
"Kamu nanyeak?" celetuk Yuvi mengernyitkan kening.
April mendapat jawaban seperti itu seketika menjadi kesal bersiap melayangkan tangan.
"Siap-siap kena pasal KDRT yah?" Tangan Yuvi telah memegang ponselnya mengancam akan divideokan.
"Iih, kamu ini? Aku ini serius dan khawatir kamu malah kayak gini. Jawab dong! Kalian itu pacarannya udah sampai tahap apa?"
Yuvi menghela napas mendelik melirik sang kakak. "Pikirkan aja sendiri! Aku di sini, dia di sana. Lalu Mbak ngarepnya aku tu udah ngapain sama dia?" Yuvi memutar bola matanya jengah.
"Mbak-mu ini serius! Banyak tuh kasus kenal-kenal random tak jelas setelah ketemu, diperk*sa! Kami tak mau dong, itu terjadi sama kamu. Apalagi remaja-remaja blo'on model kamu bakalan rawan jadi korban."
Yuvi segera menghubungi kekasihnya kembali, kali ini langsung ke chat personal WA menggunakan video call. Tak perlu lama-lama, Yuvi langsung menghadapkan kayar ponsel yang berisi gambar pria muda nan tampan ke arah sang kakak.
April melongo melihat aksi tak terduga dari sang adik. "Apa yang kamu lakukan?" Dia melirik Yuvi bergantian dengan orang yang ada di dalam layar.
Di dalam layar pipih tersebut, tampak pria tampan menatap datar ke arahnya tanpa mengatakan satu apa pun.
Axel menyembunyikan rasa kebingungannya karena tiba-tiba di layar ponselnya tampak seorang yang sedikit mirip dengan sang kekasih.
"Bagaimana Mbak? Apa mirip tukang culik atau tukang perk*sa?" tanya Yuvi.
Di dalam layar, Axel tersentak mendengar suara sang kekasih yang berkata demikian, tetapi tak melihat bayangannya sama sekali. Matanya mulai liar mencari kekasih yang hanya terdengar suara.
"Kenapa berkata seperti itu?" tanya Axel datar.
"Bagaimana Mbak? Apakah seperti orang yang pantas dicurigai?" Layar ponselnya masih tepat menghadap sang kakak.
"Kamu ngapain sih? Malu-maluin tau nggak?" bentak kakaknya.
__ADS_1
"Kan Mbak bisa nilai sendiri. Kira-kira dia gimana?"
April mendelik kesal dan masuk ke dalam rumah. Layar ponsel diputar dan terlihat wajah datar pria yang berada di dalam layar.
"Maaf ya?" ucapnya sendu, lalu mematikan panggilan tersebut.
Yuvi menghempaskan diri pada kursi rotan lusuh yang ada di beranda rumahnya. Kakinya merasa enggan untuk masuk karena di dalam rumah karena ada sang kakak. Ponselnya tiba-tiba berdering dengan volume yang sangat maksimal membuatnya sangat terkejut.
Dalam layar terlihat tanda panggilan video masuk. Perasaannya masih tidak nyaman usai bertengkar dengan kakaknya tadi. Ia memilih tanda merah dan terlihat tidak berminat untuk berbicara.
Ponselnya kembali berdering, tetapi ia masih berlaku sama menekan tombol merah yang ada di dalam layar. Panggilan kembali masuk, Yuvi menghela napas panjangnya. Akhirnya, kali ini ia menarik tombol hijau.
"Aku lagi gak mood, nanti sa—"
📲"Jangan ditutup!" Yang di seberang langsung menyela.
Yuvi menatap wajah itu, bola mata pria yang ada di dalam layar terus bergerak menilik dan membaca sesuatu akan dirinya.
📲"Loh? Kenapa ditutup?"
"Ah, aku nggak pede dilihatin kayak gitu."
📲"Padahal aku tadi udah diem, nggak bahas-bahas. Aku hanya ingin melihat wajah sedihmu."
📲"Bro, lu sibuk telponan mulu dari tadi? Telpon siapa?" Terlihat di layar ada wajah yang mengintip dari belakang pacar.
"Eh, cewek? Jadi, ini cewek yang lu rahasiakan dari kita-kita selama ini?" Lalu orang yang di belakangnya menghilang.
📲"Maaf yah? Malah ricuh," ucap Axel kembali.
__ADS_1
Lalu pemuda asing di wajah Yuvi tadi, tampak muncul lagi bersama satu kawan yang lain.
📲"Ini, nih Ga. Pacar si kutu kupret yang gak mau diceritain ke kita."
📲"Ah, elu Ndri? Gue kira apaan? Biar aja lah! Biarkan dia bahagia usai patah hati dikhianati." Lalu ia tampak menarik seorang yang ngerusuh tadi.
Yuvi membuka tangannya dan menjepitkan rambut yang tadinya berantakan menutupi wajah ke balik telinga.
Tanpa sadar, senyum laki-laki di dalam layar ponsel itu merekah. 📲"Cantik."
Yuvi kembali menutup wajahnya dengan telapak tangan dan menunduk. "Jangan bilang gitu, jantungku langsung berasa tidak aman kalau Mamas kayak gitu."
📲"Ya udah, jelek!"
Yuvi mengerutkan kening dan menegakkan kepala memamerkan raut kesalnya. "Jelek? Coba ulangi lagi!"
📲"Jelek, jelek, jelek!"
"Hmmfff!" Yuki menautkan bibir mendengkus. "Ya, aku memang jelek. Setidaknya aku tidak pernah mengkhianati siapa pun." Yuvi memanyunkan bibirnya menatap seseorang yang tertawa di dalam layar datar ponselnya.
📲"Apa maksudmu?"
"Sepertinya dugaanku benar?"
📲"Apa?"
"Pernah dikhianati?" Usai mengatakan demikian raut orang yang di seberang berubah. "Ceritain dong? Dah berapa kali pacaran? Kenapa bisa sampai diselingkuhi? Babang tampan gini aja kena selingkuh? Apa lagi yang—"
📲"Hmm ... sudah lah! Aku tak mau membahasnya!"
__ADS_1
Bibir Yuvi mengerucut, melirik kekasih jarak jauhnya dari ujung mata. Saat April melintas, Yuvi memilih untuk diam. April menatap Yuvi dengan wajah nyinyir. Akan tetapi, Yuvi membuang muka dan mendengkus.
"Dasar Kak Ros!" bisiknya mengiringi arah langkah sang kakak yang menghilang.