
Arsen menyugar rambutnya dengan kasar. Wajahnya mengernyit dan napasnya memburu. Amarah dan kepanikan bercampur aduk mengisi hatinya.
Ia segera mencari Aziel ke ruangan tempat ia biasa bermain. Namun, Aziel tidak ditemukan, ia segera menuju unit emergency di mana wanita yang mengalami amnesia itu sedang terbaring di sana. Di dekatnya terlihat seorang wanita dengan rambut box mengenakan baju kaos ditambah bolero jins berlari ke arah luar. Arsen segera bersembunyi membiarkan wanita itu keluar.
"Susteer ... dokterrr ..."
Setelah memastikan wanita itu tidak terlihat lagi, Arsen berjalan cepat menyelinap masuk ke dalam ruang emergency tadi.
"Mamaaa, Aziel takut. Ayoo kita pulang." tangis Aziel masih memeluk Mia.
Mila mencoba bangkit, mengernyitkan wajah, dan gigi terlihat tertaut merasakan kesakitan hebat pada bagian rahimnya.
"Ayo, Ziel ... kita pulang saja." Mila sudah berhasil duduk dan menurunkan kakinya satu per satu. Aziel pun mengikuti Mila turun dan bibirnya melongo melihat kehadiran sang ayah.
"Ayo ... kita semua pulang!"
Arsen berjalan menuju sisi brangkar dan mencoba menyentuh Mila. Akan tetapi, tangan Arsen ditepis olehnya hingga menyisakan sentuhan pada angin.
"Jangan sentuh aku!"
Tangan yang kosong itu beralih untuk menarik tangan Aziel. "Ayo cepat!" Arsen sudah berjalan duluan membiarkan Mila berjalan di belakang.
Ia mencoba untuk turun sendiri mengikuti langkah Arsen yang semakin menjauh menuju parkiran. Arsen sudah membuka pintu kendaraannya mendorong Aziel untuk masuk ke mobil mewahnya.
"Pa, Mama masih ketinggalan?" tangis Aziel memutar badannya ingin kembali kepada Mila.
"Kamu tunggu saja di sini!" Arsen mengangkat Aziel dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Jangan ke mana-mana! Papa jemput mamamu dulu!" Pintu ditutup dan Arsen berjalan cepat kembali ke koridor.
__ADS_1
Akan tetapi, Mila sudah ditemani oleh wanita yang berambut box tadi dan membantu memapahnya.
"Mau ke mana, Mbak?"
Mila memegangi pinggang bagian belakang. Hal ini sedikit mendorongnya untuk bisa berjalan. "Saya harus segera pulang," ucapnya menunjuk ke arah luar.
"Kamu masih bisa menggunakan fasilitas di sini kok, kamu membutuhkan perawatan intensif! Jangan ke mana-mana!"
Arsen berdecak kesal. "Kenapa polwan sialan itu malah bersamanya?"
Arsen kembali bergerak cepat menuju kendaraannya dan masuk ke dalam mobil penumpang. Di sana, supir telah siap untuk melaju dan pergi meninggalkan rumah sakit ini.
"Papaaaa, Mama ketinggalaaan," tangis Aziel kembali.
"Diam lah! Kamu membuat Papa makin pusing!"
Arsen mencolek pundak supir. "Jalan!"
"Mbak? Mau ke mana? Ayooo, kembali saja ke dalam!" bujuk Leticya dibalas dengan gelengan kepala Mila.
"Mana anakmu yang tadi?" Leticya menyadari saat ini ia sudah tidak bersama anak yang tadi menangis memeluknya.
"Dia sudah dibawa ayahnya," ringis Mila kembali.
"Ayahnya? Suamimu? Kenapa kamu malah ditinggalkan sendiri?"
Mila tersenyum miris dan menggelengkan kepala.
"Lalu, siapa yang bisa kami hubungi?" Tangan Leticya dengan begitu saja merogoh kantong hodie yang melekat pada tubuh wanita itu.
__ADS_1
"Apa kamu tidak memiliki ponsel?" Tangannya masih meraba-raba kantong hodie dan menemukan secarik kertas di dalamnya.
"Aku tidak memiliki ponsel atau hape. Aku tidak memiliki siapa pun yang bisa dihubungi selain mereka." Mila menatap gerbang yang telah kosong, membayangkan dirinya yang ditinggalkan begitu saja.
"Tangisan Aziel pasti sangat kencang," gumam Mila mengusap perutnya.
"Kamu, sangat mirip dengan istriku yang bernama Yuvita. Apa kamu bersedia menghubungiku pada kontak nol delapan x x x ...."
Mila melirik wanita yang baru saja membacakan isi secarik kertas yang ia dapatkan dari seseorang yang bertemu dengannya saat membeli sate.
"Siapa ini?" tanya Leticya mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan sesuai nomor yang tertera.
Namun, panggilan tersebut tak kunjung dijawab membuat polwan itu kembali menghubungi kontak yang ada sekali lagi.
Beberapa waktu kemudian, akhirnya panggilan tersebut dijawab seseorang di seberang.
"Hallo, selamat sore?" ucap Leticya tanpa pikir panjang.
"Aiptu Leticya?" jawab seseorang di seberang.
Leticya melirik kembali pada layar ponselnya beberapa detik dan menempelkan kembali ke telinga. "Bharada Jun? Apa ini nomor ponselmu?"
"Bukan! Ini milik Pak Pengacara. Orangnya lag8 pingsan di belakang," terang orang yang di seberang.
Aiptu Leticya terdiam menutup ponselnya kembali. Matanya liar melirik ke kiri dan ke kanan, lalu menyimpan kembali ponsel tersebut.
"Siapa, Mbak?" tanya Mila penasaran. Ia sama sekali melupakan perkara secarik kertas tersebut. Mila menengadahkan tangannya meminta potongan benda itu dikembalikan.
Leticya masih memutar bola matanya dan menggelengkan kepala. Ia segera merobek kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam kantong bolero jins yang ia kenakan.
__ADS_1
"Kenapa benda milikku kamu robek?" Alis mata Mila menyatu memasang wajah tidak senang.
"Oh, maaf ... aku refleks begitu saja." Leticya mengeluarkan kembali potongan-potongan kertas itu memberikannya kepada Mila.