
"Bukan gitu cara menidurkannya, yang ada dia makin ga bisa tidur kalau dikekep kayak gitu?" Yuvi mendekat berada pada sisi satu lagi di samping Aziel.
Yuvi menepuk lengan suaminya, berharap ia melepaskan jepitan terhadap bocah malang tadi. Wajah Axel mengernyit saat istrinya harus turun tangan lagi untuk menidurkan Aziel.
"Coba, tadi apa doa sebelum tidur yang Papa ajarin?" bisik pak suami.
Aziel yang sudah bebas tersenyum menengadahkan tangannya. "Allahuma bariklana fima—"
"Ha ha ha ...." Tawa Axel meledak begitu saja. Yuvi tersenyum menggelengkan kepala.
Axel mengusap kepala Aziel dengan gemas. "Apa kamu yakin itu yang Papa Axel ajarkan tadi?"
Aziel berpikir sejenak. "Yang mana doa sebelum tidurnya?"
"Bismillahnya dulu dong?" titah Axel.
Aziel pun membaca kalimat yang diminta Axel, lalu mengikuti kembali doa yang dibimbing oleh pria itu.
"Kalau begitu, kamu bobo ya? Papa mau bobo sebelah sini aja." Ia beringsut pindah posisi ke belakang istrinya.
"Pokoknya, kamu tidak boleh tidur." Ia berbisik tepat pada daun telinga istrinya, lalu memeluk sang istri dan mengecup t3ngkuk Yuvi dengan gemas.
__ADS_1
Yuvi merasakan hal aneh pada dirinya melirik ke belakang menatap bayangan sang suami. Ia merasakan sesuatu yang tak bisa diungkapkan karena perlakuan suaminya ini.
Axel sekali lagi mengecup t3ngkuk Yuvi, membuat istrinya itu refleks mendorong ke belakang gara-gara geli. Akan tetapi, suaminya kembali mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Sekarang kamu tidur yah?" Yuvi mengusap punggung Aziel, tetapi bocah itu mengernyitkan wajah.
Ia merasa heran melihat kelakuan orang yang baru saja menjepitnya, kini tengah sibuk memainkan Mama Mila dari belakang. Aziel bangkit mengintip aktivitas yang dilakukan oleh Papa Axel tanpa suara.
"Papa Axel main apa sama Mama Mila?" tanyanya penasaran.
Axel menghentikan gerakannya berpura-pura memejamkan mata. "Engga, Papa udah bobo kok."
Aziel mengangguk lalu kembali merebahkan diri dalam pelukan Yuvi. "Ooh, Papa udah tidur, Ma ...."
"Ayo, sekarang kamu bobo juga!" bisik Yuvi mengusap punggung Aziel. Aziel menganggukan kepala memejamkan mata.
Namun, tak beberapa lama kemudian, Aziel kembali membuka matanya.
"Lho? Kenapa bangun lagi?" tanya Yuvi.
"Aziel belum ngantuk, Ma."
__ADS_1
"Kalau begitu, Mama aja yang bobo." Yuvi memejamkan matanya.
Seseorang yang berada di belakangnya mengerutkan wajah dengan bola mata liar tidak setuju jika istrinya benar-benar ketiduran. "Please, jangan tidur ... kita reunian dulu sepanjang malam ini."
Yuvi mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak membuka matanya sedikit pun. Biasanya ini menjadi trik jitu supaya Aziel segera memejamkan mata.
Aziel mengintip kembali ke belakang Mama Mia ini. "Papa Akel belum bobok?"
Axel langsung merebahkan dirinya kembali pura-pura tidur. "Papa udah mimpi, kok."
Aziel memanyunkan bibirnya, lalu kembali pada posisi tidur dalam dekapan Yuvi. Yuvi melanjutkan kelonannya terhadap Aziel.
"Ma, Papa Aziel kok marah-marah terus ya, Ma? Nanti, Papa Axel akan marah-marah sama Aziel juga nggak, Ma?"
Axel dan Yuvi mendengar celoteh Aziel, tetapi mereka memilih diam dalam pejaman mata.
"Papa pasti sedih, sendirian di tempat jauh sana. Pasti bingung, ga ada yang bisa dimarah-marahi lagi. Hmm, Papa udah bobo belum ya? Kalau Papa pulang, nanti Aziel mau kasih Papa eskrim. Kalau Papa tidak suka, nanti eskrimnya buat Aziel lagi ...."
Meski tidak dibalas oleh Yuvi, Aziel terus berceloteh tentang papanya. Entah berapa lama ia berceloteh, akhirnya kata demi kata itu semakin pelan dan hening.
Axel hening tak bergeming mendengar cerita Aziel tentang sang ayah, menyimpulkan bahwa Aziel tidak pernah membenci ayahnya. Meskipun dengan segala sikap berlebihannya kepada anak yang masih lugu ini.
__ADS_1
Axel mulai beringsut mengecek istrinya yang hanya diam. "Sayang? Kamu udah tidur juga?"