Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
80. Arsen Kabur


__ADS_3

Kendaraan itu, diiringi oleh beberapa pengendara motor melesat cepat menuju area tertentu. Mereka semua bersembunyi menunggu sesuatu.


Tak lama kemudian, iring-iringan mobil rantis bewarna hitam dikawal ketat bersama mobil polisi lain dan kendaraan roda dua sebagai pembuka jalan.


Pada puncak sebuah bangunan, tampak beberapa manusia yang tertutup secara keseluruhan, mengeluarkan beberapa benda yang sangat mirip bom. Akan tetapi itu bukan bom. Benda itu bisa mengeluarkan gas beracun mematikan bagi yang menghirupnya. Masing-masing anggota telah bersiap dengan senjata api berlaras panjang yang telag mereka kokang dan siap digunakan.


Ketika iring-iringan kendaraan pengamanan itu telah muncul, seorang yang ahli menembak jarak jauh membidik salah satu roda pada kendaraan yang membawa Arsen.


Ciiiiit


Kendaraan itu seketika oleng hingga membelok tidak terkendali membuat polisi yang menggunakan sepeda motor terseret dan kecelakaan hebat pun tak dapat dihindari. Suara benturan beruntun memekakkan telinga menggema di wilayah itu.


Para pria yang sangat tertutup, kini memasang masker khusus anti gas beracun. Mereka semua saling menganggukkan kepala dan melemparkan bola yang mengeluarkan gas beracun.


"Aah, gas beracun," teriak salah satu polisi membuat tim tersebut mulai kalang kabut.


Di dalam kendaraan, pria memakai baju orange menyeringai meskipun pelipisnya mengeluarkan darah segar. "Sepertinya, aku tidak jadi mati."


Ia segera menutup rongga pernapasan dengan kerah bagian depan bajunya. "Kano! Aku tahu kamu akan membebaskanku!"

__ADS_1


Di luar kendaraan, kekacauan tengah terjadi. Banyak yang sudah lemah karena menghirup gas beracun dengan skala besar. Ada yang menyiapkan senjata bersiap pada hal yang akan terjadi.


Namun, gas beracun membuat mereka sesak. Satu per satu pasukan berseragam coklat tersebut jatuh. Saat itu pula anggota berpakaian serba hitam, keluar mendekati kendaraan yang diisi oleh Arsen.


Linggis pun digunakan hingga merusak kunci dengan gembok yang sangat besar dalam waktu singkat. Satu masker anti gas beracun sudah siap pada tangan anggota lain.


Saat pintu dibuka, Arsen segera melompat disambut anggota lain menggunakan masker. Arsen menghirup udara dengan dalam hingga ia merasa benar-benar lega.


"Apa Anda baik-baik saja, Boss?"


Arsen mengangguk dan dipandu menuju kendaraan mereka yang tadinya disembunyikan.


*


*


*


Pada firma hukum tempat Axel bekerja, hiruk pikuk kasus-kasus kriminal yang terjadi pada masyarakat, masih mengisi waktu Axel dan karyawan lain yang bekerja di sana.

__ADS_1


Dalam mengecek keabsahan data kasus remeh yang ia tangani saat ini, sebuah senyuman tersungging pada bibir Axel. Kebahagiaannya terasa utuh meskipun sedikit mendapat gangguan si pengacau cilik yang selalu mengekor pada istrinya ke mana pun.


"Ah, ya ... mungkin memang seperti ini rasanya punya keluarga utuh, ditambah anak sulung yang sudah gede saja tanpa perlu dikandung oleh istriku. Hmm, nanti mau belikan apa untuk mereka ya?"


"Woooi!"


Axel tersentak oleh kejutan yang dilakukan oleh bawahannya yang tiba-tiba saja memukul meja kerja.


"Waaah, Bapak Axel ... dari hari ke hari Anda terlihat semakin cerah. Sepertinya, jatah yang ditabung selama beberapa bulan ini sudah dirapel dalam beberapa malam ternyata."


Semua orang yang mendengar ucapannya, tersenyum tipis menggelengkan kepala karena ia terus menggoda Axel, semenjak beredar kabar istrinya telah kembali. Namun, orang yang diganggu berlaga seolah tak mendengar sama sekali.


Axel membolak-balik Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, melirik sesekali karyawan yang menggodanya. Tiba-tiba, seorang wanita yang bertugas sebagai sekretaris Axel mendekat.


"Maaf, Pak ...."


Akel menolehkan kepalanya kepada sang sekretaris bernama Rasti. "Iya, ada apa?"


"Begini, Pak. Barusan Pak Arifin pihak kejaksaan meminta saya untuk menyampaikan pesan, agar Pak Axel untuk menghadap ke Kantor Kejaksaan saat ini juga."

__ADS_1


__ADS_2