
Axel mengernyitkan wajah merasa mulai kehabisan kesabaran dan bangkit menarik kerah seragam Brigpol Luki. "Jadi, kamu tidak mengenal si keparat itu?" gertak Axel.
"Pak Pengacara, saya harap Anda tenang! Dia adalah bawahan saya, dan ini adalah wewenang saya."
Axel melepaskan genggamannya dan beranjak menahan bara di dalam hatinya membelakangi mereka menaikkan kedua tangan ke atas piggangnya.
"Katakan dengan jelas, jika kamu tidak ingin jabatanmu dicopot secara tidak hormat!" Suara Komandan Aji terdengar semakin tegas.
Brigpol Luki masih hening meski di dalam kepalanya telah dipenuhi kelumit ketakutan akan hukuman-hukuman yang telah menanti. Namun, ia masih memasang wajah tanpa dosa.
"Apa kamu mengetahui kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang bekerja di rumah sakit itu?"
"Saya tidak tahu, Pak," jawab Brigpol Luki singkat.
Komandan Aji menatap bawahannya dengan panjang. "Jika kamu masih mengelak, ketika semua bukti keterkaitanmu dengan semua itu ada, maka hukuman berat akan jatuh kepadamu."
Brigpol Luki masih diam memasang wajah tenang dan teguh dengan jawaban yang ia berikan.
Axel sudah berdiri dengan kedua tangannya berada di pinggang dengan raut kesal. Ia merasa sudah tidak sabar ingin memuntahkan segala rasa, tetapi ia terkungkung dalam posisi yang tidak tepat, karena ini bukan ruangan persidangan.
"Jika kamu teguh dengan apa yang kamu tetapkan, apa kamu bersedia menerima konsekuensi yang akan kami berikan nanti?" Komandan Aji menyampaikannya dengan tenang.
__ADS_1
"Apa kamu masih ingat dengan kode etik profesi kepolisian?"
Jemari Brigpol Luki mulai bergerak. Namun, ia masih bergeming tanpa suara. Wajahnya tak menyiratkan rasa takut sama sekali.
"Pelanggar yang dengan sengaja melakukan tindak pidana dengan ancaman hukuman pidana penjara empat tahun atau lebih dan telah diputus oleh pengadilan yang berkekuatan hukum tetap; dan b."
"Pelanggar yang melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat tiga huruf e, huruf g, huruf h, dan huruf i."
"Sanksi administratif berupa rekomendasi PTDH sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat tiga huruf a sampai dengan huruf d, dan huruf f diputuskan melalui Sidang KKEP setelah terlebih dahulu dibuktikan pelanggaran pidananya melalui proses peradilan umum sampai dengan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap."
Komandan Aji kembali menyebutkan peraturan yang berlaku dalam kepolisian. "Meskipun kamu bekerja sebagai penegak hukum, kamu harus ingat bahwa tak ada pengecualian jika anggota polri melakukan kesalahan. Apalagi itu dilakukan secara sengaja dan berulang kali!"
Brigpol Luki yang tadinya masih terlihat tenang, kini mulai merasa sedikit gentar oleh gertakan yang terus mengungkit kepada ketetapan-ketetapan yang ia lupakan. Kepala Brigpol Luki mulai bergerak menatap Akel dan bergantian dengan Komandan Aji.
"Lalu, bagaimana dengan selama ini? Sudah kuat dugaan mengenai keberadaanmu di belakang kegiatan terlarang yang dilakulan oleh rumah sakit tersebut. Hingga kamu dengan seragammu, melakukan tindakan yang sangat tercela sebagai seorang brigadir di kepolisian. Kamu telah mencoreng nama baik kepolisian!"
"Tapi saya tidak melakukan apa-apa, Komandan. Saya bertugas sesuai dengan semestinya." Brigpol Luki mulai bersuara untuk membela dirinya.
Komandan Aji melirik Axel yang sudah memasang wajah frustrasi. "Tidak menanggapi pelapor dan tidak membuat laporan atas hasil laporan dari Pengacara Axel, saya rasa itu hanya salah satu kesalahan besar yang sudah kamu lakukan."
Brigpol Luki melirik Axel yang sudah berdiri dengan bermacam gaya karena kesal.
__ADS_1
"Katakan saja, ke mana dia pergi!" Akhirnya, Axel tidak bisa menahan diri lagi.
"Apa yang kamu lakukan jika tahu istrimu dibawa kabur oleh orang lain? Apakah kamu masih bisa setenang ini?" Akel lepas kontrol dan akhirnya mengeluarkan segala yang terkurung di dalam hatinya.
Brigpol Luki terlihat sedikit layu. "Namun, saya memang tidak mengetahui dia pergi ke mana. Saya tidak mengenal siapa pun yang ia kenal. Karena tugas saya, hanya sebagai pengaman jarak jauh saja." Brigpol Luki tertunduk. Akhirnya, ia mengakui kesalahan yang ia lakukan.
Axel kembali menyugar kepalanya dengan kesal. "Aaarrrgghhh!" erangnya merasa sangat kesal.
"Tenang lah, Saudara Axel. Saya tahu bagaimana perasaan Anda. Bagaimana pun juga kami sudah berusaha melakukan pencarian dengan maksimal. Anda tidak perlu khawatir."
"Tidak perlu khawatir? Saya rasa, wajar dengan kekhawatiran. Istri yang selama ini saya cari usai kecelakaan maut itu mengalami amnesia. Ia sedang hamil, dan mengandung anak saya. Bagaimana menurut Anda?"
"Apakah kita masih bisa tenang mengingat segala kepayahan wanita hamil, dalam kungkungan orang jahat? Kalau istri saya menjadi korban kebiadapan yang berikutnya bagaimana? Apakah saya masih harus tenang?"
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan di antara perbincangan yang memanas itu.
__ADS_1
"Masuk!" titah Komandan Aji.
"Pak, kami baru saja menemukan ke mana tujuan jet pribadi itu."