Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
62. Perselisihan Axel dan Aziel


__ADS_3

Axel mencari istrinya yang membawa Aziel entah ke mana. Tidak seperti Indonesia, yang memiliki banyak warung di mana-mana, negara ini memiliki aturan tersendiri untuk pembangunan toko.


"Mama, masih jauh ya?" tanya Aziel yang terlihat cukup lelah dalam perkelanaan mencari tempat jajan di negeri ini.


"Mama kurang tahu juga, Ziel. Tokonya di mana ya?" Mila memutar kepala ke kiri dan ke kanan.


"Apa kita kembali aja?" tawar Mila.


"Tapi, Aziel mau permen, Ma." rengeknya.


"Mama capek, Ziel." Mila menyeka keringatnya karena cuaca yang cukup panas, melangkah tanpa tahu arah.


Aziel melirik wanita itu, lalu berjalan di hadapan Mila. Ia membungkuk dan tangan ditekuk ke belakang. "Sini, Ma. Biar Aziel yang gendong."


Mila terkekeh dan menggelengkan kepala. Ia mengusap kepala Aziel, duduk berjongkok menarik Aziel. "Kamu tidak akan kuat menggendong Mama."


"Aziel kan udah besar, Ma. Teddy aja bisa Aziel lempar." Ia menceritakan pengalaman mengangkat boneka beruang yang memiliki ukuran yang jauh melebihi tubuhnya.


"Itu beda, Sayang. Sekarang, Mama ini ada dua orang."


Aziel melirik Mila, dan mencari satu orang yang dimaksud. "Mana satu lagi, Ma?"


"Satu lagi di sini!" ucap seseorang muncul dari belakang mereka.


Aziel langsung memasang wajah cemberutnya melipat kedua tangan di dada. "Om kok ikut-ikut terus?"


Axel mengulurkan tangannya kepada Mila atau Yuvi dan disambut dengan senyuman. Yuvi bangkit dengan bantuan suaminya ini.


"Kenapa ya? Apa karena magnet yang ada di tubuh Mama Yuvi, membuat Om sampai ke sini dengan sendirinya?"


Aziel melongo mencari sesuatu. "Mama Yuvi? Mana Mama Yuvi?" Aziel terlihat bingung.

__ADS_1


Akel mendekap pinggal wanita yang ada di dekatnya. "Ini Mama Yuvi. Jadi kalau yang ini ..." Axel menunjuk dirinya sendiri. "Papa Axel," ucapnya.


Aziel membuang muka memanyunkan bibir. "Itu mama Aziel, namanya Mama Mila! Papa Aziel cuma satu, Papa Arsen. Walau Papa Arsen suka nakal, tapi Aziel sayang sama Papa Arsen."


"Iyah, Mama tahu kok kalau Aziel sayang sama Papa. Tapi, Mama berharap kamu bisa jadi anak baik ya? Biar Mama jadi makin sayang sama Aziel," ucap wanita yang berada dalam dekapan suaminya.


"Jadi kalau Aziel baik, Mama makin sayang?" ulang bocah itu kembali. Yuvi memberi jawaban dalam bentuk anggukan.


"Kalau Papa baik, Mama akan sayang juga?"


"Eeeitt, Mama Yuki cuma boleh sayangnya sama Papa Axel." sela pria yang di sampingnya protes.


"Papa Aziel cuma satu, Ooom!"


"Udah, ah ... kenapa kalian malah bertengkar begini?" cegat Yuvi.


"Abis, Ma? Om itu nakal? Aziel kan maunya Mama itu berduanya sama Papa Aziel."


"Tidak bisa! Mama Yuvi itu istri, Om. Jadi, tentu tinggalnya sama Om." Axel menjawabnya dengan cepat. Kali ini dia tidak bisa memaklumi dan mengalah kepada bocah itu.


Mata Aziel mulai berkaca-kaca. "Jadi kapan Mama Mila bisa jadi istri Papa? Biar Mama bisa sama-sama Papa."


