Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
41. Bukan Seperti yang Dikira


__ADS_3

Axel memilih diam. Ia kembali membuang muka mengingat pertemuan-pertemuan dengan seorang yang begitu mirip dengan Yuvita, istrinya.


Tak lama, orang yang dinanti telah memasuki kendaraan. "Bagaimana kondisi di dalam rumah sakit itu?" tanya Dokter Farhan.


"Apakah rumah sakit swasta boleh memperlakukan pasien yang tidak memiliki uang dengan semena-mena, Dok?" tanya Aiptu Leticya.


Dokter itu menggelengkan kepala dengan cepat. "Semua rumah sakit harus memberikan pelayanan yang baik kepada setiap pasien."


Dokter Farhan mengusap dagunya. "Emang tergantung kebijakan masing-masing juga. Apalagi rumah sakit itu, rumah sakit swasta terbesar. Namun, sungguh terlalu jika mereka sampai menolak pasien?"


"Berarti rumah sakit itu akan mendapat banyak tuntutan. Pertama, dugaan hasil organ untuk transplatasi yang datanya tidak jelas. Kedua, alasan orang-orang yang diculik oleh mereka untuk apa?" simpul Aiptu Leticya.


"Ada yang aneh juga, rumah sakit itu mempekerjakan orang-orang di luar tenaga kesehatan dengan jumlah yang sangat banyak? Itu untuk apa juga?" timpal Bharada Jun.


"Sepertinya itu bisa diajukan kepada jaksa penuntut umum," tambah Axel kembali.


*


*


*


"Mamaaa, ayooo main ke sana!" Aziel yang merasa bosan duduk di tempat yang sama, menarik Mila yang sedang asik membaca majalah mengenai kesehatan.


"Ke mana?" tanya Mila meletakkan majalah yang dibacanya.


"Ke sana ...." Aziel masih menarik-narik tangan Mila.


Akhirnya Mila setuju dan mengikuti langkah Aziel yang membawanya ke bagian terlarang untuk didatangi oleh orang-orang yang tidak berkepentingan.

__ADS_1


Sejenak sebelum mereka keluar lewat pintu yang terbuat dari kaca, Mila yakin suasana orang-orang berpakaian hitam begitu ramai memenuhi lokasi. Akan tetapi, saat pintu kaca sudah dibuka, yang mereka temukan hanyalah kekosongan dan suasana yang sangat sunyi.


Mila melongo menyadari keanehan tersebut. "Mama pikir, tadi di sini rame lho?"


"Setiap Aziel ke sini, suasananya sepi, Ma. Kemarin, Aziel ketemu Om baik di sini."


"Om, baik? Siapa itu?" Mila masih memutar kepala ke kiri dan ke kanan melihat suasana sunyi dan sepertinya sedikit tidak terawat.


"Waaah, sayang sekali ya? Tamannya jadi berantakan begini?" Mila turun dari koridor tersebut memeriksa tanaman yang sudah banyak layu dan mengering.


"Duh, kasihan sekali ya?" Mila mengecek tanaman itu satu per satu. Aziel yang terus mengikutinya, merasa tidak tertarik melihat tanaman-tanaman tersebut.


"Kita ke sana, Ma." Aziel kembali menarik Mioa menunjuk sebuah bangunan.


Mila hanya menuruti keinginan bocah bermata coklat itu. Aziel menunjuk bangunan yang berada di ujung koridor, jauh terpisah dengan gedung utama. "Ini tempat apa, Nak?"


Aziel melepaskan genggamannya pada tangan Mila. Ia menuju sebuah jendela yang mempertemukannya dengan seseorang yang dipanggil dengan 'Om baik.' Aziel mencoba membuka jendela yang sama saat melihat 'Om baik' melompat dari dalam menggunakan baju astronot.


Aziel membulatkan mulutnya. "Benarkah? Lalu kalau masuk lewat jendela ini boleh nggak, Ma?"


Mila berjongkok mengusap pipi Aziel yang kemerahan. "Jangan dong, Sayang. Jendela itu bukan untuk dilewati. Kalau mau keluar masuk, harus lewat pintu, dong?"


Aziel menganggukkan kepalanya. Setelah itu memilih untuk menggandeng tangan meninggalkan lokasi memutari bangunan seperti yang dilakukannya dengan 'Om baik.'


Tanpa mereka ketahui, di dalam bangunan tersebut, para pria berbadan besar tengah dorong-dorongan penuh sesak karena mendapat peringatan secara tiba-tiba, sang tuan muda menuju ke arah sana. Hal ini membuat mereka terburu buru masuk dengan berbagai cara. Arsen sudah melarang mereka untuk menampakkan batang hidung mereka di depan Aziel.


Suasana di dalam bangunan yang cukup besar itu menjadi pengap karena diisi oleh mereka yang berdesak-desakkan. Sedang menunggu tuan muda menjauh, terdengar suara kentut yang cukup keras.


"Wooi, lu kentut ya?"

__ADS_1


"Bukan! Bukan gue! Tapi dia!" Yang tertuduh menunjuk yang lain.


"Anjir, bauk banget tau nggak?! Lu abis makan apa semalam?"


Mereka buru-buru keluar setelah memastikan tuan muda dan pengasuhnya telah berlalu. Semuanya menghela napas mengusap hidung mereka.


"Hampir saja? Kalau kedapatan sama Tuan Muda, nanti kepala kita yang dipenggal dan organ kita yang dipakai untuk sajen berikutnya!" gumam salah satu dari mereka.


"Sssttt!"


Sementara itu, Arsen yang masih berada di dalam gedung utama, sedang mencari-cari anaknya dan Mila. Arsen memaksa mereka untuk ikut meskipun sebenarnya Aziel menolak. Setelah menjanjikan akan membelikan mainan kepada sang anak, baru lah Aziel mau diajak menemaninya di rumah sakit.


Arsen hanya sekedar memastikan bisa melihat Mila dalam waktu lama. Ada sebuah kekhawatiran di dalam dirinya, Mila tiba-tiba pergi meninggalkan rumah itu dan tidak akan kembali lagi.


Ia berkeliling gedung mencari kedua orang tersebut hingga mengantarkannya pada bangunan yang ada di belakang gedung utama. "Apa kalian melihat Aziel dan Mila?"


"Oh, tuan muda dan wanita itu Boss? Mereka lagi keliling-keliling rumah sakit kayaknya, Boss." terang salah satu dari anak buahnya.


"Oh, ya udah. Bagaimana dengan hari ini? Siapa yang mencari mangsa baru?"


"Kano dan beberapa anggota sudah keluar, Boss."


"Ingat! Setelah kejadian tadi malam, saya tidak akan memaafkan lagi kebodohan yang telah kalian perbuat. Kesalahan kecil yang kalian lakukan, akan langsung mengantarkan kalian ke neraka! Seluruh jeroan yang kalian miliki, akan dijual hingga ke pasar internasional!"


Semua pria berpakaian hitam itu menundukkan kepala, teringat akan satu kawannya yang telah menjadi korban kebrutalan Arsen, pria yang mereka takuti di balik jubah kebaikan.


Arsen beranjak turut memutar bangunan kembali mencari Mila dan Aziel. Sementara itu, orang-orang yang ditinggalkan Arsen saling sikut dan perasaan takut pun bercampur aduk.


Mila dan Aziel kali ini sedang duduk di bawah gazebo yang ada di taman sebelah pelataran parkir. Mereka menikmati suasana lepas, memandangi taman dan kendaraan yang tiada henti keluar masuk area rumah sakit ini.

__ADS_1


"Haaah, ternyata kalian berdua di sini?"


__ADS_2