
Posisi mereka yang tadi rapat, mulai merenggang. Mereka kalang kabut dan segera bubar. Para musuh mengangkat sang pimpinan berbondong memasukannya ke dalam kendaraan dan kabur.
Anak buah Arsen juga begitu. Mereka telah meninggalkan posisi beberapa waktu suasana hening, tetapi soudtrack sunyi itu diisi oleh taluan sirine kendaraan polisi yang terdengar semakin keras.
"Gaees ... udeh dulu ye? Kagak ada yang ngasih gue singa. Tapi yang udah nebarin gift lainnye, makasih ye? Mayan buat benerin taman gue yang ancur."
Kendaraan kepolisian telah memasuki area perumahan itu. Namun, mereka semua terlambat. Disambut omelan para kaum emak yang sudah seru sendiri ngedumel di rumah masing-masing.
*
*
*
Axel, Yuvi, dan Aziel telah menginjakan kakinya di kampung halaman Yuvi. Aziel menggenggam tangan Yuvi dengan erat. Suasana cerah dan sedikit panas, terasa membakar kulit. Orang-orang yang terbiasa berada di kota sejuk ini, tentu saja bermandikan keringat.
"Panaaas ... aah, Aziel hauus," celetuknya dengan keringat yang mengalir sebesar biji jagung.
"Mas, apa kamu yakin aku berasal dari sini? Entah kenapa, aku merasa kurang yakin." Yuvi mengipasi dirinya dengan jari-jari lentik yang tidak menimbulkan efek sejuk sama sekali.
"Kamu jangan begitu, bagaimana pun, aku memang menjemputmu dari desa ini. Masa gara-gara perbedaan suhu begini saja kamu langsung mengingkari kenyataan seperti ini?"
"Bukan begitu ... Hanya saja, di sini kok panas banget? Entah kenapa, aku merasa biasanya berada di tempat yang sejuk, bukan di sini."
"Soalnya, kamu biasanya berada di Hongkong. Bukan di sini setelah kamu tamat SMA. Jadinya kamu lupa kampung halaman." Axel mengacak rambut istrinya.
Setelah itu, Axel mengganggam tangan istrinya keluar menuju beranda. Di sana ada pilihan naik kereta khusus menuju beberapa tempat, ada pilihan buss juga, atau memilih taksi yang sudah berdiri tepat di bagian khusus.
__ADS_1
"Kita naik taksi aja, biar langsung berhenti di depan rumahmu ya?" ajak Axel kembali.
"Tapi Aziel mau naik kereta, Pa. Papa Aziel gak pernah ngajak naik kereta. Aziel juga mau naik kereta." Aziel menarik dua orang itu menuju stasiun pemberhentian kereta khusus bandara.
Akel merasa ragu. "Sayang, kamu sudah mengingat kota ini belum?"
*
*
*
Satu jam kemudian, mereka telah berdiri di stasiun pemberhentian utama. Axel menggaruk kepalanya melirik ke kiri dan ke kanan. "Ke mana lagi ya?"
Aziel tiba-tiba menarik Axel. "Kita naik kereta yang itu!!!"
"Eiiit, kamu mau ke mana?" Axel menahan Aziel yang terus menarik Akel menuju kereta yang tak tahu entah ke mana.
"Kita belum beli tiketnya."
Aziel menghentikan tarikannya. "Oh, ya udah. Papa beli tiket dulu." Aziel beralik posisi, mendorong Axel.
"Issh, kamu ini ngapain sih?"
"Kata Papa beli tiket dulu?" Aziel masih mendorong Axel entah ke mana.
"Kita sudah sampai di Desa asal Mbah Mama-mu ini, Cah. Kamu mau ke mana ah?" Axel melirik Yuvi sudah terlihat lelah mengikuti mereka dengan perut yang membuncit.
__ADS_1
"Kasian, Mama. Kecapean tuh?"
Aziel melirik orang yang sedari tadi di belakang. Mama Mila-nya tak henti menyeka keringat. Dia berhenti mendorong Axel dan menarik ransel yang ia pakai semenjak dari sekolah. Ia mengeluarkan botol minuman dan menyerahkannya kepada Yuvi.
"Mama capek ya? Ini, Mama minum dulu."
Yuvi tersenyum melirik bocah itu. "Untuk kamu saja, kamu pasti haus juga. Nanti Mama beli air mineral yang ada di kantin itu."
Axel menarik botol yang ada di tangan Aziel. Ketika diperiksa, botol itu sangat ringan dan meniliknya dengan jelas. "Ini aja kurang buatmu, Cah." Ternyata isinya tinggal sedikit.
"Ayo, kita cabut aja. Papa mau cari kendaraan yang bisa kita pakai menuju rumah orang tua Mama Mila."
Beberapa waktu setelah keriwehan yang dibuat oleh Aziel, akhirnya mereka sampai tepat di halaman rumah sederhana yang terlihat sangat sepi.
Yuvi berjalan perlahan bagai tehipnotis menyusuri halaman rumah yang cukup luas itu menuju pintu rumah yang sedang tertutup.
"Pa, ngapain kita ke sini?"
"Menjemput masa lalu Mama Yuvi yang telah hilang."
...****************...
Yuhuuu, kali ini ada lagi ni kak, siapa tau suka ...
Judul: Anakku Hanya Milikku
Author: Redwhite
__ADS_1
Jangan lupa disubscribe + like + komentar yaaah