Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
111. Yuvi vs April


__ADS_3

"Kenapa bohong? Ini beneran. Kamu inget nggak, aku minta difotoin pakai hape kamu buat profil fesbuk aku dulu? Biar dia lihat aku." bisik Yuvi dengan suara pelan.


"Bohong!" Suara Feli terdengar semakin keras.


"Sumpah! Aku itu sudah punya pacaaaar!" Akhirnya, Yuvi meninggikan suara karena kesal sahabatnya ini terus saja berkilah.


Sehingga semua orang yang ada di rumah tahu bahwa gadis ini memiliki pacar. Padahal, beberapa waktu lalu, cuma ibu saja yang tahu. Namun, akhirnya semua tahu. Hal ini membuat saudaranya, April, berdecak kesal. Merasa terganggu saat sedang beristirahat di dalam kamar.


"Mana buktinya? Mana fotonya? Di mana tinggalnya? Kenapa tidak kamu ceritakan kepadaku selama ini?"


"Aaah, itu ... dia jauh." jawab Yuvi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Bohong! Kamu pasti bohong kan?" Suara Feli masih cukup tinggi.


"Aku nggak bohong! Sumpah! Zaki itu sama sekali tak masuk kriteriaku. Aku maunya pria dewasa. Kalau aku nggak bisa kuliah, nggak kerja, nggak ngapa-ngapain, sepertinya nanti aku mau privat jadi istri yang baik aja buat dia." Yuvi pun menutup mulutnya.


Ia sudah keceplosan dengan rahasianya selama ini. Ia kembali melirik ke arah pintu, khawatir jika kakaknya mendengar apa yang baru saja diteriaki.


"Kamu ini? Jangan menutupi kebohonganmu dengan kebohongan yang baru!" cetus Feli dingin.


"Iiihh!" Yuvi geram kembali membongkar ponselnya yang telah dilempar asal ke dalam lemari bukunya.


"Aku buktikan yaa! Aku tuh udah punya pacar! Kami nantinya akan menikah!" Tangan Yuvi telah memegang ponsel kosong. Ia mulai kasrak kusruk mencari batrai dan sim-card yang entah terbang ke mana.


"Sudah lah! Aku malas bicara denganmu!" Feli menarik tasnya yang tergeletak di atas ranjang.


"Tunggu! Aku sudah menemukan batrainya! Aku akan menghubungi dia!" teriak Yuvi mencegah kepergian Feli.


'Duh, ke mana kartu sim-card nya? Kenapa harus di saat genting begini hilangnya?' 


Feli sudah pergi meninggalkan rumah sederhana Yuvi. Namun, gadis itu belum juga menemukan sim-card untuk ponselnya.


"Oooh, jadi kamu diam-diam udah pacaran ya? Nikah?" Mbak April telah bersidekap dada berdiri di pintu kamar Yuvi.


Yuvi merasakan wajahnya memanas dengan seketika. "Aah ... hmmm ... emang kenapa Mbak? Yuvi kan udah besar lho? Udah tamat sekolah ini lho?"

__ADS_1


"Lho? Feli tadi mana?" Ibu muncul membawa nampan berisi teh hangat dan singkong rebus. Ibu tampak lebih tenang dibanding April yang baru saja mendengar berita tersebut.


"Udah pulang, Bu. Mereka baru aja berantem gara-gara rebutan cowo. Katanya Yuvi rebut cowonya dia," adu Mbak April.


Yuvi menggelengkan kepala dengan cepat. "Bukan! Nggak ada kerjaan amat aku pacaran sama adik kelas?" Yuvi memanyunkan bibirnya kembali.


"Pacaran ... Pacaran? Dah ngayal tuh, Bu punya pacar orang kaya." April masih berusaha mengompori sang ibu.


Yuvi menatap langit-langit rumah hingga bagian putih pada indera penglihatannya lebih besar dibanding pupil. "Aaa ... hmmm ...."


"Ayoloh? Kenapa kamu pacaran? Aku aja belum punya pacar, fokus untuk mencari uang."


Yuvi membulatkan bibir melirik tajam kepada sang kakak. "Habis, Mbak'e tak cantik sih? Makanya tak laris," celetuknya.


"Eeuuhh, enak aje! Banyak cowok yang ngajak aku pacaran, tau nggak?"


"Enggak!" jawab Yuvi mencibir.


"Tapi aku tolak semua, gara-gara mau jadi orang kaya dulu."


Yuvi mencibir sepanjang kakaknya berbicara. "Alaah? Kapan jadi kayanya kalau jadi tukang angkat-angkat barang dan siapin pesanan pelanggan di toko kelontong itu?" desisnya pelan.


