, Boss. Ini masalah genting."
"Kenapa?"
"Anak itu, hilang!"
"APA?" Arsen segera menyusuri bagian belakang gedung utama melewati koridor menuju bangunan khusus yang ia gunakan untuk operasi gelapnya.
Beberapa orang di antara mereka bolak balik keluar masuk bangunan itu dengan wajah panik. Melihat kehadiran Arsen yang memasang wajah marah, mereka semua tertunduk.
"Kenapa kalian ini bodoh semua? Apa yang kalian lakukan hingga anak kecil itu bisa lepas begitu saja?"
"Ma-maaf, Boss. Rencananya kami akan pergi mencari orang yang baru. Namun, setelah Kano mengatakan orangnya telah cukup, kami kembali ke sini. Akan tetapi, saat kami kembali, anak itu sudah tidak ada."
Arsen segera menuju ruang kontrol yang memonitor CCTV yang ada di sana. Saat melihat operator di dalam ruang ber-AC itu tidur di atas sofa yang jauh dari monitor, membuat Arsen menjadi semakin naik darah.
"Bodoh! Kalian semua BODOH dan tidak berguna!" teriaknya hingga oktaf kesepuluh.
Arsen duduk di depan deretan monitor yang banyak itu. Ia mencari bagian-bagian yang mengarah pada bangunan khusus tersebut. Lalu, ia melihat seorang pria yang berjalan menyusuri koridor tersebut.
"Dia?" Arsen menggeram menggenggam tangannya. Ia segera bangkit menuju pada tempat terakhir menemukan pria yang ada di dalam layar monitor itu.
__ADS_1