
Di depan pintu tersebut, sudah tampak mertuanya dengan dandanan yang rapi dan cantik. Tidak hanya itu, beberapa perhiasan yang berkilauan juga sudah melekat pada tubuhnya.
"Mama mau pergi bertemu dengan anggota sosialita yang lain. Kebetulan, yang lain lagi ada tugas keluar. Jadi, nanti, kamu jangan lupa beresin rumah, cuci baju, masak, cuci piring, dan jemur pakaian," ucap wanita itu.
Entah kenapa, Yuvi merasa kejadian ini bukan lah yang pertama kali ia alami. Namun, mengingat dirinya adalah menantu di rumah ini, membuatnya hanya menganggukan kepala.
Sejenak, bibir Nana memperlihatkan senyum liciknya, tetapi ditepis dengan cepat. "Mama mungkin kembali sore, sebelum Papa pulang. Jadi sebelum Mama kembali, semua harus sudah beres."
Yuvi kembali menganggukan patuh. "Baik, Ma. Aku akan mengerjakan semuanya."
Setelah melirik Yuvi yang memegang sapu, mertuanya itu beranjak dan meninggalkan rumah. 'Dasar babu. Sekali babu tetap babu. Memang itu yang pantas untukmu!' batinnya.
Setelah memastikan kendaraan sang mertua pergi meninggalkan pekarangan rumah, Yuvi bergerak menuju dapur membuka kulkas di sana. Ia masih teringat akan rengekan Aziel yang meminta eskrim.
Sebuah senyuman menghiasi bibirnya mengeluarkan box yang berisi es krim. Ia menyalin sedikit es krim tersebut pindah pada sebuah gelas yang kecil. Setelah itu, Yuvi segera memberikannya kepada Aziel yang merajuk di pojokan kamar.
"Nah, Mama ada es krim nih." Yuvi menggoyang-goyangkan gelas tersebut di hadapan bocah itu.
Aziel memasang wajah takjub melihat apa yang ada di tangan Yuvi. Ia bangkit langsung ingin merebutnya.
"Eeiit, jangan di sini. Ayo cuci tangannya dulu."
__ADS_1
Aziel mengangguk cepat mengikuti langkah kaki Mama Mila yang meletakan es krim tersebut ke atas meja makan. Yuvi memanggil anak angkatnya ikut menuju dapur untuk mencuci tangan. Setelah itu, ia tak sabar dan segera duduk di kursi dengan tenang menikmati makanan beku nan lembut dan manis kesukaannya.
Yuvi melanjutkan pekerjaannya membersihkan kamar dan segala sisi di bagian lantai bawah itu. Membersihkan rumah yang sangat luas itu membuat pinggangnya terasa lelah. Namun, pekerjaannya belum lah selesai karena masih ada lantai atas yang harus ia bereskan.
"Huuufftt ...." Ia menengadah melihat bagian lantai atas dan mulai menjajaki anak tangga satu demi satu.
Aziel telah menghabiskan es krim yang ada di dalam gelas, ikut naik ke lantai atas. Di sana ada kamar Haddy dan beberapa bagian lain yang harus ia bersihkan.
Aziel segera memanjat ke atas ranjang itu lalu melompat-lompat di atasnya. Yuvi melihat tingkah Aziel, menggelengkan kepala memasang wajah panik.
"Jangan lompat-lompat di sini." Aziel pun mengangguk dan melihat sesuatu yang tampak lebih menarik dari sekedar itu.
Ia berpindah pada meja belajar Haddy yang terlihat beberapa mainan karakter anime yang berdiri di sana. Aziel memanjat kursi dan meraih mainan yang terpajang di sana.
"Tapi hati-hati ya? Jangan sampai rusak mainan Om Haddy-nya."
"Om Haddy kan udah gede, Ma? Ini buat Aziel aja yaaa? Aziel turun dari kursi dan berlari ke sana ke mari memainkan benda tersebut.
Yuvi melirik jam pada dinding. 'Masih pagi, Haddy belum pulang dari kampusnya kan?' Ia melanjutkan tugas merapikan ranjang milik Haddy yang dibuat berantakan oleh Aziel. Setelah itu, melanjutkan membersihkan bagian yang lain, keringat sebesar biji jagung telah memenuhi tubuhnya.
Waktu telah bergeser menuju siang hari. Diam-diam Axel pulang ke rumah membawakan kejutan serta makan siang buat sang istri.
__ADS_1
Namun, rumah itu terasa sepi dan tak terdengar aktivitas apa pun. Ia segera mencari istrinya di dalam kamar, tetapi ruang itu terlihat kosong.
"Di mana mereka?"
Axel mencium aroma gosong, langkah kakinya bergerak cepat menuju area dapur, mendapati kompor menyala dan isi wajan penggorengan telah menghitam. Axel mengerutkan kening mematikan kompor itu.
"Mana Bibik? Kenapa tak satu pun yang terlihat di rumah ini?" gumamnya.
"Mama ... Mamaaaa ..." terdengar suara tangisan Aziel di taman belakang, area menjemur pakaian.
Ia segera melangkah cepat ingin tahu alasan Aziel menangis sekencang itu. Di dekat penjemuran pakaian, di sisi keranjang baju yang sudah dicuci, Yuvi terduduk memijit kepalanya yang pusing. Semua bagai beputar dan keringat membanjiri tubuhnya.
Axel berlari mengejar istri yang terlihat tidak berdaya. "Sayang, kenapa kamu mengerjakan semua ini? Mana para pekerja lainnya."
Yuvi tidak menjawab apa yang ditanyakan suaminya. Ada gejolak yang meletup dan keluar. Rasa pusing yang parah, membuat rasa mual teramat hebat.
"Huweeek ... huweeek ... huweeeek."
Yuvi memuntahkan semua yang masih tersisa di perutnya yang sudah kosong. Cairan bewarna kuning kental, tak begitu banyak tumpah pada rumput yang ia pijak. Axel mengusap punggung sang istri, hingga benar-benar tak lagi ada yang keluar.
Yuvi menyeka mulut dengan pakaian yang ia kenakan lalu menyembunyikan wajahnya dalam pangkuan suami. "Pusing," rintihnya.
__ADS_1
"Mamaaa," Aziel masih menangis menarik tangan Mama Milanya ini.