
Axel memantau dari bagian belakang memastikan tidak ada yang mendekati mereka berdua. Namun, terlihat seorang wartawan berjalan mendekat, membuat Axel bersiap dengan satu tong sampah besar.
Axel telah mengenakan pakaian yang sama dengan Yuvi berjalan membawa tong dengan ukuran yang sangat besar. Ia mencegat sang pemburu tersebut mendekati istrinya.
"Permisi, Mas." ucap Axel pura-pura lewat menghalangi langkah sang wartawan.
Yuvita bergerak cepat meski rahimnya merasa kejang karena tegang dan gugup. Ia segera membuka pintu kendaraan, menaikan Aziel ke dalam mobil, dan ikut naik.
"Permisi, Mbak?" teriak Wartawan ingin mengejar mereka. Axel menaruh tong sampah besar itu di hadapannya.
"Tunggu, Mbak!" Wartawan menghindari Axel, melanjutkan pengejaran.
Tak kehabisan akal, Axel mengeluarkan sapu lidi dan pengki dari dalam tong sampah itu. Ia menyapu kaki wartawan yang mengejar istrinya.
"Apa yang lu lakukan?" teriaknya.
"Ada sampah di kakinya, Mas. Anehnya sangat mirip denganmu, Mas." Axel dengan sengaja menyapu sepatu wartawan itu hingga membuatnya melompat-lompat hingga perhatiannya teralihkan.
Mobil yang ditumpangi Yuvi telah bergerak meninggalkan lobi, langsung keluar dari area hotel. Setelah memastikan mobil tersebut menjauh, Axel beralih pura-pura menyapu bagian lain.
__ADS_1
Wartawan Sulung Kuwat tampak kesal akan tingkah tukang sapu itu. Lalu ia memandangi sepatunya yang menjadi bulan-bulanan tenaga kebersihan. "Sepatu mahal gue jadi rusak gara-gara dia," geramnya.
"Dendam kesumat apa lu sama sepatu gue?" rutuknya menuju pelataran parkir. Ia masih bisa memastikan kendaraan yang diikutinya kemarin, masih tegak berdiri pada posisi yang sama.
Sulung Kuwat kembali ke posisi di mana para wartawan sedang bercengkrama menunggu tokoh utama yang mereka cari.
Pada negeri yang berbeda waktu, seorang laki-laki sedang merebahkan tubuhnya bertopang pada kedua tangan. Tatapannya kosong memikirkan seseorang yang masih bersemayam di hati.
"Bagaimana keadaanmu di sana? Kamu pasti telah ditempatkan pada alam yang indah. Aku hanya ingin meminta maaf padamu atas segalanya. Karena hadiah yang kamu titipkan, tidak bisa kujaga dengan baik. Kenapa? Karena aku tahu, jika aku tertangkap ... hukuman paling berat akan mengarahkanku pada kematian. Karena itu lah yang pantas untukku yang telah tamak akan harta."
"Lebih baik, Aziel membenciku semenjak awal. Jika begitu, maka ia akan mudah melupakanku. Sehingga, jika aku mendapat hukuman mati, dia tidak akan terbebani saat ia dewasa nanti. Dia akan mudah melupakanku yang pernah menjadi ayahnya."
Pada piring yang sudah tergeletak begitu saja, tampak makanan yang dibuat dari makanan-makanan sisa seperti nasi, roti, lauk pauk dan sayuran. Makanan itu diberi nama nutraloaf.
Makanan sisa yang dicampur sedemikian rupa untuk dimakan napi di penjara.
Arsen bangkit menyandarkan tubuh pada dinding lalu menertawakan dirinya sendiri. "Bahkan, sebelum disidang pun aku sudah merasakan hukuman itu."
Nutraloaf, adalah makanan yang paling tidak enak yang ia rasakan. Namun, harus bagaimana lagi. Ini hanya salah satu hukuman dunia yang sudah mulai ia rasakan. Tawa itu berubah menjadi tangisan, ditambah rasa sepi yang mendera.
__ADS_1
Di tempat lain, Axel memastikan situasi lebih kondusif, ia menuju kendaraan yang tadinya terparkir. Kejadian ini tak luput oleh perhatian wartawan yang sedari tadi memantau mobil tersebut.
Sementara itu, Sulung Kuwat menyadari akan sesuatu. Pria berpakaian cleaning service tadi, kini masuk ke dalam mobil yang sedang terparkir.
"Pasti itu ...." Sulung Kuwat akhirnya mengerti, bahwa pria itu adalah orang yang mereka tunggu. Ia sengaja mengganggu kala seorang wanita berpakaian cleaning service yang membawa seorang anak, masuk ke dalam kendaraan yang ada di lobi tadi.
"Siial! Ternyata, mereka telah berhasil menipuku dan membawa anak itu kabur," rutuknya langsung masuk kendaraan yang telah berdiri semenjak kemarin.
Axel menyalakan mobilnya, segera meninggalkan lokasi. Saat wartawan-wartawan itu melihat kendaraan yang dipantau telah bergerak, mereka pun menuju kendaraan masing-masing.
Axel melaju diikuti oleh para pemburu berita tersebut. Mereka berharap bisa menjual berita yang menjadi perbincangan hangat saat ini di tengah masyarakat. Namun, ada satu kendaraan yang tidak mengirinya. Kendaraan itu menuju kediaman orang tuanya.
Sementara itu, Axel memastikan para wartawan tersebut mengikutinya menuju kantor Komnas Perlindungan Anak. Beberapa anggota yang bekerja di kejaksaan telah menunggunya di sana.
"Astaga, kenapa kamu memakai baju ini?" tanya Bharada Jun teringat akan aksi mereka beberapa waktu lalu di rumah sakit.
"Panjang ceritanya. Jadi bagaimana kata KPA mengenai kasus Aziel?" Pada tubuh Axel masih terpasang pakaian kebersihan hotel tadi.
Bharada Jun mengulurkan tangannya kepada Axel dengan senyuman penuh arti. Axel mengerutkan kening mencoba menerka apa yang menyebabkan hal ini.
__ADS_1