Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
60. Hadiah Terbesar (Rahasia Arsen)


__ADS_3

"Jika kamu tidak ingin mengasuh Aziel bersama Yu ... vi ... ta ... maka ... bersiap lah! Aku akan kembali bebas meskipun kau memberikan semua bukti yang membuatku tidak bisa mengelak lagi."


Axel refleks memasukkan tangannya mencoba meraih musuhnya ini ke dalam celah sel tersebut. Akan tetapi, Arsen telah mundur menjauh dari jeruji yang menahannya.


"Ha ha ha ... jika kau tidak berhasil membuatku dihukum m4ti, maka ... kau yang akan m4ti!"


"Awas kau sialan!" Axel terus berusaha menjangkau Arsen lewat celah jeruji itu. "Aku akan memastikanmu mendapatkan hukuman mati itu!"


"What are you doing?" Polisi tersebut menarik Axel yang ingin melahap Arsen hidup-hidup.


"Let me go!" Axel berusaha melepaskan diri dari polisi-polisi itu.


"Apa yang terjadi?"


Axel berhenti setelah mendengar bahasa Indonesia di antara bahasa asing itu. Axel melihat ke arah sumber suara. Ternyata, orang yang baru hadir adalah Pak Drajat.


"Apa yang kamu lakukan? Bukan kah dia sudah ditahan di dalam sel?"


Axel pun dilepaskan oleh pihak kepolisian itu. "Maafkan saya, Pak."


Drajat memandang pria yang telah berada di dalam tahanan sementara itu. Lalu ia beralih memandangi Axel. Setelah itu memutar wajah mengendarkan pandangan ke segala arah.


"Di mana dia?"


"Dia keluar sejenak," ucap Axel merasa sedikit malu. Arsen berhasil menyulut emosinya, apalagi mendengar ancaman yang baru saja diberikan oleh ayah kandung Aziel itu.


Sementara Arsen menyugar rambutnya duduk di pojokan masih menahan rasa sakit karena timah panas yang ia terima dari satuan interpol tadi. Arsen sendiri menyandarkan kepalanya pada satu kakinya yang masih sehat.


Dalam diamnya, air mata pria itu mengalir teringat perjuangan membesarkan Aziel sendirian.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini semua padamu. Agar ... kamu membenciku. Tidak mau mengingatku lagi."


Enam tahun lalu, ia baru saja menghabiskan dana bolak balik Amerika—Indonesia demi menyembuhkan sang istri yang mengalami kanker serviks.


Setelah lima tahun pernikahan mereka, Jovita tak kunjung hamil juga. Penyebabnya baru diketahui setelah melakulan bermacam tes oleh beberapa dokter yang bekerja di rumah sakit milik papanya.


Ketika Jovita dinyatakan sembuh, Arsen telah siap dengan vonis bahwa dirinya tidak akan bisa dan tidak boleh memiliki anak untuk selamanya dari sang istri.


"Tidak apa, asalkan kamu masih bisa hidup berbahagia denganku, bagiku tidak masalah." Arsen memeluk Jovita.


Beberapa waktu terus berlalu, kondisi istrinya semakin membaik meskipun kali ini mereka harus hidup sederhana karena kehabisan dana.


Saat ulang tahun pernikahan yang mereka yang ketujuh, Arsen merasakan ada yang berbeda dengan istrinya. Jovita terlihat lebih sensitif, tetapi ia tidak mengetahui alasannya. Bahkan, acara makan romantis yang mereka lewati sekali pun, ditanggapi dengan datar.


"Sayang, kamu kenapa diam aja? Apa kamu tidak suka dengan acara makan malam yang tidak mewah ini?"


Jovita tersenyum tipis menggelengkan kepala lemah. "Mas, apa kamu tidak merasa sepi jika kita hanya hidup berdua saja tanpa ditemani anak-anak?"


"Jangan khawatir, Sayang. Asalkan bersama denganmu, semua akan baik-baik saja." Arsen mengusap pipi istrinya dengan penuh cinta.


"Tapi, aku ...."


Arsen menatap wajah istrinya yang semakin sendu. "Kamu mau memiliki anak?"


Jovita tak bergeming membalas tatapan Arsen dengan dalam.


"Kita bisa memiliki anak kok. Ada banyak anak yang bisa kita adopsi di negara ini."


Jovita kembali menggelengkan kepalanya. "Bagaimana dengan pendapatmu jika kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa terjadi."

__ADS_1


Arsen menarik kursinya lebih mendekat pada posisi istrinya. Ia menggenggam lembut tangan Jovita dan mengecupnya. "Sayang, itu tidak mungkin dan tidak boleh terjadi."


"Kenapa tidak mungkin dan kenapa tidak boleh? Apakah kamu tidak ingin melihat hasil perpaduan antara gen yang aku miliki dengan gen yang kamu miliki?"


Arsen menyugar rambut yang tadinya klimis tersisir rapi ke belakang, menjadi sedikit berantakan. Ia memutar bola matanya dengan cepat.


"Itu tidak mungkin. Kamu jangan mengkhawatirkan aku. Aku sudah merasa bahagia saat bersama kamu meskipun tidak memiliki anak. Asalkan kita bisa hidup bersama berdua, itu sudah cukup bagiku."


"Kamu tahu, aku rela menghabiskan semua harta yang aku miliki demi kesembuhanmu. Jadi, tidak mendapatkan anak dari kamu pun bagiku tidak masalah sama sekali. Kamu lah yang terpenting bagiku." Arsen mendekap Jovita dengan rasa cinta yang luar biasa.


"Kenapa tidak mungkin? Jika itu hanya lah hasil prediksi manusia, masih bisah berubah bukan?" Jovita masih kukuh dengan sesuatu.


"Tidak mungkin karena harapan tipis. Selain itu, memang tidak boleh! Karena jika kamu hamil dengan kondisi seperti ini, maka aku takut akan dihadapkan dalam situasi harus memilih siapa." Mata Arsen berkaca-kaca saat mengucapkannya.


"Kenapa harus memilih jika keduanya bisa diselamatkan?" ucap Jovita penuh harap.


"Sudah lah, Sayang. Malam indah ini adalah waktu untuk kita mengenang penyatuan cinta kita semenjak tujuh tahun yang lalu." Arsen menarik dagu Jovita menyambar bibir merah merona itu, mengecupnya perlahan dan semakin dalam.


Setelah usai menikmati makan malam, Jovita menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Arsen. "Aku memiliki hadiah pernikahan untukmu."


Arsen sumringah menerima kotak kecil memanjang itu. "Seharusnya, kamu tidak usah memberi apa pun padaku. Karena, kamu adalah hadiah terindah yang aku miliki. Aku sangat bahagia saat kamu berhasil sembuh dari penyakit laknat itu.".


Arsen menggaruk pelipisnya menoleh ke kiri dan ke kanan. "Waaah, aku harus memberikan apa untukmu ya?"


Arsen membuka dompetnya yang tipis. Saat ini, dia hanya dokter biasa yang baru saja kehilangan semua dan memiliki banyak hutang. Jovita menutup dompet itu, tersenyum, dan menggelengkan kepalanya.


"Jika kamu menerimanya, itu adalah hadiah terbesar juga bagiku."


Arsen semakin sumringah membelai pipi wanita cantik yang ia cintai. Dengan tidak sabar, Arsen membuka kotak tersebut dengan cepat.

__ADS_1


Namun, ekspresinya berubah saat melihat isi kotak tersebut. "Ini?" Wajah Arsen gugup, saat mendapati benda kecil memanjang itu memamerkan dua garis merah.


__ADS_2