Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
27. Anakku Bukan Anak Haram


__ADS_3

Mila bangkit dan menggebrak meja, membuat Liani tersandar melorot terperenjat dengan reaksi yang diberikan oleh wanita ini.


"A-apa yang kamu lakukan?" Liani melirik ke kiri dan ke kanan, lalu bangkit menggebrak meja yang sama. Wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa senti meter saja.


"Kamu ini dokter apaan sih? Kenapa kamu mengatakan anakku haram?" Mila menatap dengan wajah berapi-api. "Jadi, mentang-mentang aku tidak ingat siapa ayah anakku, kau semena-mena begitu mengatakan demikian?"


Liani memutar bola mata, melihat ke segala arah karena tidak kuat memandang netra Mila yang lurus menangtang matanya. "Emang begitu kan?"


"Emang begitu apanya?" Mila masih menggebu menantang indera penglihatan wanita berprofesi dokter tersebut.


"Buktinya, kamu hamil dan tidak tahu siapa ayahnya!"


Mia tertegun berdiri tegak kembali memeluk perutnya. "Ini ... aku—"


"Kenapa? Kamu memberi alasan lupa ingatan?" Liani merasa di atas awan. Ia terus mendekati Mila merasa apa yang dipikirkannya memang benar.


"Aku ... a—"


"Apa yang kamu lakukan kepadanya?" Tiba-tiba, Arsen muncul berdiri pada pintu ruangan tersebut dibuka dengan tiba-tiba.


Refleks Liani bergerak pindah mendekat pada Arsen dan memasang muka manis merapikan jas yang sedang terpasang pada pimpinan rumah sakit ini, yang tidak berkerut sama sekali.

__ADS_1


Arsen menepis tangan Liani dengan kasar. "Aku kan meminta kau untuk memeriksa dia? Tapi kenapa kau perlakukan dia seperti ini?" bentak Arsen menatap Liani dengan nanar.


Batin Liani terhenyak sejenak mendengar kesangaran Arsen barusan. Namun, sejenak ia menahan diri lalu berusaha kembali untuk tersenyum. "Emang, aku ngapain?" Liani menatap tajam kepada Mila yang masih tertegun dengan cecaran demi cecaran yang baru saja ia muntahkan pada ibu hamil muda tersebut.


"Saya harap kamu tidak mempermalukan diri sendiri sebagai tenaga kesehatan yang saya bayar mahal untuk melayani seorang pasien. Siapa pun dia, harus tetap kamu berikan informasi mengenai kesehatannya dengan benar! Kalau tidak, bersiap lah untuk mencari rumah sakit lain mulai hari ini! Namun, jangan harap kau akan mendapatkan pekerjaan dengan segampang itu dengan attitude-mu yang buruk!"


Arsen melirik Mila yang masih mematung, lalu kembali beralih kepada Liani. "Karena kamu, akan masuk blacklist karena informasi dari saya!"


"Ja-jangan!" Liani menegang mendapat ancaman yang paling ditakutkan oleh para pencari kerja.


"Aku akan memeriksanya dengan baik. Tapi aku mohon, kamu jangan membuat namaku buruk lewat jaringan-jaringanmu yang besar itu." Liani merangkul tangan Arsen merajuk memagutnya.


Arsen melepaskan diri dengan kasar. Lalu pergi begitu saja tanpa menyapa dan berkata satu patah kata pun kepada Mila. Liani menghela napas panjang lalu memutar kepalanya dengan cepat menatap Mila dengan tajam.


Liani dengan hati membara, memilih untuk diam. Ia mengangkat gagang telepon di atas meja kerjanya lalu menekan satu tombol yang menghubungkan panggilan langsung pada nurce center.


"Bawa dua orang ke ruang saya! Kita akan memeriksa pasien istimewa!" Liani menatap wajah Mila dengan tajam, tetapi kali ini ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Dari arah koridor, terlihat seorang pria buru-buru memanggil perawat. "Tolong, Sus. Keponakan saya sakit!"


Melihat pria muda tampan dan gagah yang baru saja datang, membuat perawat refleks tertarik bagai magnet yang kuat. "Bagaimana, Mas? Ada yang bisa kami bantu?"

__ADS_1


"Keponakan saya, Sus ... keponakan saya. Dia sakit!" ucap pria tersebut dengan raut penuh kecemasan.


Perawat memutar kepala mencari orang dimaksud. "Di mana keponakannya, Mas?"


"Di dalam mobil, Sus. Tolong, Sus!" Pria yang tak lain Akel tersebut memasang wajah memelasnya.


"Baik lah. Kami akan segera menangani keponakannya Mas."


Perawat tersebut memanggil beberapa anggota yang lain. Sementara itu, ada dua anggota yang menuju arah berlawanan. Beberapa perawat yang berada di sisi Axel, berjalan mendorong brangkar. Sedangkan perawat yang berjalan berlawanan dengannya, membawa peralatan yang dibutuhkan menuju ruang kerja Liani.


Axel berlari kecil menuju kendaraan yang sengaja ia parkirkan di depan koridor. Ia membuka pintu, lalu memapah satu dari dua anak yang terlihat pucat pasi untuk naik ke atas brangkar.


Perawat yang tadinya memiliki ekspektasi tinggi, mengernyitkan keningnya saat mendapati laki-laki berusia remaja dipapah oleh pria terlihat sangat rapi, yang baru saja memanggil mereka. Penampakan mereka sungguh sangat berbanding terbalik.


"Apa benar dia ini keponakannya, Mas?" tanyanya dengan ragu.


Berulang kali ia memperhatikan pria muda memakai pakaian lusuh itu, beberapa baret di sisi wajah dan tangan menggambarkan hubungan yang tidak singkron dengan pria tampan dewasa yang memanggil mereka. Pria muda itu terlihat lusuh, dengan kulit legam terbakar matahari dan rambut memerah. Tampak jelas ia adalah salah satu orang yang mengadu nasib tak mengenal teriknya matahari dan dinginnya hujan.


"Memang kenapa?" Axel mengernyitkan keningnya menyadari keraguan dari perawat rumah sakit ini.


"Apa kalian tidak mau melayani dia, karena kondisinya yang seperti ini?"

__ADS_1


"Bu-bukan, Mas." Tiga perawat yang berada di sisi brangkar tersebut saling berpandangan.


"Apa kalian ragu dan takut, bila saya tidak akan membayar biaya perawatannya?"


__ADS_2