
"Bersiap lah?" Arsen bergerak mendekat.
Mila melangkah mundur menyilangkan kedua tangannya menutu dada. "Tu-tunggu! Apa yang akan Tuan lakukan pada saya?"
Arsen hendak menangkap Mila. Akan tetapi, Aziel berlari kecil langsung menyelip merentangkan kedua tangannya berdiri di hadapan Mila. "Papa jangan jahat sama Mama Mila," ucap bocah itu.
Arsen tersenyum tipis. Ia merasa cukup berhasil menakut-nakuti Mila. Sejenak, ia melirik sang putra, lalu beralih menarik jas putih yang tergantung pafa tempat yang tersedia. Tak lama kemudian, ia keluar dari apartemen miliknya dan melirik pada pintu yang baru saja mengeluarkan nada kunci otomatis.
"Ah, sial! Baru saja aku ngapain?" gumamnya terus menjauh dari apartemen yang ia tempati ini.
Arsen menyugar kepala bagian belakang dan turun menikmati suasana di kota asing itu. Sementara itu, dua orang yang ditinggalkan di dalamnya melakukan kegiatan lain. Melanjutkan sesuatu yang dikerjakannya sebelumnya.
"Kamu bermain di sini dulu yah? Mama mau melanjutkan pekerjaan yang kemarin, berhubung papamu pergi."
Aziel menganggukkan kepalanya lalu menendang bola yang baru dibelikan oleh ayahnya tadi malam. Mila mengeluarkan potongan-potongan kertas miliknya yang dirobek oleh seorang polisi wanita beberapa waktu yang lalu.
Ia sudah berhasil menyusun setengah bagian, menyisakan setengah bagian yang penting lainnya. Selotip pun berada pada posisi yang tidak jauh dari potongan-potongan kertas bak puzzle itu. Mila kembali mengulang membaca hasil rangkaian dari susunan kertas tersebut.
"Kamu, sangat mirip dengan istriku yang bernama Yuvita."
Mila merenung sejenak. "Yuvita? Kenapa nama itu tidak asing? Istrinya bernama Yuvita ... katanya mirip denganku." Mila mengusap dagu dengan jemarinya.
Setelah tidak menemukan jawaban, potongan-potongan yang telah tersusun tersebut kembali dilirik. Setelah merenung sejenak, ia melanjutkan menyusun kertas-kertas tadi.
Sementara itu, di Indonesia, langit dalam keadaan gelap. Pada sebuah rumah tampak seorang yang sedang duduk di meja kerja dalam sebuah kamar memandangi foto gadis yang mengenakan seragam putih abu-abu.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku karena tidak mengenalimu. Katakan padaku, saat ini kamu berada di mana? Aku akan menjemputmu meski itu ke ujung dunia sekali pun."
Axel memandangi cincin putih yang melingkar di jemarinya. "Bagaimana dengan keadaan bayi kita? Di saat terakhir kali pertemuan kita, kamu terlihat sangat kesakitan," lirihnya.
Axel membelai wajah yang ada di dalam bingkai foto tersebut. Setelah itu, ia mencoba mencari-cari nama dan jaringan yang dimiliki oleh seorang Arsenio Wijaya.
Di negara jauh sana, terlihat Arsen sedang berbicara dengan seseorang yang dia kenal.
"Claud, thank you for helping me to be able to work in this hospital."
"You're welcome, Bro. Saya merasa senang bisa membantu suami mendiang Jovita pasien saya dulu. Perjuangannya untuk bertahan hidup, membuat saya sangat tergugah. Namun, saat mendengar kabar akhir dari perjuangan saat ia melahirkan, membuat saya merasa sangat sedih." Claud menepuk lengan Arsen beberapa kali.
Claud adalah dokter yang menangani kesehatan Jovita. Akan tetapi, hubungannya cukup dekat dengan Arsen. Arsen dan Jovita sering melakukan perjalanan ke negeri Hollywood itu untuk pengobatan istri yang menderita kanker sebelum masa kehamilan.
Claud sedikit memiringkan kepalanya. "Dia tinggal dengan siapa?"
"Tenang saja, dia aman bersama ibunya yang baru."
"Waaah, ternyata kamu sudah memiliki istri yang baru. Selamat! Semoga kali ini, dia bisa menemanimu hingga tua nanti."
"Ekheeem. Bye!" Arsen kembali menuju apartemennya. Ia melirik Claud yang salah menduga, tetapi bibirnya tersenyum tipis dan melanjutkan langkah menuju apartemen.
Di sisi lain, Mila masih sibuk merangkai potongan-potongan puzzle kertas yang berhasil ia susun lebih dari setengah bagian.
"Kamu, sangat mirip dengan istriku yang bernama Yukita. Apa kamu bersedia menghubungiku pada kontak 0 8 ...." Mila kembali mencari potongan-potongan yang tinggal sedikit lagi.
__ADS_1
Dari arah pintu, terdengar suara seseorang menekan-nekan tombol kunci tempat tinggalnya. Mila langsung menyimpan rangkaian puzzle yang sudah tersusun tersebut masuk ke dalam kantong celana yang ia kenakan saat ini dan langsung berjalan ke dekat Aziel yang sedang bermain.
Suara mirip siulan terdengar saat pintu apartemen itu dibuka. Mia langsung memasang aksi menemani Aziel yang sedang bermain.
"Aku membawa ini ...." Arsen memamerkan bungkusan yang berisi makanan.
Namun, ia tidak menyadari, ada satu potongan kecil tercecer melayang lalu jatuh ke atas lantai.
*
*
*
Keesokan hari di Indonesia, Axel tengah duduk di kantor kepolisian negara. Ia menatap tajam pada Brigpol Luki yang saat ini sedang menjadi pesakitan di ruang Komandan Aji.
"Luki! Jawab lah! Dokter Arsen itu pergi ke negara mana?" tanya Komandan Aji dengan tegas.
"Saya tidak tahu, Komandan. Sudah berapa kali saya katakan, kami tidak memiliki hubungan sedekat itu!" jawab Brigpol Luki.
Axel menyugar rambutnya beberapa kali meringis kesal. Kedua tangannya mengusap kedua paha beberapa kali. Namun, ia masih mencoba untuk menahan diri.
"Apa kamu mengetahui, kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan oleh Dokter Arsen selama ini?" Komandan Aji melanjutkan interogasinya.
"Tidak, Pak. Saya tidak tahu apa-apa," jawabnya.
__ADS_1