
Arsen mengambil langkah seribu menuju tempat yang tadi ia yakini melihat seseorang yang tertangkap oleh CCTV.
"Paaa ...."
Ketika ia melintasi ruangan di mana Mila dan Aziel berada, Arsen terhenti karena Aziel memanggilnya. Ia mencoba mengabaikan sang putra, tetapi Aziel menariknya masuk ke dalam ruang santai itu.
"Kamu kenapa lagi?" tanyanya sedikit kesal.
"Aziel mau pinjam hape Papa," ucapnya.
Wajah Arsen mengernyit dengan seketika. "Kamu mau ngapain dengan hape Papa?"
"Mau nonton sponge bob." Aziel memasukkan tangannya pada kantong jas putih tersebut. Saat menyadari kantong itu kosong, tangan mungil Aziel beralih pada kantong celana Arsen.
"Kamu ini mau apa, ih?" tanya Arsen dengan gusar.
Aziel menarik tangannya kembali dan membulatkan bibirnya. "Aziel mau pinjam hape Papa. Aziel bosan ...."
"Kalau begitu kamu pulang saja! Siapa yang ngajari kamu tidak sopan seperti tadi?" Netra Arsen beralih pada Mila.
Mila pun menggeleng cepat melambaikan tangannya ke kiri dan ke kanan. "Aku tidak mengajarkan ini," ucapnya cepat.
"Papa jangan marah-marah terus. Mama tidak nyuruh-nyuruh. Aziel kan bosan ...." sungutnya.
Arsen langsug menengok jam tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul lima sore. "Tunggu sebentar! Papa akan mencari seseorang terlebih dahulu. Setelah itu kita pulang."
Aziel menundukkan kepalanya kembali dan berjalan menuju Mila berdiri. Mila mengusap kepala Aziel dan memberinya minum.
Arsen melanjutkan langkahnya yang tadi terhenti. Ia menuju ke ruang emergency, tetapi tak menemukan siapa pun.
"Ke mana mereka?" teriak Arsen membuat semua yang ada di sana terkejut.
Axel melirik ke spion belakang melihat Beni memegangi Doni, adiknya. Sedangkan Ron duduk sebelahnya sembari menikmati angin lewat jendela yang sengaja dibuka. Mereka tak ingin hal yang sama terulang kembali. Sampai saat ini, aroma masam pada kendaraan Axel masih tercium, meskipun samar karena sudah disemprot oleh parfum pria milik sang pengendara.
"Doni?" sorak Beni dengan wajah bahagia.
__ADS_1
Bocah yang berbantalkan paha Beni perlahan membuka matanya, beberapa waktu ia masih berkedip mencoba untuk mengumpulkan nyawa yang tadi dipaksa untuk menghilang.
"Kakak?" Doni duduk lalu mengucek matanya beberapa kali.
"Syukur lah, kamu sudah bangun." Beni merangkul adiknya yang masih terlihat mengendarkan pandangannya melihat dua orang yang ada pada bagian depan secara bergantian.
"Kita mau ke mana, Kak? Lalu siapa Om yang itu?" Doni menunjuk ke arah supir dengan wajah polosnya.
"Dia adalah orang yang menolong kita. Hari ini, kita akan mengikutinya menuju satu tempat di mana kita akan lebih bahagia."
Doni menganggukkan kepala duduk memandang keluar melihat suasana di luar jendela. Axel tersenyum simpul membawa mereka menuju panti asuhan yang berada tidak jauh dari tempatnya tinggal.
Beberapa saat kemudian Axel telah mendaftarkan Beni dan Doni untuk menjadi anak asuh pada panti asuhan kasih ibu tersebut. Ia pun pamit kepada dua anak yang hidup tanpa kasih sayang orang tua itu.
"Saya berjanji akan sering menengok kalian di sini." Axel meletakkan tangannya pada pundak Beni.
Meski sedikit kebingungan, Beni menganggukkan kepala. Ia beralih pada Ron yang tidak mau ikut bersama mereka untuk tinggal di panti.
"Ayo lah, Bang. Kamu tinggal di sini juga?" ajak Beni kepada Ron.
Beni menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Bang. Kamu sudah banyak membantu kami berdua."
Ron tersenyum lebar dan ia mengacungkan jempol.
"Nanti saya akan kembali, kalian belum memiliki pakaian kan? Untuk sementara, kalian berdua bisa beradaptasi dulu untuk mengenal keluarga baru kalian lebih lanjut."
Beni menganggukkan kepalanya. Sementara kepala Doni asik berputar melihat ke sekeliling panti ini.
"Kami pasti akan sangat senang jika Bapak datang menemui kami di sini," ucap Beni lagi.
"Oh tentu, kamu jangan khawatir. Oh ya, saya akan mengantarkan Ron kembali ke rumahnya dulu." Axel dan Ron meninggalkan Beni yang masih mematung menatap punggung mereka.
"Beni, Doni ... ayo sini! Kenalan dulu dengan yang lain!" Seorang wanita bersahaja muncul merangkul pundak Beni. Tanpa merasa jijik, wanita yang merupakan kepala panti asuhan itu mengajak kedua anak asuhnya yang baru masuk ke dalam.
*
__ADS_1
*
*
Pada malam hari, Axel sedang berada sendirian di dalam kantornya. Ia membuka profil Rumah Sakit Medika Jaya. Dalam informasi tersebut, terjabar dengan jelas struktur organisasi kepegawaiannya. "Arsenio .... jadi dia menjadi direktur utama rumah sakit itu semenjak ayahnya meninggal dunia."
drrrrttt
Axel melirik ponsel yang berada di atas meja kerjanya. Pada ponsel itu tertuli 'Mom' yang artinya bahwa sang ibu lah yang melakukan panggilan. Axel memilih mengabaikan hingga panggilan kedua masuk kembali pada ponselnya. Kali ini, ia terpaksa untuk menjawab panggilan itu.
"Hmmm?"
📲"Axel, kenapa kamu belum pulang juga?" tanya wanita di seberang panggilan.
"Masih banyak kerjaan."
📲"Bisa pulang sekarang?"
"Ma, aku ini masih punya pekerjaan." Kali ini, Axel menekan nada bicara secata tak langsung menolak permintaan sang ibu.
📲"Mama mohon kamu pulang dulu sebentar. Ada yang mencarimu."
Axel memutar bola matanya. "Siapa yang mencariku?"
📲"Connie, anak Tante Jelita. Kamu masih inget nggak? Sekarang dia cantik banget lhoo."
Axel mulai mengerti arah pembicaraan sang ibu. "Lalu?"
📲"Ayo ketemu dulu dengannya. Siapa tau hatimu sudah terbuka untuk menerima wanita yang baru melepas masa dudamu."
Axel menghembuskan napasnya dengan kasar. "Ma, aku ini masih memiliki istri. Meski kata Mama dia sudah m4ti, tapi bagiku dia masih hidup dan, aku rasa Mama terlalu mengatur kehidupanku."
📲"Sudah lah Xel, sampai kapan kamu akan membenci Mama seperti ini? Mama ini selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu, termasuk pasangan. Conie ini lulusan luar negeri. Kariernya pun sangat bagus. Dia lebih cocok denganmu dari pada babu itu! Syukur lah jodoh kalian hanya sebentar—"
"Ma?" Axel menyela ucapan sang ibu. Hatinya sungguh terluka mendengar perkataan sang ibu tentang istri yang sangat ia cintai dalam beberapa tahun terakhir ini.
__ADS_1