
Mila melakukan panggilan berkali-kali, tetapi panggilan tak kunjung masuk juga.
"Huh, kenapa kasih kontak yang nggak bisa dihubungi?" Akhirnya Mila meletakkan gagang telepon tersebut dan memasang wajah kecewa.
Sementara itu, seseorang memandangi gelapnya langit lewat jendela pada sebuah pesawat yang sedang mengudara. Perjalanan panjang mereka lalui demi melawan waktu selama 22 jam.
"Anda pasti sudah tidak sabar lagi untuk sampai di sana." tanya salah satu perwakilan kejaksaan agung divisi inteligen negara.
Axel tersenyum tipis kembali memandangi gelapnya malam tanpa bintang mengambang di udara yang panjang.
Di tempat lain lagi, seorang wanita terlihat tengah marah-marah memandangi ponsel yang menggambarkan foto seorang pria yang mengenakan jas putih. "Gara-gara kamu, aku harus bolak-balik ke kantor polisi." Perempuan itu memukul-mukul ponselnya.
"Udah gitu, seenaknya aja kamu ninggalin aku sendirian di sini. Jika kamu mengajakku, aku tak akan semarah dan sebenci ini padamu."
"Kenapa kamu malah mengajak wanita sialan itu? Harusnya yang kamu ajak itu aku!" Liani akhirnya melempar ponselnya ke atas ranjang, tetapi ponsel itu terpental dan beberapa detik kemudian terdengar suara benturan. Akan tetapi, Liani tidak memedulikan itu.
"Aaah, siial! Kenapa sulit sekali mencari pria yang tepat? Padahal usiaku ini sudah tidak muda lagi," rutuknya. "Kawan-kawanku yang lain sudah bahagia dengan keluarganya masing-masing."
Liani menghempaskan dirinya ke atas ranjang. "Apa tidak ada lagi pria tampan dan mapan yang mau menjadikan aku sebagai istrinya? Oh iya, aku baru tahu saat ini Axel sudah menjadi seorang pengacara."
"Hmmm ... apa aku kembali saja dengannya? Entah kenapa semakin hari ia terlihat semakin tampan, uangnya pasti sangat banyak." Liani kembali terdiam merenungkan sesuatu.
__ADS_1
"Apalagi aku dengar istrinya sudah meninggal dunia. Dia pasti membutuhkan pengganti." Sejenak, Liani merenung dan beberapa waktu mengacak rambut panjangnya.
"Apa dia mau menerimaku kembali? Tapi, jujur aku lebih suka pada pria yang menantang seperti Arsen. Semakin sulit ditakhlukan akan semakin bahagia bila dibucinin oleh lelaki seperti dia."
Liani merenung teringat kisah cintanya pada masa ia masih menjadi kekasih Axel beberapa tahun yang lalu. Di saat Axel dianggap terlalu baik dan mengekang setiap langkahnya ke mana pun ia pergi.
Hingga akhirnya, Liani memutuskan untuk menjalani hubungan diam-diam dengan teman satu kuliahnya jurusan kedokteran. Namun, di saat Liani berkencan dengan teman kuliahnya pada sebuah pusat perbelanjaan, ia dipergoki oleh Axel yang ternyata sengaja mengikuti mereka.
"Sejak kapan toko buku pindah ke sini?" tanya Axel berdiri di dekat mereka yang sedang duduk mesra menikmati makanan pada sebuah kafe.
"A-Axel?" Liani terlihat gugup dengan menatap mata yang lurus merasuki netranya.
"Jadi, ini lah toko buku yang membuatmu menolak untuk aku temani?"
Wajah dingin Axel kembali menangkap netra Liani yang kini membalas tatapannya. "Di sini, kamu adalah tersangka! Kenapa kamu malah menyalahkan aku? Apakah, seluruh hari yang aku berikan tidak ada arti untukmu?"
"Aku bosan sama kamu! Setiap hari ketemu kamu harus sama kamu, apa-apa harus sama kamu, aku bosan!" teriak Liani.
"Baik lah! Kalau begitu, nikmatilah hari-harimu tanpa keberadaanku lagi. Mulai hari ini, aku tak akan pernah menampakkan diri lagi di hadapanmu." Axel beranjak dengan wajahnya yang kaku.
Liani memandangi punggung Axel yang terus menjauh meninggalkannya. "Syukur lah! Aku juga tidak membutuhkanmu lagi!" celetuk Liani kembali pada meja tempat ia makan.
__ADS_1
Namun, saat Liani sudah berada di meja tempat ia makan tadi, ternyata cowok yang jadi selingkuhannya sudah menghilang. "Ke mana dia?"
Liani langsung membuka ponsel berencana akan menghubungi laki-laki itu. Namun, sudah ada pesan dari sang selingkuhan.
Hubungan kita cukup sampai di sini. Aku gak nyangka kamu udah punya pacar, tapi masih mau dekat denganku. Aku tidak menginginkan wanita yang seperti itu. Semoga kamu baik-baik saja dengan kekasihmu.
"A-apa? Dia mutusin aku? Wwwoooiii! Aku ini diputusin gara-gara kamu wooi! Setelah itu, kamu yang mutusin aku?" Liani pun menyentakkan kakinya karena kesal.
*
*
*
Pada pagi hari yang telah berganti, setelah melepas penat perjalanan panjang yang ditempuhnya, Axel tengah sibuk mengotak-atik ponsel yang ia gunakan.
Operator simcard yang dibawa dari negaranya tidak bisa berfungsi dengan baik. Saat sampai di salah satu kota di negara adi daya ini, interpol yang menyambut mereka telah menyerahkan operator lokal yang sudah mereka persiapkan.
"Don't worry, situation still safe and the under control." (Jangan khawatir, situasi masih aman dan terkendali.) Ucap Mr. John saat menyerahkan kartu operator lokal tersebut kepada Pak Drajat, ketua tim misi mereka di negara ini.
"Oh, thanx Mr. John." Drajat meperhatikan Akel yang lelah, karena tidak bisa tidur sepicing pun selama perjalanan.
__ADS_1
"Do you know their location?" (Apa Anda mengetahui lokasi mereka saat ini?)