Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
58. Getaran Cinta


__ADS_3

Axel memutar tubuhnya hingga kali ini benar-benar sejajar menghadap Mila. Mila kembali menjepit bibir menahan senyuman. Dalam posisi ini, mereka benar-benar sangat dekat. Mila menengadahkan wajah membersihkan d4rah yang ada di kepala Axel beserta wajahnya.


Aroma anyir yang berasal dari d4rah ditambah bau alk0hol yang menyengat, ternyata memberikan reaksi lain kepada mereka berdua. Axel menahan dirinya karena malu memperlihat kan apa yang ia rasakan. Akan tetapi, Mila berlari kecil menuju toilet dan memuntahkan segalanya ke dalam toilet.


"Huweeek ... huweeekk ... huweeeek."


Axel segera mengejar Mila dan mengusap punggung istrinya itu, meski pun itu membuat perasaannya sendiri ikut bercampur aduk. Tangan kanan bekerja mengusap punggung Mila, tangan kirinya mengusap dada menenangkan diri sendiri. Namun, ia merasa bahagia. Karena istrinya begini sebagai bukti bahwa Mila tengah mengandung buah hati mereka.


Setelah semua selesai, Mila mencuci muka dan berkumur-kumur di washtafel. Ia menangkap wajah pria yang berada di belakang, tak berhenti tersenyum memandangi dirinya.


"Kenapa senyam-senyum terus?"


Axel mendekat dan  memeluk Mila dari belakang. "Apa kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini?"


Axel mencium bahu Mila menyandarkan pipinya pada kepala Mila. Tangan Axel membelai perutnya dengan lembut.


Mila terkejut merasakan getaran dari dalam perutnya. Axel pun merenung merasakan hal yang sama. Axel memutar tubuh Mila hingga kali ini mereka bisa saling berhadapan. Ia berjongkok memeluk perut sang istri amnesia. Telinganya menempel tepat di perut istrinya.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah bertahan di dalam sana meskipun papamu ini tidak mengetahui keberadaanmu selama ini."


Axel mengusap dan mengecup perut itu. Mila mematung menerima kehangatan yang bertubi-tubi ini. Ini sungguh sangat berbeda dari apa yang ia dapatkan selama ini, ketika bersama Arsen.


Namun, bau amis dari kepala Axel kembali mencuat. "Hmmmpphh ...." Ia kembali merasakan mual melepaskan pelukan Axel.


"Amis! Aku tidak kuat," ucap Mila menjauh.

__ADS_1


Axel bangkit dan memegangi kepalanya. "Ssstt ... sakit ... kepalaku terluka." Kali ini ia yang bercermin menatap bagian darah yang membuat rambutnya cukup basah.


Axel memutar keran dan menurunkan kepalanya di wastafel, lalu mencuci rambut hingga menbuat air tersebut menjadi merah.


Mila mendengar suara desis yang keluar dari mulut Axel menahan rasa sakit saat luka itu basah terkena air. "Apakah luka itu akan baik-baik saja?" tanya Mila kembali.


Axel masih membersihkan rambutnya. Mila memutar otak memikirkan apa tindakan yang harus dilakukannya. Mila pun segera mengambil handuk menunggu laki-laki itu menyelesaikan kegiatannya.


Beberapa waktu setelah usai membersihkan kepala dan wajah, Mila segera menyerahkan handuk tersebut.


"Makasi ..." Axel mengusap pipi Mila dan segera mengeringkan rambut menggunakan handuk tersebut.


Mila memegangi pipi yang terasa hangat karena ia sendiri tidak paham dengan apa yang terjadi. Axel menarik Mila keluar dan kembali duduk di samping Aziel yang masih terisak.


Aziel mengangguk tetapi bibirnya masih membulat karena masih sedih mengingat ayahnya yang pergi dengan cara yang tidak baik.


Axel merasa tergelitik dari benda yang berada di dalam celananya. Ia segera mengeluarkan ponsel dan terlihat nomor kontak yang tidak dikenal masuk hendak meneleponnya.


Axel menggeser tombol hijau dan langsung menempelkan benda itu ke telinganya. "Halo?"


"Saudara Axel, kamu berada di mana? Mr. John baru saja menghubungi saya mengatakan bahwa buronan sudah ditangkap dalam perjalanan ke kantor polisi saat ini."


Axel melirik pada istrinya yang masih menenangkan Aziel. Ia langsung bisa menebak siapa yang meneleponnya saat ini. Pemimpin misi, tak lain adalah Pak Drajat yang ia tinggal saat masih terlelap.


Ia kembali tersenyum satu tangan mengusap rambut Mila. "Saat ini saya berada di sisi orang yang saya cari."

__ADS_1


Mila menahan senyum di antara menenangkan Aziel yang masih menangis di dalam pelukannya.


"Setelah selesai, saya tunggu di kantor polisi. Ada banyak hal yang harus kita benahi!"


"Baik, Pak." Panggilan ditutup dan Axel kembali membelai pipi Mila.


Mila memandangi pria yang menunjuk pada kepalanya bergantian dengan alat P3K. Mila melepaskan pelukannya. "Tunggu ya? Mama mau mengobati Om itu dulu ya?"


Aziel memasang wajah manyun menatap Axel. "Kenapa Om tidak mengobati lukanya sendiri? Om kan udah besar?" celetuknya kembali membulatkan bibir.


Axel terkekeh melihat reaksi bocah ini. "Karena Om nggak bisa melihat luka di bagian kepala."


Aziel mencabik melipat kedua tangan di dada. Pipinya menggembung melirik Axel dari ujung mata.


"Kalau kamu tidak percaya, boleh dicoba kok."


Mila sudah berada tepat di hadapakan Axel. Ia masih merasa ragu dan canggung, tangannya mengambang antara ingin menyibak rambut Axel dan malu melakukannya.


Axel menyadari kekakuan istrinya ini dan langsung menarik tangan Mila menempel pada kepalanya. Wajahnya mengernyit, ternyata tangan itu pas mengenai bagian luka.


"Periksa bagian sana, perih banget rasanya." Axel melirik Aziel yang sedang mencoba menatap ke arah kepalanya sendiri. Axel menggeleng kan kepala dan merasa itu terlihat lucu.


Mila mulai menyugar rambut Axel dengan perlahan, mencari bagian kulit kepala yang terluka. Tiba-tiba pria itu memeluknya dan menyandarkan diri di dadanya.


Kelakuannya ini sontak membuat Mila kaget. "A-apa yang kamu lakukan?"

__ADS_1


__ADS_2