Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
64. Pamit


__ADS_3

Aziel protes tidur terpisah sendirian. Axel menahan senyum jahil beringsut turun menuju kamar mandi dan berwudhu.


"Sayang? Ayo wudhu dulu! Kita sholat berjamaah!"


Yuvi termangu bingung. "Sholat?"


Axel mengerutkan keningnya. "Jadi, dia nggak pernah ngingetin kamu mengenai sholat?"


Yuvi tersenyum kikuk bingung. Tanpa pikir panjang, Axel mendorong istrinya menuju kamar mandi untuk berwudhu.


"Ah, iya ... dulu sering gini." Yuvi berwudhu diawasi oleh Axel.


"Nah, dah bener tu wudhunya. Setelah ini, kamu tidak boleh meninggalkan sholat lagi, ya? Kamu kan istriku yang sholeha."


Yuvita tidak memiliki mukena. Axel memasangkan baju lengan panjang yang kebesaran bagi Yuki, terus celana panjangnya bisa menutupi seluruh kaki mulus, lalu menyorongkan kaos oblongnya ke kepala Yuvi untuk menutupi bagian kepala.


"Untuk sementara, cukup begini dulu."


Mereka bertiga sholat dengan wajah Aziel yang terlihat kebingungan. Ini adalah hal yang baru baginya. Namun, dia masih mau mengikuti meskipun selalu melirik Axel dan Yuvi bergantian.


Usai sholat, Avel memimpin doa. "Terima kasih Ya Allah, akhirnya Engkau menyatukan kami kembali menjadi keluarga yang utuh, setelah lama berpisah. Jadikan lah keluarga kami sakinah, mawwadah, warrahmah ... bersama menuju jannah. Aamin."


Yuvi merasakan sesuatu yang hangat di dalam dirinya. Sesuatu yang tak bisa diungkapkan, terasa kembali pada dirinya. Yuvi mencium tangan Axel, dan dibalas dengan kecupan di kening.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah menjadi makmumku. Yang telah sabar menanti untuk aku jemput. Aku sangat bahagia saat mengetahui kamu mencoba menghubungi dengan secarik kertas yang aku tulis. Setelah ini, mari kita menggali ingatanmu yang telah hilang."


Aziel langsung duduk ke atas pangkuan Yuki dan memeluknya. "Mama Mila jangan dibawa pergi."


Axel pun menarik Aziel duduk di pangkuannya. "Kalau Mama Yuvi dibawa, Aziel juga diajak kok. Kamu mau ikut kami kan?"


"Tapi, Aziel juga maunya ajak Papa."


"Nanti papamu pulangnya nyusul. Kita akan pulang duluan. Jadi, kamu ikut kami yah?" Axel mengacak rambut pengacau cilik ini dengan gemas.

__ADS_1


"Lalu, kapan Papa bisa pulang?" bisik Aziel.


"Nanti kalau Papa sudah diizinkan untuk pulang. Tapi, papamu pasti pulang kok." jelas Axel kembali.


"Iya, Ziel. Kita tunggu papamu pulang di sana ya. Suasana di sini sungguh sangat membingungkan. Nanti kita pamit sama papamu yah?"


*


*


*


Aziel sedang duduk di lantai tepat depan sel ayahnya yang  ditahan sementara waktu.


"Papa, Om Axel orangnya baik, seperti yang dulu pernah Aziel ceritakan. Aziel dibelikan permen yang besaaaar banget." Kedua tangan Aziel diberi jarak menggambarkan ukuran besar yang ia ingat.


Arsen mendengarkan ocehan putranya yang kembali ceria. Seperti biasa, ia memasang wajah datar, tanpa ekspresi.


Aziel tersentak mendengar cecaran sang ayah. Dia melirik ke arah belakang di mana Axel sedang berbicara dengan orang-orang asing, dan Mama Mila menunggunya selesai berpamitan.


"Om Axel beda banget sama Papa. Dia nggak pernah marah-marah sama Aziel." Aziel membulatkan bibirnya mulai merajuk.


"Kalau begitu kamu ikut dia aja!" cetusnya membelakangi sang putra.


"Tapi, Papa kan papanya Aziel." Aziel mulai merengek kembali mendapat bentakan dari ayahnya.


"Sudah berapa kali Papa bilang, jangan cengeng! Kamu itu anak laki-laki!"


"Tapi Aziel kan mau nya sama Papa."


Yuvi akhirnya yang tidak tahan memilih berdiri di sisi Aziel. "Sampai kapan Anda begini terus? Apa Anda tidak lelah berpura-pura seperti ini?"


Arsen bersandar pada jeruji besi yang masih digenggam oleh Aziel. "Kamu jangan sok tahu!"

__ADS_1


"Kalau begitu, apakah saya boleh membawanya pulang terlebih dahulu?"


Arsen tak bergeming. Dia masih memunggungi kedua orang itu.


"Tuan, ayo ngomong! Saya harus bagaimana?"


"Terserah! Kamu mau apakan dia! Kalau nggak sanggup, masukkan ke panti asuhan aja!"


Aziel melepaskan genggaman tangannya pada jeruji besi yang memisahkan dirinya dengan sang ayah. Ia berbalik berjalan ke arah Axel yang sedang berbicara dengan beberapa pria berseragam dan petugas yang datang dari Indonesia.


"Mulai hari ini, aku mau punya papa baru." Aziel langsung menggenggam tangan Axel membuat pria yang sibuk membahas masalah deportasi dan ekstradisi Arsen, pun menjadi terkejut.


Axel melirik ke bawah memandangi kepala Aziel yang tertunduk tetapi menggenggam tangannya. Ia melirik ke arah sel di mana Yuvita sedang memandang sedih ke arah Aziel.


"Malam ini kalian pulang lah! Kasihan dia pasti sangat tertekan dengan keadaan di sini," ucap Pak Drajat.


Axel menganggukan kepalanya. "Kamu dengar itu jagoan? Malam ini kita akan kembali ke Indonesia."


Aziel memutar kepala melirik ayahnya yang masih memunggunginya. Aziel tertunduk tampak sedih. "Iya, Aziel ikut Papa Axel dan Mama Mila," gumamnya.


"Tuan, kami akan membawanya pulang. Setidaknya Anda berbicara dengan baik kepadanya." ucap Yuvi berharap sebuah keajaiban terjadi.


"Pergilah! Jangan banyak bicara! Aku tidak butuh nasihat darimu atau siapa pun!" Arsen masih bertahan pada posisi bersandar pada jeruji sel itu memunggungi semua orang.


"Baik lah. Namun, apa pun yang akan terjadi, aku akan menjaganya. Suamiku bersedia menerima Aziel. Setidaknya Anda berbicaralah dengannya! Karena kita tidak tahu, kapan waktu yang bisa mempertemukan kalian kembali."


Arsen masih diam tak bergeming. Yuvi memasang wajah kecewa.


"Baik lah. Kami akan bersiap untuk pergi. Mungkin tidak sempat untuk singgah ke sini lagi." Yuvi beranjak mendekat pada Axel dan Aziel.


Yuvi menggandeng tangan Aziel yang masih bebas, dan mereka bertiga berjalan menjauh.


Arsen dalam diamnya hanya menutup mata membiarkan mereka semakin menjauh. Setelah dirasa cukup, Arsen melirik kepergian mereka dan memandang wajah Aziel yang tiada henti menoleh ke belakang, menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2