
"Mama ... Mama ... Mama?" Aziel menangis di sisi lainnya.
"Lepaskan tangan kotormu itu!" Arsen mendorong Axel dan segera memeriksa keadaan Mila.
Axel diam memandangi Mila yang diperiksa oleh dokter itu. Di sisi satu lagi Aziel masih menangis terus memanggil dan mengusap usap lengan Mila.
"Diam! Berhenti lah menangis!" bentak Arsen kembali.
Namun, tangisan Aziel tidak kunjung berhenti melihat Mila seperti itu.
"Ini gara-gara Papa. Mama sakit pasti karena Papa marah-marah terus." Aziel tak berhenti berceloteh membuat Arsen semakin kesal.
"Bawa dia!" titahnya pada salah satu perawat.
"Baik, Dok." Perawat yang disuruh pun mengajak Aziel keluar dari ruang darurat itu.
Namun, Aziel menolak. "Aziel mau sama Mamaaa," tangisnya lagi.
"Tunggu Mama Mila-nya diperiksa oleh Papa dulu." Perawat itu akhirnya memilih untuk menggendong Aziel.
"Mamaaaa?" Aziel meronta-ronta menangis ingin turun. Akan tetapi, perawat tersebut tak peduli dan membawa Aziel untuk menjauh.
Axel tiada henti memperhatikan Mila yang diperiksa oleh Arsen. Entah kenapa, perasaannya menjadi bercampur aduk.
"Panggil Dokter Liani untuk memeriksa kehamilannya!" titahnya kepada salah satu perawat yang menemaninya.
__ADS_1
"Baik, Dok." Perawat itu berjalan cepat keluar dari ruangan ini.
Tidak lama kemudian, Liani muncul dengan beberapa perawat. Mata Liani menangkap sosok yang tidak biasa berada tidak jauh dari posisi pasien saat ini.
Saat menyadari kedatangan Liani, Arsen memberikan tempat dan berjalan ke sisi Axel. "Apa yang kau lakukan di sini?" bisiknya dengan tajam bernada penuh amarah.
"Saya ke sini karena panggilan hati."
Arsen mengerutkan keningnya. "Apa yang kau maksudkan?"
"Katakan padaku, apa alasanmu mengatakan Mila ini sebagai istrimu? Padahal dia bukan istrimu! Apa kau tahu, hukum menyembunyikan wanita yang bukan istrimu?"
Rahang Arsen mengeras. Terdengar gemeletuk pada giginya. "Oh, jadi kau sudah berani mengancamku?" geram Arsen.
"Katakan saja, alasannya! Saya tidak membutuhkan tuduhan balik!" balas Acel.
"Seperti apa yang sudah saya katakan sebelumnya, dia persis sama dengan Yuvita, istri saya yang menghilang."
Dagu Arsen terlihat bergerak ke kiri dan kanan. Tanpa ditanya lagi, jelas Axel membaca ungkapan kemarahan dari pria berprofesi sebagai seorang dokter ini.
"Apa kau tak bisa berhenti untuk berbohong? Jika dia memang istrimu, apa kau bisa memberikan sata sebuah bukti jika dia memang istrimu?"
Axel mengeluarkan ponselnya. Dia ingin memperlihatkan foto pernikahannya dengan Yuvita beberapa waktu lalu di rumah istrinya. Sebuah pernikahan dadakan tanpa rencana dengan suasana biasa. Hanya beberapa orang keluarga dari pihak Yuvita yang menyaksikan semuanya.
"Ini!" Axel menyerahkan ponselnya.
__ADS_1
Arsen membuka foto-foto tersebut. Namun, Arsen kembali tersenyum tipis. "Kau jangan mengada-ada! Mana bukti Mila sebagai istrimu? Aku tak bisa melihat wajah Mila yang kau katakan sangat mirip dengan Mila."
Axel merebut kembali ponselnya. Satu hal yang ia sadari dan ingat adalah, Yuvita tidak berada di sisinya saat ijab qabul dibacakan. Kala itu, istrinya menunggu di dalam kamar, dan membuat Yuvi tidak terlihat dalam kamera.
Akel berpikir dengan keras, lalu ia teringat akan sesuatu. Ia meyakini sesuatu yang masih bisa menjadi bukti. Namun, saat ini ... ia menyadari bahwa Mila sedang mengalami masalah dengan kehamilannya.
Mila ini sedang hamil, apa yang aku pikirkan? batinnya.
"Sekarang, lebih baik kau pergi dari tempat ini! Jika tidak ...." Arsen menatap Axel dengan tajam.
Namun, Axel menantang tatapan Arsen. "Jika tidak kenapa? Mau melaporkan saya sebagai orang yang mengganggu istri Anda?"
"Sementara, dia tidak mengakui bahwa ia adalah istri Anda! Apa Anda yakin akan menang melawan saya?"
Arsen beranjak keluar dari unit emergency tersebut. Axel pun kembali berjalan lebih dekat tetapi masih menjaga jarak di mana Mila sedang diperiksa oleh Liani, wanita yang pernah dekat dengannya. Bukan hanya itu saja, karna Liani lah Axel bisa mengenal Yuvita.
"Bagaimana dengan keadaannya?" tanya Akel ketika Liani sedang memeriksa kondisi janin Mila dengan menggunakan USG.
Liani menggantungkan tangannya di hadapan Axel. Axel memahami kode tersebut diam memperhatikan dengan tenang.
Netra Axel tak sengaja melihat perut Mila yang mulai sedikit membesar, meskipun saat mengenakan pakaian ia belum terlihat seperti wanita hamil. Axel membuang muka canggung dan memandangi sisi lain.
Tak lama kemudian terdengar suara nyaring beraturan yang keluar dari layar USG. Axel kembali merasakan sesuatu di dalam dadanya.
"Ini adalah detak jantung bayimu, masih normal. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, bentuk dan ukuran janin sudah sebesar buah apel dengan berat sekitar tujuh puluh gram dan panjang sepuluh senti meter dari kepala sampai kaki. Pada fase ini, kulit janin akan terus berkembang dan mulai menebal. Namun, pada minggu ini, kulit memang masih terlihat tipis dan pembuluh darah terlihat menerawang."
__ADS_1
"Pada usia kehamilan lima belas minggu ini, janinmu masih cukup rawan dan kamu tidak boleh stress. Ibu hamil memang tidak boleh banyak pikiran dan intinya kamu harus tenang."
Liani melirik Axel, ia tersenyum tipis ingin melakukan sesuatu terhadap Mila. "Bagaimana? Apa kamu sudah mengingat siapa orang yang telah menghamilimu?"