
Tanpa pikir panjang, Axel menautkan kedua tangan Yuvi kelehernya dan langsung menggendong masuk ke dalam rumah. "Jagoan, buka pintu!"
Aziel mengangguk membukakan pintu kamar dan Axel segera masuk ke dalam kamar tersebut. Membawa istri yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Kamu lagi apa di sana?" tanya menyeka keringat yang telah banjir membasahi dahi sang istri.
Yuvi hanya diam masih memejamkan mata berharap rasa pusing menghilang dengan segera.
"Tadi, Mama nyapu, nyuci baju, nyuci piring, masak, tapi, waktu mau jemur baju Mama duduk. Kata Mama 'pusing' Pa. Aziel cari-cari orang di rumah, tapi gak ada satu pun yang kelihatan." Di tangan Aziel masih memegang miniatur karakter superman tadi, tetapi kepalanya sudah terlepas dari badan.
Axel melirik ke arah luar. Ia memang sempat merasa heran, rumah yang biasanya diramaikan oleh beberapa asisten, tiba-tiba hilang bagai ditelan bumi.
Axel bangkit mengambilkan air untuk istrinya. Ia masih melirik ke segala sisi, dan rumah luas itu benar-benar terasa sepi. Setelah itu, ia menuju istrinya yang terbaring membantu istrinya bangun meminum beberapa teguk.
Yuvi sudah menganggukan kepala sebagai kode bahwa air itu sudah cukup untuknya. Wajah yang tadinya memutih, kini sudah sedikit lebih cerah. "Kenapa cepet pulangnya? Katanya pulang sore?"
"Oh, aku membawa sebuah kejutan untukmu. Tapi, aku tak menyangka bahwa aku lah yang mendapatkan kejutan."
"Syukur lah aku mampir ke sini. Aku bisa melihat istriku sakit begini. Kenapa kamu mengerjakan semuanya? Kamu itu lagi hamil, lho?" Tangannya berada di perut sang istri.
__ADS_1
Axel teringat makanan yang ia beli tadi. Ia beranjak sejenak dan kembali membawa makanan yang telah terletak di piring. "Jadi bisa disimpulkan aku pulang untuk menyuapkan istriku."
"Aziel juga maau, Aziel juga lapar."
Saat menyuapkan Aziel dan Yuvi makan, ia menjelaskan telah memilih satu hunian yang akan mereka tempati setelah ini. "Kamu siap-siap ya? Setelah ini aku akan bertemu dengan klient, Dokter Diki. Aku akan pulang jika urusan bersama Dokter Diki udah beres. Jadi, saat aku pulang nanti, kita langsung pindah."
Yuvi menganggukan kepala, tersenyum tipis. Ada sebuah kelegaan di dalam hatinya jika memang benar akan pindah dari rumah ini.
*
*
*
"Terima kasih Pengacara Axel. Syukur lah, akhirnya semuanya usai juga. Izin praktik saya pun sudah diberikan kembali. Ini semua berkat Anda."
"Anda terlalu berlebihan, Dok. Ini memang lah pantas untuk Anda. Masa orang yang tidak bersalah menjadi kena imbas tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Semoga praktik Anda lancar dan berkah, Dok." balas Axel.
Ponselnya pun bergetar. Ternyata itu panggilan dari Pak Drajat, badan inteligent yang bekerja sama dengannya di Amerika beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Maaf, Dok ... Saya akan melanjutkan pekerjaan selanjutnya." Axel berpamitan.
"Oh, tentu. Sekali lagi, terima kasih." Wajah Dokter Diki tampak jauh lebih cerah dibanding dulu.
Axel menganggukan kepala dan beranjak menjawab panggilan. "Selamat sore, Pak. Bagaimana kabar Anda?"
"Iya, seperti biasa. Masih pusing dengan masalah Dokter Arsen. Saya mendapat kabar, dia akan dikirim pulang tiga hari lagi."
"Saya juga mendapat informasi bahwa putranya itu diburu para wartawan. Jadi, untuk keamanannya, bagaimana kalau putranya itu, kami saja yang mengamankannya?"
Axel berpikir sejenak. Aziel sudah sangat tergantung dengan Yuvi, istrinya. Mereka sudah layaknya ibu dan anak yang sesungguhnya. Tidak mungkin bisa dipisahkan lagi.
"Biar kan kami yang mengasuh putranya, Pak. Insya Allah semua sudah terkendali. Bapak jangan khawatir."
"Jika itu keputusanmu, baik lah. Kalau ada kendala yang bersangkutan dengan anaknya dan kasus dia, hubungi saya!"
"Baik, Pak. Terima kasih."
Axel pun segera melajukan kendaraan menuju rumah di mana tadi sang istri tertinggal dalam keadaan kurang sehat. Namun, ketika sampai di rumah, banyak sekali kendaraan yang tampak terparkir di halaman rumahnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi di sini? Kenapa tiba-tiba ramai begini?"