Yuvi menatap Axel. Laki-laki yang mengaku sebagai suaminya itu tersenyum kecut. Pria itu jelas tampak kesal karena pertanyaan Aziel ini.


"Mungkin suatu saat nanti, Papa Aziel akan bahagia dengan cara berbeda. Tapi, Aziel harus banyak berdoa, supaya berubah menjadi orang yang baik."


Aziel menganggukkan kepala berjalan mendekati Yuvi. Ia menyelip di antara kedua pasangan itu berdiri di tengah menggenggam tangan Yuvi. Aziel melirik Axel dan mengeluarkan lidahnya. Setelah itu menarik Mama Milanya meninggalkan Axel yang terlihat mulai frustrasi menahan diri karena tingkah Aziel.


"Ma, ke mana beli permennya?"


"Sini, sama Om aja yuk? Mama Yuvi udah lelah tuh," tawar Axel melihat sang istri yang sudah dibanjiri keringat. Ia berusaha menahan diri untuk tidak terbawa emosi.

__ADS_1


Keep calm ... dia hanya anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Axel memaksakan senyuman, hingga terlihat aneh.


Aziel menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak mau, Aziel mau sama Mama Mila aja."


"Kalau gitu, mau naik ke punggung Om, nggak? Biar Mama Yuvi nggak terlalu capek. Mama Yuvi kan udah gendongin adek bayi di dalam perutnya." Axel terpaksa berjongkok menyuruh bocah itu naik ke punggungnya.


Aziel menggelengkan kepalanya lagi. Ia melirik Yuvi, wanita yang dipanggil dengan Mama Mila tersebut menganggukkan kepala.


"Come on boy! Kasian Mama Yuvi kan? Ayo, naik sini! Kita akan terbang!" bujuk Axel kembali.


Aziel pun berpindah perlahan dan malu-malu. Sebelumnya, ia tidak pernah melakukan hal ini dengan ayahnya sendiri. Raut wajah Aziel terlihat sumringah saat sudah berada di punggung Axel.


"Mamaaa, Aziel sekarang udah besaaar ..." soraknya.


"Ayo kita terbang!" Axel mengajak Aziel berlari ke sana kemari dan membuat bocah itu tertawa girang. Mereka melanjutkan perjalanan mencari tempat jajan di sekitar sana.


Setelah bertanya kepada beberapa warga di sana mereka sampai juga. Di sekitar sini hanya ada toko yang lebih mirip dengan supermarket di Indonesia. Aziel berlari girang saat melihat permen sebesar kepalanya berada pada sebuah rak khusus permen loli.


"Aziel mau ini!" soraknya sumringah menarik satu permen.


Axel segera mengeluarkan dompet dari kantongnya. Tiba tiba ia baru ingat, semua uang yang ada di dalam sana, dalam bentuk rupiah.


"Sayang, kamu punya dollar kan?"


Yuvi merogoh kantongnya dan di sana hanya ada secarik kertas yang telah ia susun. "Aku tidak pernah megang uang. Biasanya, semua sudah ada di rumah disiapkan oleh Pak Arsen dan bibi."


Mata Axel menangkap sesuatu yang menarik baginya. Dengan cepat, benda yang ada di tangan Yuvi itu, berada di dalam tangannya. "Ini yang aku berikan waktu itu, kan?"


"Iya, aku sudah mencoba menghubungi ke nomor yang kamu tulis di sini. Tapi malah nggak nyambung."


Axel tersenyum membelai pipi Yuvi. "Di sini, kita tidak bisa menggunakan operator yang sama dengan negara kita. Tapi, ini bisa kamu hubungi ketika telah sampai di rumah."

__ADS_1


Axel menarik permen yang ada di tangan Aziel. "Harganya sepuluh dollar. Bagaimana ya? Apa mereka mau menerima ini?"


Akhirnya, Axel memohon kepada kasir untuk menerima dua lembar uang bewarna merah bergambar Soekarno Hatta kepada kasir tersebut. Kasir hanya bisa melongo bolak balik meneliti uang yang diberikan pelanggan asing itu.


__ADS_2