Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
104. Kecengan Baru


__ADS_3

Dirga dan Hendri melongo. Sikap berbeda yang sangat kentara ditunjukkan oleh gadis yang tadinya berlaku imut di hadapan Axel.


"Maaf, Neng. Tadi gak sengaja. Temenku tiba-tiba muncul, nepuk bahu aku." Dirga kembali menyalahkan Axel yang telah sibuk menyodok bola bewarna putih seolah tak memedulikan apa yang ada di belakangnya.


"Ooo begitu." Kedua tangan gadis tadi menyatu disandarkan pada pipi. Senyuman manis kembali menghiasi bibirnya.


Dirga melirik Hendri, dan kawannya itu hanya mengedikan bahu. Mereka memperhatikan gadis tadi yang berjalan mendekat ke sisi Axel. Kedua tangannya bertopang pada meja biliar dan ia melirik pada pria yang memesona hati tengah sibuk sendiri pada aktivitasnya.


"Hai ... namamu siapa?" tanya gadis itu mengulurkan tangan tepat di hadapan Axel yang menunduk berkonsentrasi memperhitungkan koordinat tembakan terhadap cue ball.


Axel yang merasa terganggu memilih berpindah pada posisi lain. Namun, si gadis itu terus mengikuti tanpa menurunkan tangannya sedikit pun.


"Ck ...." Akhirnya Axel berdecak kesal.


"Nama kamu siapa?" Ulang gadis itu kembali.


"Emang penting?" Axel tak melirik sama sekali.


"Iya, penting! Soalnya mau minta kompensasi sudah membuat ini aku sakit." Ia menepuk bagian belakang tubuhnya tadi.


Axel melirik sejenak. Setelah itu, ia mengeluarkan dompet, mengambil dua lembar uang kertas bewarna merah. "Segini cukup?"


Axel menaruh di atas meja biliar dan kembali sibuk dengan stiknya. Namun, gadis itu mengerutkan kening.


"Aku mau kamu bayarnya pakai hapemu!"


Axel melirik gadis itu mengerutkan keningnya kembali. "Mahal amat?"


"Iya! Buruan! Mana hapemu!"


Kali ini, Axel mengeluarkan kartu ATM miliknya. "Gue gak punya kartu kredit, lu boleh nguras sisa-sisa yang ada di sana." Axel menaruh kartu tersebut di atas dua lembar uang yang ia keluarkan tadi.

__ADS_1


Gadis itu mendengkus menghentakkan kedua kakinya. "Sudah lah! Cakep-cakep kok blo-on!" Ia beranjak dan meninggalkan Axel kembali pada meja biliar tempat ia berasal.


"Hei, Tong ... lu geblek ape ye? Ada cewek cakep, malah dikacangin gitu. Kayaknya dia suka sama elu. Kan mayan buat jadi pendamping wisuda!" ucap Dirga.


"Ooh, gue gak tertarik." Axel memasukan kembali lembaran uang dan ATM-nya tadi.


Ia melanjutkan permainan dan tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat SMS masuk. Tak ada yang mengirim SMS kepadanya selain orang yang tak dikenalnya tadi.


[ Maaf ya, Kak, Bang, Om, atau siapa aja. Hp-nya mati. Batrainya udah soak. Udah diganti, tapi sama aja ]


Sekilas senyum tipis muncul di bibir Axel. Dirga menangkap hal itu dan langsung mendekat mengintip pada ponsel sobatnya tersebut.


"Lu udah punya kecengan baru?"


Axel tersentak dan menyimpan benda pipih tersebut kembali pada kantong jakek jins yang ia kenakan.


"Ah, gak asik gaya lu! Pantes aja cewek secakep itu dicuekin. Ternyata oh ternyata, diam-diam punya yang baru." Dirga bersidekap dada melirik kawannya itu.


"Ah, enggak, biasa aja."


Dirga dan Hendri langsung memberondong Axel dengan kecurigaan. Namun, Axel terus mengelak.


Beberapa hari kemudian, di heningnya jalanan kota pada waktu dini hari, tiga unit motor sport melesat dengan cepat. Tak lama kemudian satu pemotor yang berada pada urutan paling depan, mengacungkan tangan, dan mulai memperlambat laju kendaraannya.


Kaca penutup helm full face tersebut diangkat dan matanya menyipit karena tertawa puas. Ketiga motor tersebut menepi dan akhirnya mereka turun.


"Nah, seperti kesepakatan! Kalau lu menang, lu harus cerita!" ucap Hendri, disambut kekehan Dirga menggelengkan kepala.


"Anjiir, emang sejak kapan kesepakatannya berubah? Bukannya kalau gue kalah, baru gue suka-suka ceritanya?" elak Axel yang terus ditodong oleh kawan-kawannya.


"Pokoknya, kalau elu menang, apalagi kalah, tetap lu harus bongkar semua ke kita-kita! Bener gak, Ga?" ucap Hendri, ditambah harapan penguatan oleh Dirga.

__ADS_1


Dirga mengacungkan jempol tanda setuju. "Lagian, lu gak asik banget. Senyam-senyum sendiri kayak orang gila di kampus megang-megang hape, tapi gak cerita-cerita sama kita. Siapa sekarang kecengan baru lu? Masa kita-kita gak dikasih tau?"


"Ah, gue bingung ceritanya. Yang jelas gak ada kata jadian sama sekali sih. Deket gitu aja." Akhirnya keluar keterangan dari mulut Axel.


"Terus ... terus ... bisa dong buat jadi PW (pendamping wisuda)?" tanya Dirga kembali.


"PW mulu kerjaan lu? Bosen gue dengernya!" rutuk Axel.


"Lah? Cewek kan emang itu gunanya dicari oleh para tetua yang tersisa di jurusan kita." sanggah Dirga.


"Aaah, pokoknya nanti yang jadi PW pas gue wisuda cuma emak dan babe gue! Jangan banyak tanya!" ucap Axel ketus.


Saat sampai di rumah, Axel terpikir pada pertanyaan Dirga. Ia telah bersandar pada kedua tangan di atas bantal. Ponselnya kembali dibuka membaca pesan bocah baru gede yang ternyata berada di tempat yang jauh.


Waktu telah menunjukan pukul tiga dini hari. "Dia pasti sedang tidur, aaah ... gue kenapa? Dia hanya bocah. Gak mungkin jatuh cinta aja gara SMS-an doang kayak gini."


Drrtt


Drrrtt


Ponsel Axel bergetar, tertulis nama Snow White Bar2.


"Lah? Panjang umur."


...****************...


Lagi lagi dan masih ada lagi karya kece dari sobat Author yang harus kakak intip...


Judul: Istri Bayangan Tuan Arogan


Author: Ocean Na Vinli

__ADS_1



Mari diramaikan yuuukk...


__ADS_2