
Aziel melepaskan kembali genggaman tangan Axel dan Yuvi. Ia berlari mendekati sang Papa, yang membisu memandangnya. Kepalanya menengadah menatap sang ayah, masih menatapnya dengan datar. Aziel menjinjitkan kaki berusaha menggapai tangan Arsen yang sedang menggenggam jeruji besi.
Setelah itu, ia menarik tangan Arsen. "Papa ... Aziel akan menunggu Papa. Aziel sayang Papa. Papa jadi anak baik yaaa ... supaya pak polisi, kasih Papa pulang."
Aziel melirik Mama Mila-nya. "Kata Mama Mila, Mama akan makin sayang kalau Aziel jadi anak baik. Jadi, Papa juga harus jadi anak baik ya? Supaya Mama Mila jadi sayang juga pada Papa."
Arsen seketika melihat wanita yang dimaksud. Pria yang ada di sampingnya langsung mendekap Yuvi dengan erat membelalakkan bola matanya dan dagu dinaikkan sedikit lebih tinggi.
Arsen bisa membaca apa yang ada di kepala Axel, bibirnya menyunggingkan senyum sinis. Arsen kembali menurunkan pandangan pada bocah laki-laki yang masih menggenggam tangannya. "Pergi lah!"
"Aziel sayang Papa ...."
"Pergi!"
"Aziel menunggu Papa ...."
Arsen melepas genggamannya dengan kasar, hingga membuat sang anak limbung hampir terjatuh. Ia terseok menyeret kaki yang luka menuju pojok ruang tahanan tersebut. Aziel kembali memasang wajah sendu. Ia berjalan tertunduk menuju Yuvi dan Axel.
Yuvi melepaskan diri dari dekapan suaminya, berlutut mengusap air mata bocah imut itu. Sang Mama Mila memeluk dan mengusap punggung Aziel.
"Kamu jangan khawatir! Semua akan baik-baik saja."
Aziel menganggukkan kepala. Yuvi bangkit dan menggandeng tangan Aziel. Axel menatap Arsen yang menyandarkan diri ke dinding dan berselonjor tanpa menatap mereka sedikit pun. Hal ini membuat Axel menggeleng kan kepala merasa kasihan kepada bocah laki-laki itu. Ia mendekap pundak Yuvi yang menggandeng Aziel, mengajaknya untuk beranjak.
Arsen lelah berakting, tubuhnya bergetar menangkupkan kedua tangan pada wajahnya. "Maafkan, Papa! Anakku, kamu harus kuat!"
*
*
__ADS_1
*
Di tempat lain, Liani mendapat screenshoot dari kawan lamanya yang mengenal Axel.
[ Jeung, gw baru baca caption ini dari mantan lu itu! ]
[ Kemarin, sempat beredar berita kalau istrinya meninggal karena kapal tenggelam beberapa waktu yang lalu kan? ]
[ Eh, tiba-tiba ada ini? Apa dia udah dapat pengganti ya? ]
[ Ah, lu kelamaan. Selamat menyesal! ]
Pada sebuah foto itu tampak dua tangan berbeda postur, menggunakan cincin yang mirip. Di dalam screenshoot tersebut jelas tertulis nama Pengacara Axel. Caption di bawah foto tertulis sebuah kalimat yang membuat Liani kesal.
Akhirnya, kali ini kita bisa melukis kenangan yang belum sempat kita tulis.
"Tapi emang makin ke sini dia terlihat semakin ganteng sih? Hmmm ... kalau tau begini dulunya, mungkin nggak akan aku lepaskan dia. Biar aja dikekep ke mana-mana sama dia. Yang penting dia sayangnya luar biasa."
"Aaah, kok malah jadi nyesel gini?"
*
*
*
Setelah sampai di Indonesia, Axel terpaksa membawa Aziel dan Yuvi ke rumah orang tuanya. Karena Axel, belum jadi membeli hunian ketika mendapat berita sang istri pergi.
Aziel terlihat selalu murung di samping Yuvi yang terlihat bingung melirik seluruh bagian rumah. Dari posisi yang tak terlihat oleh mereka, tampak Nana menatap mereka dengan tajam, bersidekap dada.
__ADS_1
"Kenapa wanita itu kembali lagi ke rumah ini? Kenapa dia tidak m4ti saja saat kecelakaan itu terjadi?" Nana mendengkus kasar dan beranjak dari sana.
"Aziel maunya tinggal di rumah Papa. Aziel nggak mau tinggal di sini." tangisnya.
"Tapi, jika kamu di sana, kamu akan sendirian. Di sini ramai, ada banyak orang. Aziel tidak akan kesepian." Akhirnya, Yuvi turut membujuk Aziel yang terus merengek.
Aziel memandangi deretan foto yang berisi wajah-wajah yang ada di rumah ini secara bergantian. Ia masih teringat, sempat ke sini saat ia dulu kabur dari sang ayah. Namun, tentu saja tidak akan sama. Mereka adalah orang asing bagi Aziel.
Axel pun mencari sang ibu ingin membicarakan sesuatu. Ternyata, sang ibu berada pada bagian belakang rumah.
"Ma, aku ingin bicara tentang istriku dan Aziel, anak yang kami bawa."
"Bukan kah kamu sudah meng4ncam akan pergi dari rumah ini? Kenapa kamu masih membawa wanita b0doh itu ke sini? Kenapa harus dia? Seperti tak ada wanita lain saja? Padahal Mama sudah menyiapkan pengganti yang jauh lebih baik dari itu."
"Ma, apa pun yang Mama katakan, Yuvi alan tetap menjadi istriku. Lagian kenapa Mama malah bertindak sendiri seperti itu? Sudah sedari awal aku katakan bahwa istriku itu masih hidup!" Axel memasang wajah gusar.
"Hmmmfff?" sang ibu kembali mendengkus kasar. "Lalu, bagaimana dengan Conie?"
"Sekarang Mama bisa mengatakan bahwa aku tidak mau berkenalan dengannya. Aku sudah memiliki istri." Axel hendak beranjak, tetapi dicegat oleh sang ibu.
"Dia sudah tahu kamu itu telah menikah. Tapi, ya dia menyangka kamu sudah duda. Dia bersedia mengenalmu setelah melihat foto yang Mama kasih. Nggak bisa dibatalkan seenaknya gitu dong? Mama kan jadi malu. Soalnya, Mama yang meminta mencarikan gadis itu untukmu?"
Axel menatap ibunya dingin. "Ma, aku memang anak lelaki Mama. Tapi, aku memiliki kehidupan sendiri yang tidak bisa Mama masuki. Aku tidak mau menemui siapa pun itu. Aku sangat mencintai istriku."
"Tapi dia kan amnesia, Xel ... atau mungkin dia itu orang lain yang ngaku-ngaku istrimu yang hilang ingatan. Aneh aja, masa iya ada orang yang masih hidup dalam kecelakaan maut itu?"
Akel melirik sang ibu dengan wajah kecewanya. Ia hanya menggelengkan kepala lalu beranjak. "Ma, sebagai anak, aku sangat kecewa pada Mama." Ia terus melangkah tanpa menoleh sang ibu menuju istri dan Aziel berada.
"Setelah kamu mengenal dia, kamu selalu membantah Mama! Kamu tak pernah lagi menuruti kata-kata Mama. Istri macam apa yang kamu nikahi itu?"
__ADS_1