
"Sepertinya tadi malam indah banget setelah sekian purnama tidak berjumpa dengan istri, hingga panggilan saya ditolak, setelah itu hapenya non-aktif," cibir Bharada Jun.
Axel membuang muka salah tingkah. "Ah, enggak ... biasa aja."
Pundak Axel ditepuk oleh Bharada Jun. "Santai aja, kami semua paham kok."
Setelah itu mereka membicarakan masalah Aziel dan semua orang yang bekerja di sana memandang Axel dengan heran. Bharada Jun memahami tatapan heran tersebut, karena ia sendiri merasakan hal yang sama saat melihat rekannya ini.
"Ini pebgacara yang lagi viral itu lho?"
Wajah pegawai KPA pun melongo, dan akhirnya mengangguk paham.
"Saya ingin meminta surat edar agar anak Dokter Arsen yang masih ditahan di Amerika, dilindungi dari segala gangguan pemberitaan. Jujur, saya sangat keberatan pihak jurnalistik mengangkat anaknya ke dalam pemberitaan ini."
"Tidak adil dong, anaknya tidak tahu apa-apa malah menjadi serangan keganasan netizen negara ini?"
"Oleh karena itu, saya minta KPA segera mengedarkan larangan untuk mengganggu anak Dokter bermasalah itu!"
Wanita yang bekerja sebagai sekretaris KPA, menerima laporan tersebut langsung mempersilakan Axel untuk menemui ketua KPA.
*
*
*
Di tempat lain, di rumah orang tua Axel, Yuvi tengah merangkul Aziel memandangi wanita paruh baya yang tak henti mondar-mandir di hadapan mereka.
"Aaah, ini sungguh sangat memusingkan."
Ibu dari suaminya menatap mereka satu per satu, setelah itu menunjuk Yuvi. "Kamu, kenapa pakai acara kembali segala? Saya kan jadi bingung harus mengatakan apa kepada keluarga Conie?"
"Ma-maksud Mama apa? Aku tidak mengerti." Yuvi yang tertunduk, melirik mertuanya itu dengan wajah sedikit ketakutan.
"Sedangkan kamu, kenapa malah ke sini lagi?" Kali ini, mertua Yuvi menunjuk arah Aziel.
__ADS_1
Aziel memeluk Yuvi menyembunyikan wajahnya pada tubuh Mama Mila. Ia melirik, lalu menutup wajah kembali.
"Seharusnya kalian jangan ke sini! Nanti apa-apa malah saya yang disalahkan lagi."
"Kenapa Nenek jahat? Nenek jangan marah-marah kepada Mama Mila!" rajuk bocah itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Yuvi segera merangkul Aziel dan mengusap punggungnya.
"Diam kau, anak penj4hat! Saya tak sudi kalian berada di rumah ini."
"Mama, aku mohon jangan berkata seperti itu kepada Aziel. Dia itu masih sangat kecil, tidak mengerti apa yang sedang terjadi." sela Yuvi masih merangkul Aziel.
Aziel menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Mama Mila. "Papa Aziel memang jahat, tapi Nenek itu lebih jahat," tangisnya.
"Kenapa ini?" Seorang pria yang telah rapi dalam balutan jas bersiap untuk berangkat kerja.
"Ma, kamu membuat masalah lagi?" tanya pria yang mirip dengan suami Yuvi tetapi usianya jelas lebih tua.
"Ah, enggak, Pa." Mama mertua Yuvi memperbaiki posisi dasi sang suami yang tidak terkendala sama sekali. Wajahnya terlihat gugup menutupi tangisan Aziel dari pandangan suaminya.
"Mama, ayo kita pergi. Aziel nggak mau di sini lagi." Aziel menggoyangkan lengan Yuvi.
"Enggak ... enggaak ah ... Mama nggak ngapa-ngapain kok." Mertua wanita Yuvi berjalan cepat duduk di samping Aziel.
"Cup-cup ... Cah ganteng jangan nangis. Nanti Nenek kasih es krim kalo anteng."
Aziel menggelengkan kepala masih menyembunyikan wajahnya. "Nenek jahat, Nenek jahat ... nggak mau sama Nenek."
"Apa yang kamu lakukan padanya?" Kali ini suara ayah mertua terdengar lebih keras membuat wanita paruh baya itu semakin tegang.
"Cepat minta maaf kepadanya!"
"Tapi, Mama nggak ngapa-ngapain, Pa."
Laki-laki itu berjalan mendekat ke arah mereka. Lalu ia mengusap kepala Aziel. "Nenek nakal ya sama kamu?" Aziel kembali menangis dalam pelukan Mama Mila.
__ADS_1
"Jika Nenek nakal, kasih tau Kakek ya? Biar Kakek yang marahin Nenek."
"Jangan dong, Pa. Masa gara-gara anak ini aja, Papa marah kepadaku?"
"Ma, seharusnya Mama inget dong. Dia ini masih sangat kecil. Dia tidak tahu apa-apa dan Mama tidak boleh menyalah-nyalahkan dia. Mama itu akan memiliki cucu lho? Bayangkan jika cucu Mama mendapatkan perlakuan yang tidak pantas seperti itu?"
Wajah istrinya terlihat merengut. Ia jadi semakin kesal ditambah rasa malu dimarahi di depan menantunya ini.
"Cepat minta maaf kepada mereka!"
*
*
*
Di luar rumah keluarga itu, terlihat cukup sepi karena tidak ada wartawan lain, selain si Sulung Kuwat berdiri di sana. Ia mengusap dagu, satu tangang lagi berada di pinggang.
"Gue yakin mereka tadi ke sini," gumamnya.
Di kantor KPA, dua orang terlihat saling berjabat tangan usai menyetujui permintaan seorang jaksa atas perlindungan anak.
"Kami akan segera mengedarkan surat larangan bagi pekerja bidang jurnalistik agar tidak mengganggu anak dari Dokter Arsen tersebut. Kami akan menindak dengan tegas, apabila mereka masih melakukan hal yang sama."
"Tidak hanya itu, kami akan meminta pada portal yang menayangkan berita tersebut, untuk segera menurunkannya agar tidak menjadi tranding lagi."
"Terima kasih atas informasi yang Anda berikan. Jika tidak, mungkin kami akan terlambat menyelamatkannya. Dia akan menjadi bulan-bulanan massa, dan itu akan berdampak buruk pada perkembangan mentalnya."
"Terima kasih, Pak. Saya harap, edaran tersebut sudah keluar hari ini juga," ucap Axel.
"Oh, tentu. Hari ini juga akan kami terbitkan."
Axel mengangguk mantap lalu menundukkan kepala mohon diri. Setelah itu, ia langsung melaju ke rumah untuk berganti pakaian.
Namun, saat berada tepat di depan pagar rumahnya, ia melihat seorang yang mencurigakan. Axel segera turun dan mendekati pria itu.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukan kah sudah keluar edaran untuk tidak mengganggu anak kecil yang ada dalam berita?" ucap Axel dengan tegas.
"Jangan bercanda!"