Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
108. Surat Cinta Adik Kelas


__ADS_3

Tiba-tiba, di sebelahnya duduk seorang adik kelas yang cukup tinggi, berstatus pemain basket andalan sekolah. Tangannya terulur dengan wajah semakin tampan saat ia tersenyum.


"Selamat yaaa, Kak."


Yuvi menyambut uluran tangan itu dan membalas senyumannya. "Terima kasih."


"Hmm, setelah ini Kakak mau melanjutkan ke mana?"


"Oh, aku ... hmmm ... entah lah. Aku juga bingung. Apa mau kuliah, kerja, atau nikah aja kali ya?"


Wajah adik kelasnya itu menggambarkan rasa terkejut yang luar biasa. "Nikah? Sama siapa?"


Yuvi tersenyum jenaka. "Canda ..." Lalu ia terkekeh.


"Hmmm, nanti Kakak akan sering main ke sekolah ini lagi nggak?" Zaki, begitu lah namanya, menatap Yuvi dengan wajah tenangnya.


"Hmm, paling buat ngurus ijazah aja. Soalnya udah nggak ada kepentingan lagi kan buat ke sini kan?"


Zaki menatap Yuvi dengan panjang. Melihat tingkah adik kelasnya ini, Yuvi menjadi salah tingkah dan segera membuang muka.


"Kamu jangan lihat-lihatku kayak gitu! Aku ini seniormu!" cetus Yuvi menutupi salah tingkahnya.


"Aku akan sedih jika tidak bisa melihat Kakak lagi."


"Kenapa gitu? Biasanya juga gak pernah ngobrol kan? Kenapa tiba-tiba sedih tak melihatku? Perasaan, kita tidak sedekat itu."


Zaki menundukkan wajahnya. "Iya, soalnya aku tak berani mengajakmu bicara."


Yuvi mengerutkan kening. "Hei! Aku ini kakak kelasmu! Bicara yang sopan!"


Zaki mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya. Terlihat benda berbahan kertas telah terlipat. Ia menyerahkan langsung kepada Yuvi.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Kamu boleh membacanya di rumah. Aku sudah mencatumkan nomor ponselku di dalamnya. Aku harap, kamu membalasnya dengan pesan WA."


"Aku gak punya itu!" ucap Yuvi dengan cepat.


"Kalau gitu, SMS juga boleh. Nanti, aku akan langsung meneleponmu jika kamu membalasnya."


Yuvi mengerutkan keningnya. Ia berencana ingin segera membuka, tetapi tangan Zaki menghalangi.


"Jangan sekarang! Nanti di rumah aja."


Zaki mengeluarkan spidol yang tadinya berasal dari kantong kiri seragamnya. "Apa aku boleh meninggalkan kenangan di seragammu?"


"Aaah, jangan. Ini akan menjadi kenang-kenangan untukku nanti." tolak Yuvi lagi.


"Iya, kenang-kenangan ini akan selalu tersimpan kan? Ini akan abadi, dan gak bisa diturunkan ke siapa pun." tambah Zaki.


"Gak usah! Yuvi bangkit ingin beranjak."


"Kamu tulis apa?"


Akan tetapi, Zaki tidak mengubris ucapan kakak kelasnya ini dan terus mencoret hingga dianggap selesai. Setelah selesai ia berhenti, tetapi hening.


"Udah belum?"


"Udah."


Yuvi mencoba melirik apa yang dituliskan adik kelasnya ini, tetapi ia tidak berhasil. "Kamu tulis apa?"


"Sekarang kamu pulang ya? Jangan biarkan ada yang lain mencoret seragam ini. Nanti kamu lihat di rumah saja!"


"Iisss, kamu ini?" Yuvi merebut spidol yang ada di tangan Zaki. Lalu memukulkannya ke jidat Zaki.


"Yuviii! Sekarang giliranmu ...."

__ADS_1


Anggota kawannya yang lain menarik Yuvi dan menyemprotkan cat dan mencoret-coret seragam Yuvi.


Zaki melihat aksi itu memasang wajah kecewa. Ia hanya menghela napas lalu beranjak.


"Wwoooiii! Apa yang kalian lakukan?" Teriak Pak Zul, guru paling galak di sekolah ini.


*


*


*


Yuvi memandangi seragam yang telah tergeletak lesu di atas ranjang kecil miliknya. Seluruh bagian pakaiannya telah bewarna warni dah penuh coretan. Siapa yang menulis pun tidak terdeteksi lagi.


"Sayang sekali, padahal pakaian ini bisa diberikan pada adik sepupu kalau dia mau," celetuk Yuvi.


Ia teringat akan sesuatu yang diucapkan oleh Zaki, adik kelasnya yang digandrungi siswi-siswi kece di sekolah. Yaa, dia anak klub basket, tentunya perawakan tinggi, dan kelebihan lain memiliki paras nan tampan.


Namun, baginya ... tak menarik sama sekali karena ... dalam hatinya sudah diisi oleh Mamas Axel, yang hanya ia khayal kalau melihatnya di warnet. Bahkan, Yuvi pun tidak memiliki fotonya sama sekali.


Hingga saat ini, tak satu pun tanda pesan masuk dari laki-laki itu di ponselnya. "Aaah, apa dia sibuk atau marah gara-gara tadi ya? Lagian, kenapa dia harus marah?"


Yuvi teringat akan benda yang diberikan Zaki tadi. Ia segera mengeluarkannya dari dalam tas. Lipatan benda itu dibuka, ternyata itu sebuah amplop. Yuvi terkekeh ketika membuka amplop tersebut.


Di sana, ada beberapa lembar surat yang ditulis dengan tulisan cakar ayam. Sebelum membacanya, Yuvi terkekeh dan membolak-balik beberapa lembar kertas itu.


"Apakah semua cowok tulisannya kayak gini?"


Lalu, Yuvi mulai membaca isi surat tersebut. Reaksinya sekedar mengerutkan kening.


"Masa sih, pemain basket populer itu suka sama aku?"


Mohon bantu Author ya kakak readers semua, kasih rating 5 please ...

__ADS_1


__ADS_2