"Udah! Udah! Jangan berantem!" cegah sang ibu.


"Abis Mbak ini julid banget, Bu."


"Dasar, dibilangin malah ngeyel!" April masih mencecar adiknya itu.


"Nanti kalau kamu sibuk pacaran lalu hamil di luar nikah gimana? Banyak kasus akhir-akhir ini tuh! Bisanya bikin malu aja tau nggak?"


"Apaan sih Mbak? Aku pacaran sama ini doang!" Yuvi menggoyangkan ponselnya yang masih mati.


April mendengkus. "Lihat ini, Bu. Ini hanya akal-akalannya dia aja. Jadi Ibu siap-siap aja nanti dimintai beli hape mahal."


Yuvi menyilangkan kedua tangannya. "Mbak ini kenapa sih? Pikirannya negatif thingking mulu padaku? Aku kan nggak ganggu-ganggu Mbak? Lagian aku gak minta apa-apa sama Ibu."

__ADS_1


"Iiihh ... ngejawab lagi kamu yaaaa?" April semakin naik pitam.


"Lagian maksudnya pacar Yuvi itu jauh. Jadi hanya bisa dihubungi lewat ini!" Ia kembali mengacungkan benda kecil yang ada di tangannya.


"Kenapa kamu yakin banget sama dia? Ketemu saja belum pernah kan? Mending nggak usah pacaran-pacaran dulu. Anak temen Ibu baru aja berangkat ke Taiwan. Kalau kamu belajar bahasa asing kan bisa kerja di luar negeri." Ibu mulai menyela pertengkaran itu.


"Tapi, Buu ... nanti pacar aku ditinggal dong. Orangnya ganteng banget lho? Kalau diembat orang gimana? Sebentar lagi dia akan jemput aku ke sini, Bu. Jadi boleh ya, aku ikut dia aja?"


April bersidekap, membuang muka dan mendengkus. "Bod*h, jangan macam cewek mur4han gitu dong!" desisnya.


Yuvi mengerutkan kening dan bersiap ingin memukul kakaknya. "Aku nggak bod*h! Aku nggak ngapa-ngapain! Mbak aja yang kurang cantik! Makanya nggak ada yang ajakin nikah!"


"Sudah! Sudah! Jangan berantem lagi!" Sang Ibu melerai sampai kehabisan suara.


"Nanti kalau pacarmu tidak sesuai ekspektasi gimana? Atau bisa jadi dia itu Om-om yang sudah beranak, tapi ngaku-ngaku masih muda gimana? Ah, ada kemungkinan lagi dia sejenis oknum yang ingin menculik dan memperk*sa wanita."


"Nanti kalau terjadi apa-apa kan kami semua juga yang repot gara-gara kamu!" April terus menodong dengan dugaan-dugaan yang memang banyak sekali terjadi akhir-akhir ini.


"Dia gak kayak gituuuu!"


"Dari mana kamu tahu? Kalian belum pernah ketemu, dan belum ketahuan belangnya!" April terus menyerang Yuki dengan logikanya yang memang sangat masuk di akal.


"Pokoknya dia gak kayak gitu! Mamas itu ganteng dan bener-bener masih muda kok!"


"Kamu lihat foto di sosmednya? Bisa jadi itu foto hasil comotan atau filter kayak yang akhir-akhir ini sering digunakan pengguna sosmed!" April mendelik seakan sudah tak berminat lagi berlaga dengan suara.


"Sudah! Kan Ibu bilang, sudah!" Ibu mulai berdiri di antara dua saudara yang saling menatap dengan tajam.


"April, kamu keluar dulu gih! Kasihan Yuvi terus kamu cecar."


April menghela napas dan akhirnya keluar. Yuvi masih mendelik dengan bibir manyun. "Dia gak jahat, Bu. Dia baik banget malah, Bu."


"Sudah, sudah! Sekarang kamu pikirkan lagi apa yang memurutmu baik. Jangan bertengkar lagi dengan kakakmu hanya karena membela dia! Belum tentu dia sebaik apa yang kamu pikirkan. Bisa jadi dia mafia keji yang memperjualbelikan gadis-gadis muda dibawa ke luar negeri."


Mata Yuvi telah berkaca-kaca. Hatinya terasa pedih saat laki-laki yang menjadi cinta pertama ini terus dihina seperti itu.

__ADS_1


"Dia tidak seperti itu, Bu."


Ibu menyadari perubahan raut wajah putri bungsunya ini. "Maafkan Ibu. Kami ini keluargamu! Wajar saja kami merasa khawatir."


__ADS_2