
Beni kembali melanjutkan perjalanan, tetapi ketika baru beberapa langkah, Beni mendengar derap yang terus mengikutinya. Pemuda itu mempercepat langkahnya dan semakin meyakini bahwa ia sedang diikuti. Bukan hanya seseorang, tetapi lebih.
Beni mulai berlari menuju lokasi tadi, karena ia rasa di sana cukup ramai sehingga cukup aman menjadi tempat untuk berlindung. Sejenak, Beni memutar kepala memastikan orang yang telah mengikutinya dan ia terperenjat melihat orang-orang misterius yang kini tepat berada di belakang.
Beni mempercepat langkah dan kini telah memasuki area pembuangan sampah umum. Para pria jahat yang mengikutinya memperlambat pengejaran. Penciuman mereka terlihat terganggu karena aroma busuk yang menyengat.
Beni terus memasuki area gunungan sampah tersebut. Kepalanya liar melirik ke kiri dan ke kanan mencari sosok yang mungkin bisa membantunya. Sejenak Beni kembali melirik ke arah orang-orang yang mengejarnya tadi.
Orang-orang tersebut tampak memilih berada jauh dari posisi area yang ia pijaki saat ini. Mereka semua terlihat menutup hidup dengan raut wajah tampak sangat tidak nyaman.
Setelah memastikan keadaan menjadi lebih aman, diam-diam Beni berpindah lokasi. Ia keluar melewati jalan lain berencana untuk pulang secepatnya.
Di tempat lain, Axel dan Briptu Gilang sedang berada di lokasi yang sebenarnya tidak jauh dari posisi Beni tadi. Namun, karena berada pada titik buta, membuat kedua orang tersebut menyadari sebuah keanehan.
Beni kembali melirik ke kiri dan ke kanan, lalu mengendarkan penglihatannya pada semua lokasi. Di dalam hatinya, berharap dalam posisi tidak sendirian. Karena, ia mengetahui bahwa banyak sekali orang hilang di sini, tetapi tidak pernah kembali lagi.
__ADS_1
Akhirnya, laki-laki muda itu menghela napas berat. Meskipun ia masih merasa cukup takut, tetapi ia mengusap dada dan berjalan pulang dengan sikap waspada. Kepalanya masih liar memantau di setiap posisi berharap tidak ada yang mengikutinya lagi.
Di tempat lain, Axel dan Briptu Gilang masih memilih mengakhiri pencarian informasi untuk hari ini, karena tidak menemukan satu apa pun. Tak ada yang mau memberikan informasi yang ia butuhkan, untuk membela Dokter Diki, klientnya saat ini. Mereka sudah berjalan keluar dari jepitan rumah-rumah kumuh yang kebanyakan berdinding karton bekas.
Axel melirik ke sisi jalan sebelah kiri. Ia melihat punggung sosok lelaki muda yang tadi sempat menjadi perhatiannya tadi, yang tak lain adalah Beni. Tanpa berpikir panjang ia berinisiatif untuk mendekat. Karena, lelaki muda itu tampak cukup tergesa-gesa.
Axel dan Briptu Gilang memutuskan untuk menutup penyelidikan hari ini. Semua orang yang berada di lokasi ini memilih untuk bungkam tanpa memberikan penjelasan kepada mereka. Sehingga, data yang digali masih sangat sedikit.
"Saya akan kembali ke kantor untuk menyampaikan hasil temuan kita hari ini kepada Kapten," ucap Briptu Gilang.
Alis Briptu Gilang naik sebelah dan keningnya mengerut. "Anda mau apa di sini?"
Akel terkekeh dengan pertanyaan Briptu Gilang. "Ya, mau mengecek aja sejenak. Kasihan sekali klient saya yang menjadi korban fitn4h." Axel mengulurkan tangannya kepada Briptu Gilang
Briptu Gilang pun menjabat tangan Axel dan mereka pun berpisah. Axel berjalan mengikuti arah langkah Beni tadi berjalan. Namun, bayangan Beni sudah tidak terlihat lagi, membuatnya berinisiatif untuk menerka arah perjalanan Beni.
__ADS_1
Namun, tanpa sengaja Axel melihat beberapa orang berpakaian serba hitam, yang bertampang sangar berada di lokasi tersebut. "Bukan kah mereka ...." Axel memilih segera bersembunyi untuk tidak menampakkan dirinya dari orang-orang tersebut.
Dalam benaknya kembali terlintas akan perlakuan orang-orang yang berlaku kasar setelah mengantarkan Aziel. "Apa yang mereka lakukan di sini?"
"Kita cari di tempat lain saja. Gue gak kuat dengan aroma busuk area sini," ucap salah satu yang memiliki kepala botak.
"Sebenarnya lokasi ini adalah tempat paling gampang untuk mencari mangsa. Hanya saja yaaa, gue juga gak tahan. Sumpah, busuk gila sampai hidung gue mampet dan gak bisa lagi membedakan aroma badan elu sama aroma udara di sini." Pria yang lain menyetujui ucapan temannya itu terus bergerak pada lokasi kendaraan mereka sedang terparkir.
"Kita cari ke tempat lain saja! Kita harus cepat! Soalnya boss meminta malam ini juga, barangnya sudah ada. Mencari anak kecil ternyata tak semudah yang kita bayangkan."
"Kita cari anak yang sedang bermain sendirian saja!"
Mereka semua menganggukkan kepala. Tanpa disadari ada yang telah menguping pembicaraan mereka.
"Pak?"
__ADS_1