Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
114. Seorang Lelaki


__ADS_3

"Ya udah deh, pelit! Dasar kakak durhaka!"


"Apaaaa?" April bangkit dan mengejar adiknya.


Yuvi langsung kabur ke kamar dan mengunci pintunya. Dari luar terdengar gedoran pintu dari saudara satu-satunya ini.


"Dasar! Kak Ros!" Yuvi kembali mencabik kesal.


Yuvi memandangi ponselnya yang masih kinclong itu. "Mas ... gimana ini? Aku nggak bisa makainya."


*


*


*


Di seberang sana, seseorang sedang menunggu untuk dihubungi, tetapi tak kunjung mendapat kabar juga.


Ia kembali membuka akun fesbuk sang kekasih. Memandangi foto yang telah dikomentari banyak orang, tetapi orangnya belum muncul juga.


"Apa kamu selingkuh dariku?"


Axel mulai meragu. Ada rasa sesal karena terlalu terburu-buru menganggap gadis itu sebagai pencarian terakhirnya.


"Axel, gimana surat izinnya? Udah dapat kabar dari notaris?"


Sang ayah yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya, membuyarkan lamunan panjang Axel yang terus memandangi potret gadis berseragam. Hal ini membuat sang ayah tertarik dan menarik benda pipih itu.


"Wiih, siapa ini? Pacar barumu setelah putus dengan Liani? Masih sekolah?" Indra menyerobot pertanyaan tanpa sekat.


"Aah, hmmm ... entah lah, Pa." Axel membuka laptopnya, pura-pura sibuk dengan kegiatannya.

__ADS_1


"Manis juga, namanya siapa?"


Axel melirik mengernyitkan wajah kikuk. "Yuvita, Pa."


"Woooh, namanya secantik orangnya." Sang ayah menyerahkan ponsel tersebut kembali pada putra sulungnya.


"Tapi, kenapa kamu terlihat tidak bersemangat akhir-akhir ini? Apa karena belum ketemu lagi gara-gara sibuk nolongin Papa?"


"Oh, bukan Pa."


"Oh, syukur lah kalau bukan karena andil Papa. Lalu kenapa suratnya belum kelar juga?" Sang ayah bersidekap berdiri di belakang.


"Oh, iya ... ini langsung dicek kembali."


Sang ayah menatap panjang putranya ini yang terlihat semakin lesu semenjak beberapa hari belakangan. "Ya udah, kalau kamu mumet, Papa minta tolong notaris aja."


"Oh, jangan, Pa. Percuma dong, anaknya kuliah jurusan hukum. Masa surat perizinan ini aja aku gak bisa?" cegahnya.


"Aku ingin memperlihatkan kemampuan yang sudah aku tempuh selama menjadi mahasiswa selama ini."


Axel mengangguk mantap. Setelah sang ayah keluar, dia mencoba menghubungi kembali, tetapi masih belum masuk juga.


"Oke ... kita tunggu, sampai kapan akan begini terus?"


Sore hari ia diajak jalan oleh dua sahabatnya. Mereka mengajak untuk pria yang dirudung rindu yang belum putus ini, nonton bioskop mengenai kisah percintaan plus aksi yang sedang viral diperbincangkan oleh semua orang.


Saat asik menonton, pada ketegangan maksimum, sebuah panggilan masuk, tetapi karena merasa terganggu, ia segera merejek panggilan tersebut. Ia melanjutkan keseruan tontonan film dalam aksi menegangkan.


Panggilan masuk kembali, dan kali ini dia memperhatikan layar pipih itu dengan seksama di kegelapan ruangan bioskop.


"Ini panggilan fesbuk? Jangan-jangan ...."

__ADS_1


Axel segera menjawab panggilan tersebut. Akan tetapi, kebisingan sound system dalam ruangan itu membuatnya tak bisa mendengar apa pun. Dengan cepat, ia bergerak keluar barisan, tetapi dicegat oleh dua kawannya.


"Ke mane lu?"


"Ada panggilan masuk nih."


"Kite ikut! Nanti tiba-tiba lu kabur aja ninggalin kami berdua."


Axel mencegat mereka mengikutinya. "Nggak usah! Lu pade nonton aja!"


"Nggak mau! Nanti lu main kabur aja kita malah masih asik-asik aja di dalam."


Akhirnya mereka bertiga sepakat keluar, dan panggilan yang tadinya telah berakhir. Axel memperhatikan dengan seksama. "Yuvita?"


"Siapa?" tanya kedua sahabatnya serempak.


Axel tidak merespon pertanyaan kedua kawannya tersebut. Ia memilih menjauh dan mencoba melakukan panggilan ulang. Ternyata panggilan tersebut tak kunjung dijawab. Setelah beberapa kali ia mencoba, panggilannya tak dijawab juga.


"Apa yang terjadi? Kenapa ia hanya menggunakan fesbuk? Kenapa tidak langsung lewat WA atau telepon aja sekalian?"


Axel mencari kontak panggilan terakhir yang selalu diperiksa setiap waktu. Akan tetapi, nihil, panggilannya masih tak kunjung masuk juga.


"Kamu kenapa sih?" gumamnya setengah kesal.


Saat ia mulai merasa putus asa, ponselnya kembali bergetar, masih dari orang yang sama. Kali ini dia menjawab dengan cepat.


"Kamu ke mana aja? Kenapa tidak bisa dihubungi? Kamu selingkuh dariku ya?" Kata-kata tersebut meluncur begitu saja dari mulut Axel.


"Maas, iih ... udah capek-capek berkelana mendaki gunung melewati lembah mencari tumpangan wifi, malah dituduh selingkuh. Ya udah, deh ... aku tutup aja teleponnya. Aku kirimkan lagi hapenya!" rutuk suara yang sangat ia rindukan di seberang.


"Jangan! Jangan ditutup! Aku kangen sampai nggak tahu lagi mesti cari kamu ke mana? Kamu menghilang gitu aja, makanya aku belikan hape. Aku khawatir mengira hapemu rusak karena sudah mengalami penuaan."

__ADS_1


"Enggak rusak sih." Lalu terdengar tawa renyah yang membuat Axel terbucin-bucin selama ini.


"Kalau nggak rusak kenapa nggak bisa dihubungi? Kamu beneran selingkuh ya?"


__ADS_2