Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
73. De Javu


__ADS_3

Sulung Kuwat menarik kerah baju yang dikenakan Axel saat ini. Menatap sang pengacara dengan garang dan amarah.


"Lu jangan nipu gue seperti itu. Ini anak orang yang paling bahaya di negeri kita!? Masyarakat pasti ingin mengetahui siapa dalang di balik terjadinya penculikan dan pemb*nuhan orang-orang yang marak terjadi akhir-akhir ini."


Axel menyibak kedua tangan yang telah menariknya dengan kuat. "Kamu jangan macam-macam ya! Perbuatan jahat ayahnya, jangan kau limpahkan pada anak yang tidak tahu apa-apa sebagai sumber pembalasan!"


"Apa lu melupakan sesuatu? Banyak juga anak kecil yang menjadi korban akhir-akhir ini! Lu pikirkan sendiri bagaimana perasaan orang tua mereka! Anak kesayangan mereka menghilang, dikarungin, dikulitin, diambil organ tubuhnya! Mereka biadab tanpa pandang bulu!"


"Lalu apa salahnya, para pemburu informasi turut membagikan informasi ini kepada mereka yang haus akan informasi itu?"


"Mereka semua ketakutan! Lu tidak merasakan bagaimana ketakutan keluarga mereka, tiba-tiba ada anggota mereka hilang tanpa kabar! Di mana jasad mereka dikubur pun tidak ada yang tahu!"


Axel tidak memungkiri itu semua. Dia sendiri sangat ketakutan saat membayangkan istrinya dibawa kabur oleh manusia berdarah dingin itu. Namun, setidaknya ada satu hal yang ia syukuri. Istrinya masih hidup hingga saat ini dari kecelakaan maut tersebut. Salah satunya karena seorang Arsen yang menyelamatkannya entah bagaimana caranya.


"Kenapa diam?" teriak Sulung Kuwat. "Lu menyadari semuanya kan?

__ADS_1


"Bagaimana jika lu ditempatkan pada posisi yang sama? Di saat anggota keluarga lu menghilang, lalu berganti hari, minggu, bulan, dan tahun tapi tetap tak ada kabar?" Sulung Kuwat terus mencecar  Axel dengan sejuta kenyataan yang tak bisa dielakkan.


"Kamu tak tahu apa yang telah saya alami! Diam lah! Yang melakukan segala kekejaman itu adalah ayahnya! Apa kau berhak menghancurkan masa depannya? Dia hanya anak lelaki di bawah umur yang harus dilindungi!"


Sulung Kuwat menarik satu batang rokok. Rokok itu dijepit di bibir, lalu dibakarnya. "Kau pernah mendengar istilah darah lebih kental dari pada air?" Wartawan yang disegani oleh rekan seprofesinya itu menghisap benda yang saat ini telah terjepit di bibirnya dengan dalam. Setelah itu membelakangi sang pengacara meniupkan secara perlahan.


"Bisa jadi di masa depan nanti ia menjadi lebih keji lagi dibanding ayahnya saat ini."


Axel seketika naik darah, menarik jaket berbahan jins yang ia pakai, lalu memukul dagunya. "Kau ternyata suka menggambar masa depan sesuka hati ya?"


"Saya rasa ini cukup untuk membayar pengobatanmu."


Axel kembali masuk ke dalam mobilnya dan segera menuju halaman rumah. Suasana rumahnya begitu sunyi. Ia melirik sang ibu memasang muka masam duduk di halaman belakang.


"Mah, di mana istriku dan Aziel? Mereka sudah sampai kan?"

__ADS_1


Sang ibu memasang wajah marah. Ia bangkit menatap Axel dengan tajam. "Ini gara-gara kamu nih! Salah pilih istri! Jauh-jauh cari istri, tak tahu bibit bebet bobotnya, ujung-ujungnya menyusahkan Mama." Ia berjalan menuju kamar dan mengunci diri.


Axel termangu diam dalam kebingungan. Setelah itu ia menuju ke kamarnya dan di sana ternyat tampak sang istri mengusap kepala Aziel yang telah terlelap di atas ranjang. Wajah bocah itu terlihat lelah.


Axel duduk di samping istrinya yang diam seribu bahasa. Ia terus menatap Aziel, tidak fokus, dan bagian sudut bibir sedikit turun. Entah kenapa ia seakan de javu pada masa lalu.


"Apa yang terjadi di saat aku tidak ada tadi? Kenapa kamu terlihat sedih?"


Yuvi langsung beringsut memeluk Axel. Beberapa waktu, ia diam dalam posisi itu. Hal ini membuat suaminya menjadi semakin penasaran.


"Apa kamu bisa menceritakan, apa yang terjadi di saat aku tidak ada?" Axel membelai rambut sang istri.


Yuvi tidak bisa mengatakan semuanya. Apalagi mengatakan bahwa ia mendengar semua obrolan mertua dan suaminya. Ia yang sendiri tidak tahu bagaimana masa lalu, siapa orang tua, dan keluarga lainnya, sekedar termangu menikmati semua cecaran itu. Ia seakan begitu dekat dengan situasi seperti ini.


"Apa Mama yang membuatmu seperti ini?"

__ADS_1


Yuvi menggeleng masih tertunduk dalam kesedihan.


__ADS_2