Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
54. Aku akan Menjemputmu


__ADS_3

"Yeah! Lokasinya sudah kami pantau sejak kemarin. Pria yang bernama Arsen tersebut, saat ini bekerja melayani masyarakat di salah satu fasilitas kesehatan di kota ini."


"Selama masih aman, kami belum bisa melakukan tindakan apa-apa hingga kalian sampai di sini. Namun, sepertinya kalian sudah kelelahan karena perjalanan jauh melintasi banyak benua. Lebih baik kalian istirahat terlebih dahulu!" tawar Mr. John.


Drajat kembali memperhatikan Axel yang tampak kusut. "Baik lah, kami akan istirahat dulu sejenak. Setelah itu, ayo kita lanjutkan tugas untuk menyatukan insan yang dipisahkan oleh penjahat itu." ucap Drajat diakhiri jabatan tangan perpisahan.


"Saya ingin mencari bajingan itu saat ini juga." Namun, Axel menolak untuk beristirahat.


Drajat, pria yang sudah sangat lama bekerja pada divisi inteligen di kejaksaan agung ini, menatap Axel dengan tenang dalam beberapa waktu. "Lalu, setelah bertemu dengannya kamu mau langsung jatuh pingsan lagi?"


Axel tersentak dengan pertanyaan yang gamblang tersebut. Ia langsung teringat sempat tak sadarkan diri cukup lama setelah membawa Mila. Hingga membuat dirinya kembali kehilangan Mila, yang tak lain adalah istrinya. Axel akhirnya sepakat untuk beristirahat sejenak pada sebuah hotel di kota itu.


Namun, ternyata Axel tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Ponselnya saat ini telah menggunakan kartu yang baru, mencoba menghubungi kontak Mr. John yang telah didapatkannya lewat kartu tanda pengenal.


"Halo, Mr. John. Apakah Anda bisa mengatakan di mana lokasi keberadaan mereka saat ini?"


"Waah? Apakah istirahat Anda sudah selesai?" tanya seseorang yang ada di ujung panggilan.


"Saya tidak bisa memejamkan mata sebelum bisa memastikan bahwa istri saya baik-baik saja."


"Saya mengerti perasaan Anda ..."


Di tempat lain, seorang baru saja turun dari apartemen yang ia tempati, berjalan menuju halte ke lokasi pekerjaannya yang baru.


Di dalam bis yang ia tumpangi, sang supir mengerutkan kening karena merasakan mobil polisi terus saja mengikuti kendaraan yang ia kemudikan.

__ADS_1


"Apakah di dalam bis ini ada seseorang yang berbuat kriminal?"


Arsen melongo mendengar pertanyaan dari sang supir. Kepalanya pun berputar ke arah bagian belakang bis, dan wajahnya menegang melihat kendaraan polisi yang berada di belakang bis yang ia tumpangi.


"Stop! Stop! Stop!" Arsen memukul-mukul jendela bis tersebut membuat supir bis terkejut dan menginjak rem dengan dalam hingga bis tersebut berhenti mendadak.


Braaaak


Mobil polisi yang tidak menyangka bahwa bis tersebut berhenti mendadak pun tak bisa mengelak dari tabrakan.


"Aaaagggh!" teriak penumpang yang shock dengan apa yang baru saja mereka alami. Namun, semua masih dalam keadaan baik-baik saja.


Polisi yang berada di dalam kendaraan tersebut, mengalami sedikit cidera. "Ooh, shiit! What's wrong?" Supir mengalami pendarahan di hidung, sementara yang di sebelahnya mengalami cidera di kepala karena terbentur oleh jendela.


"No more!" teriak supir.


Arsen melihat palu yang ada di sisi jendela, mengambil palu tersebut dan memukulkannya dengan sangat keras.


Praaaaaang


Suara pecahan kaca terdengar membuat penumpang lain  refleks menutup wajah mereka dengan tangan maupun tas yang ada di tangan mereka.


Arsen melompat dan pendaratan tidak terlalu mulus. Ia terjatuh lalu melihat pintu kendaraan polisi yang berada di belakang dibuka. Arsen segera bangkit, ia pun berlari dengan sekencang mungkin.


Di tempat lain, Axel sedang berdiri di pintu masuk apartemen memegangi kertas yang berisi angka. "Sayang, aku akan menjemputmu."

__ADS_1


Akel segera berjalan menuju lift. Saat ia berjalan ke dalam lift, seseorang yang berlari tunggang langgang pun turut masuk ke dalam lift yang ia tumpangi. Dengan tergesa, ia menekan tombol penutup pintu lift.


Axel membelalakkan mata menyadari siapa yang baru saja masuk, segera menarik kerah baju Arsen.


"Akhirnya! Kau kutemukan keparat!" Axel langsung melayangkan pukulan pada wajah Arsen.


Namun, wajah Arsen hanya tertolak tetapi ia menyeringai kembali menatap Axel, mendorong Axel yang masih menarik kerah kemeja yang ia pakai.


"Seorang pengacara dari Indonesia, jauh-jauh datang ke sini pasti memiliki satu alasan penting." Ia menyeringai mengusap pipi yang tadi dipukul Axel.


"Sekarang aku mengerti kenapa kau berani mengakui bahwa istri orang lain adalah istrimu! Kau adalah orang gila dan benar-benar tak waras! Kau tak pantas lepas bergaul dengan manusia waras lainnya!"


Ting


Lift yang mereka naiki telah tepat berhenti pada lantai di mana Mila, alias Yuvita berada. Pintu lift terbuka, dan Axel bersiap untuk keluar. Akan tetapi, pintu itu menutup kembali dengan sendirinya.


"Kau tidak bisa membawanya! Karena setelah aku menemukan Mipa, maka dia adalah milikku!" Arsen menekan tombol menuju rooftop pada apartemen ini.


Axel kembali menekan tombol untuk lokasi Mia berada, tetapi Arsen memberikan hantaman yang kuat pada tubuh Axel.


Polisi yang tadi mengejar Arsen, mengawasi tujuan lift tadi hendak berhenti di mana.


Axel kembali menekan tombol untuk lokasi Mila berada, tetapi Arsen memberikan hantaman yang kuat pada tubuh Axel.


"Aaagghh!" Axel ambruk dan kesakitan luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2