Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
94. Abang


__ADS_3

Beberapa lama sang guru merenung, lalu ia menggelengkan kepala. "Bagaimana pun, Aziel adalah Aziel yang kami semua kenal. Siapa pun orang tuanya, dia berhak mendapatkan pendidikan yang layak."


Guru tersebut menaruh informasi itu begitu saja di atas meja. Akan tetapi, ada salah satu guru yang penasaran membaca keterangan anak populer di sekolah ini, akhirnya guru tersebut membesarkan mata.


"Apa yang Bu Juwi lihat?" Tangan guru kelas Aziel segera menarik berkas data milik Aziel yang hampir saja terlupa olehnya.


"Aaah, e-engga Bu Endah. Tadi mau pinjem ini aja," ucapnya menarik krincingan yang ada di atas meja guru kelas Aziel.


"Ooh ...." Guru Aziel tersebut melipat data tersebut menyilakan rekan kerjanya beranjak dan menjauh dari meja kerjanya.


Namun, sang guru dari kelas lain yang bernama Juwi tadi, dengan pasti mendengar cerita mengenai Aziel. Ia pun sempat membaca nama yang tertulis di dalam data tersebut. Matanya berputar cepat, ia merenung sejenak, lalu beranjak pergi.


Sementara itu, guru Aziel menyimpan semua data siswanya dengan baik. "Aziel adalah anak baik. Jika dibesarkan oleh orang yang tepat, maka dia akan tumbuh dengan baik."


*


*


*


"Ma, apa Miss Endah tidak marah, kalau Aziel tidak ikut belajar dengan teman-teman hari ini?" Aziel menggenggam tangan Yuvi yang mengajaknya kembali ke mobil, di mana Axel masih menunggu mereka.

__ADS_1


Jendela kendaraan di samping pengemudi turun. "Sayang, Aziel dudul di sini aja ya?" pinta Axel menepuk jok kosong di sampingnya.


Yuvi melirik Aziel. "Mau duduk bareng Papa, Ziel?"


Aziel membulatkan bibirnya. "Nggak mau," celetuknya membuat Axel mengerutkan kening.


"Ooh, kamu gak mau temenin Papa, Cah? Kalau begitu, Mama yang duduk di depan ya? Kamu sendirian duduk di belakang." Axel mengulurkan kepalanya lewat jendela mengintip sang bocah.


Aziel melongo dan menggeleng kepala cepat. "Ga maauu ..." rengeknya.


"Ayoo, temenin Papa, dong? Masa Papa dibiarkan sepi sendirian jadi supir bayaran yang tak digaji?" guman Axel.


Aziel melirik Yuvi yang masih berdiri di sampingnya. "Terus, nanti Mama sendirian duduk di belakang dong?"


Namun, Yuvi hanya menyambut uluran tangan itu dengan tangannya. Axel menggenggamnya dengan segera. Aziel bergantian melirik dua orang ini, lalu mengambil posisi berada di bawah tangan yang tergenggam mesra dalam tatapan hangat. Hingga mereka berdua refleks melirik sebuah kepala yang sudah berada tepat di bawah tangan yang saling bergenggaman itu.


"Cah, kamu ini ganggu Papa dan Mama mesra-mesraan mulu ya?" Azel menarik pipi Aziel dengan gemas.


"Aziel juga mau ikut mesra-mesraan. Masa Aziel gak diajak mesra-mesraan?"


Axel mengacak rambut Aziel dengan gemas. "Ayo lah, Cah! Temanin papamu ini biar gak kesepian nyetir sendiri." Axel mundur dan membuka pintunya.

__ADS_1


Aziel melirik ke arah perut Yuki dan membelainya dengan lembut. "Dek, Abang mau temenin Papa dulu ya? Abang mau bujuk Papa dulu biar gak rewel lagi ya? Adek jangan nakal di dalam sana yah? Jangan tendang-tendang Mama terus. Nanti Mama pengen pipis lagi, gimana?"


Axel tersenyum gemas melihat kelakuan Aziel. Yuvi mengusap kepala Aziel merasa lucu juga.


"Kamu mau dipanggil Abang sama adek?"


"Iya, Ma. Aziel denger adik temen Aziel manggilnya Abang. Aziel juga mau dipanggil Abang."


"Kamu niru-niru aja? Ganti dong? Kakak atau Mas, atau apa gitu?" ucap Axel.


"Ayo masuk! Mari kita menjemput ingatan Mama pulang ke kampung halamannya," ucap Axel dengan semangat.


...****************...


Kali ini, karya teman Author yang kece banget nih ... Semua pasti kenal niih, yuuuk mampir yaaah ...


Judul: Cinta untuk Tuan Arga


Author: Lichalika


__ADS_1


Jangan lupa di-subscriber + like + komentar yaaah


__ADS_2