
Yuvi sebenarnya penasaran ingin melihat wajah kekasih jauhnya itu. Tetapi, ia masih sangat malu untuk mengintip orangnya secara langsung
"Aku malu..."
"Ayo pinggirin bukunya dong?" pinta Axel.
"Nggak mau, aku malu ...."
"Ish, kenapa malah malu-malu segala? Mana Snow White yang beringas itu? Pinggirin gih, penutup wajahnya!"
"Tapi ... maluuuu ..."
"Ayooo buka!"
"Aku matikan aja ya? Aku ke warnet bukan buat ini. Aku mau melihat pengumuman kelulusan tau nggak?"
"Kalau kamu matikan nanti kita putus," ancam Axel.
"Terserah ...." ucap Yuvi memelas.
"Dih? Pasrah aja?"
"Kamu itu ngebetein, dikit-dikit ngancam ... Dikit-dikit ngancam ... Harusnya yang ngancam putus itu aku! Kenapa malah kamu? Dasar tukang ancam!" protes Yuvi.
"Dilarang protes! Buka dulu! Aku ini bukan pemakan manusia! Kenapa kamu malah takut gitu? Ayo dong, lihat aku secara langsung!" Suara di seberang sana lebih tegas dibanding Yuvi.
Yuvi memasang wajah manyun melempar buku dengan wajah kesal. Di layar monitor, tampak pemuda tampan sedang melongo tak berkedip melihat wajah yang selama ini menjadi rahasia illahi.
Klik
Yuvi menekan tombol panggilan ditutup. Ia segera log out dan memilih untuk konsentrasi mengecek kelulusan.
Ponsel Yuvi bergetar, sebuah pesan singkat masuk pada ponsel yang terpaksa disayang itu. Yuvi memilih untuk tidak membalas dan segera mengecek kelulusannya.
Ponsel kembali bergetar, kali ini tanda panggilan masuk. Panggilan masih dari orang yang sama. Namun, Yuvi memilih untuk membiarkannya.
__ADS_1
Yuvi mengeklik pengumuman pada layar monitor tersebut. Tertera dengan sangat besar bahwa seluruh siswa sekolah mereka lulus 100%.
"Alhamdulillah ...."
Ponsel jadulnya itu masih bergetar, tetapi berhubung perasaannya senang, ia kembali menjawab panggilan tersebut.
"Halooo ...." jawabnya dengan ceria.
"Kamu? Berani menolak panggilanku?" ucap yang di seberang sana, suaranya terdengar datar dan dingin.
"Iya, aku malu tau! Aku kan nggak pernah nelpon-nelpon langsung lihat wajah gitu. Apalagi aku ini je—"
"Kamu cantik!" sela seorang yang berada di ujung panggilan.
"Masa sih? Aku belum mandi tauk! Kamu hanya nyeneng-nyenengin aku doang kan?"
"Ayo, aktifkan lagi akun fesbuknya! Biar aku bisa melihat orang yang belum mandi ini!"
"Gak mau ... gak mau ... Aku malu! Aku gak biasa video-videoan gitu," ringisnya.
"Hmmm, baik lah."
"Iya, selamat."
Yuvi mengangkat wajahnya, mendengar suara Akel yang datar. "Ya udah, aku mau pulang dan mandi dulu. Aku mau ke sekolah."
"Ya."
Yuvi tidak memedulikan reaksi Axel. Dia berlari kecil menuju rumah sederhananya menyampaikan kabar gembira kepada kedua orang tuanya.
"Syukur lah, akhirnya ... si bungsu kami tamat SMA juga," ucap sang Ibu.
Tak beberapa lama, raut wajah orang tuanya kembali berubah. "Maaf ya? Kami tidak memiliki banyak uang."
"Ibu dan Ayah tak perlu khawatir. Sepertinya ada yang mau bantu aku untuk membayar biaya kuliah," ucap Yuvi.
__ADS_1
"Siapa?"
"Pacarku, Bu."
Wajah wanita paruh baya itu menegang. "Jangan! Kamu jangan merepotkan orang lain!"
"Tapi, Bu? Dia udah janji bantu aku ...." Yuvi memasang wajah manyunnya.
"Jangan! Kami takut kamu dimanfaatkan orang-orang tak bertanggung jawab. Lagian siapa pacarmu itu? Kenapa kamu malah pacaran? Kamu itu harusnya fokus sekolah. Nanti dia manfaatin kamu gimana?"
"Dia jauh, Bu. Jadi nggak mungkin bisa ngapa-ngapain. Lagian, kayaknya dia baik, kok Bu." ucapnya pelan.
"Kamu itu masih terlalu muda, Ndok ... Sekarang banyak kasus pelec3han karena kenal-kenal dan pacaran tak jelas begini."
Yuvi membulatkan bibirnya. "Bu, aku ini nggak bodoh kok, Bu. Ibu jangan terlalu khawatir begitu."
*
*
*
Di sekolah, Yuvi bertemu Dewi, teman satu sekolah yang sama-sama tamat dengannya mulai mempersiapkan diri belajar bahasa kanton.
"Buat apa?" tanya Yuvi.
"Aku mau mencoba mengajukan diri menjadi TKW di Hongkong. Ayoo, kamu juga ikut belajar. Mau kerja di Hongkong juga kan? Lumayan banget nanti bisa nyenengin orang tua," ucap Dewi.
Yuvi menggaruk kepalanya sedikit kikuk. Beberapa waktu lalu memang terlintas untuk menjadi TKW, supaya bisa punya banyak uang. Namun, kekasihnya melarang dan berjanji membantu biaya kuliah untuknya. Akan tetapi, orang tuanya malah tidak setuju.
"Aduh ... Aku bingung harus bagaimana."
Setelah mendapat sambutan dari kepala sekolah dan para guru. Yuvi memutar pandangan ke kiri, kanan, depan, belakang.
"Feli di mana ya? Kok nggak kelihatan?"
__ADS_1
Akhirnya Yuvi memilih duduk di bangku-bangku sekolah sembari menunggu Feli sahabatnya, di bawah pohon rindang di sekolahnya. Ia membuka ponsel dan baru sadar sedari tadi, tak satu pun ada pesan masuk dari sang kekasih.
"Apa dia marah ya?"