
"Ayo pulang saja!" Bharada Jun jalan terbungkuk.
"Baik, Pak!"
Mereka semua berjalan menyusuri koridor dan keluar. Mata Axel yang berada dalam kerudung menangkap tiga sosok yang baru saja keluar dari sebuah mobil. Salah satunya adalah wajah wanita yang ia temui tadi malam di warung sate.
Axel menarik tangan Aiptu Leticya semakin cepat meninggalkan lokasi, tetapi wajahnya dingin meskipun melihat rona wanita itu terlihat dengan senyuman ceria, menggandeng tangan anak lelaki bernama Aziel.
Satu pria dewasa di antara mereka mengerutkan kening melihat tiga orang menjijikkan itu baru saja meninggalkan rumah sakit.
Ia melihat dua wanita berpakaian putih yang dipekerjakannya terlihat salah tingkah. Setelah memastikan Mia dan Aziel masuk terus menyusuri lorong menuju tempat biasa mereka duduk, Arsen mengajak karyawannya itu berbicara.
"Siapa mereka? Apa yang dilakukan orang-orang itu di sini?"
Para perawat itu menundukkan kepala, tubuhnya bergetar memasang wajah penuh ketakutan.
"Ma-maafkan kami, Dok."
"Saya menanyakan siapa mereka? Bukan meminta permohonan maaf dari kalian!"
"Tadinya mereka ingin berobat ke rumah sakit ini, Dok. Akan tetapi—"
"Kenapa mereka pergi?" sela Arsen, sang direktur utama rumah sakit ini.
__ADS_1
"Mereka ... mereka ... tidak memiliki uang untuk berobat, Dok."
"Apa mereka memiliki asuransi kesehatan seperti pada umumnya?"
Para perawat itu serempak menggelengkan kepala. Arsen kembali melirik ke arah orang-orang itu pergi. Akan tetapi, bayangan mereka sudah tidak terlihat lagi.
"Biar kan saja! Rumah sakit kita ini bukan rumah sakit milik pemerintah. Mereka telah salah tempat untuk memilih rumah sakit ini tetapi tidak mampu membayar." Arsen tersenyum memasang wajah sinis.
"Masih banyak yang tidak tahu diri di dunia ini, rupanya." Arsen pun melanjutkan langkah dan masuk menyusuri koridor.
Para perawat tersebut masih saling melemparkan pandangan dengan kode-kode mata dan kerutan di kening.
"Biar kan saja! Toh mereka juga tidak akan berani melaporkan rumah sakit ini," ucap salah satu nya.
"Tapi, aku masih merasa sangat khawatir," ucap yang satu lagi.
"Akting Pengacara Axel sungguh sangat keren!" ucap Aiptu Leticya.
"Ekheemm ... keren apa keeerren?" goda Bharada Jun, menyadari keanehan pada polwan sebagai intel dari tim penyidik kepolisian.
"Aaah, dia memang keren. Jadi, kita harus bagaimana dengan pelayanan rumah sakit itu?" tanya Aiptu Leticya.
"Sepertinya kita perlu membuat laporan kepada tim pengawas rumah sakit. Sudah beberapa kali saya merasakan kejanggalan atas pelayanan rumah sakit itu." Axel mengusap kepalanya, dalam benaknya kembali berkelumit dengan dugaan-dugaan tentang Mila, dan kehamilannya. Ada yang memanas di dalam hati, tetapi ia sendiri tidak mengerti kenapa.
__ADS_1
Axel pun mengusap wajahnya dengan kasar. Aiptu Leticya terlihat tak putus menandangi pria yang duduk di bagian depannya. Bharada Jun yang duduk di kursi kemudi tersenyum jahil seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh rekan kerjanya ini.
"Oh ya, Pak Pengacara Axel Anggara Kususma, hari ini saya sangat terkesan dengan kerja keras Anda dalam pengusutan khasus pencul!kan yang santer terjadi belakangan ini. Namun, apa saya boleh tahu tentang kehidupan pribadi Anda?"
Axel melirik sejenak pria yang duduk di sampingnya. "Tentu, jika tidak terlalu pribadi, saya tidak akan keberatan."
"Status Anda saat ini bagaimana?" tanya Bharada Jun sembari melirik Aiptu Leticya. Rekan kerja yang duduk di bangku belakang mereka mengedipkan mata pertanda setuju dengan lontaran pertanyaan sahabatnya itu.
"Saya sudah menikah," ucap Axel dengan lantang.
Dengan seketika rona pada wajah ceria Leticya berubah menjadi sayu. "Oh, Anda sudah menikah. Istri Anda pasti sangat bangga memiliki Anda."
"Saya harap begitu," ucap Axel dengan wajah sendu.
"Kenapa? Apa yang terjadi dengan keluarga kalian?"
Axel menggelengkan kepala, lalu membuang muka keluar. Mereka sedang menunggu Briptu Gilang, dan Dokter Farhan dari tim medis sebagai ahli visum pihak rumah sakit pihak kepolisian. Mereka adalah orang yang menyamar menjadi pemulung tadi.
"Saat ini, istri saya menghilang usai kecelakaan pesawat yang akan menuju Taiwan, beberapa waktu lalu."
Kedua orang tersebut terhening, mereka langsung teringat akan kejadian heboh kapal tenggelam beberapa bulan yang lalu.
"Jadi, istri Anda menjadi korban kecelakaan pesawat itu?" tanya Aiptu Leticya kembali, tetapi di balik pertanyaannya menyimpan sebuah harapan yang kembali naik dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Saya yakin, dia selamat. Hanya saja, keberadaannya tidak diketahui hingga saat ini," sanggah Axel.
"Saya mengerti bagaimana perasaan Anda. Saya bisa menjadi tempat untuk berbagi cerita jika Anda merasa butuh teman cerita," tawar perempuan dengan potongan rambut box itu.