Jangan Lupakan Aku

Jangan Lupakan Aku
126. Kembali Berpisah


__ADS_3

Yuvi merasa sedih melihat reaksi Axel yang kecewa. Ia tahu bahwa keputusannya tidak akan mudah bagi keduanya, tetapi dia merasa bertanggung jawab terhadap keluarganya dan komitmen pekerjaannya. Meskipun begitu, Yuvi ingin menjaga hubungan mereka tetap baik.


"Maafkan aku, Mas. Aku tahu ini sulit bagimu, tetapi aku berharap kamu mengerti situasiku. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu," kata Yuvi dengan suara lembut.


Axel berbalik menghadap Yuvi dan mencoba mengendalikan kekecewaannya. "Aku mencintaimu, Yuvi, dan aku ingin yang terbaik untukmu. Aku akan mencoba memahami situasimu, meskipun sulit bagiku."


Yuvi merasa terharu mendengar kata-kata Axel. Ia tahu betapa berartinya dukungan dan pengertian dari pasangan dalam menjalani hidup. Ia menghampiri Axel dan meraih tangan kekasihnya.


"Terima kasih, Mas. Aku juga mencintaimu dan menghargai perjuanganmu. Kita bisa melewati ini bersama-sama. Aku berjanji akan tetap menjaga hubungan kita dan mengusahakan agar kita bisa bersama saat waktuku di Hongkong selesai," ucap Yuvi penuh keyakinan.


Axel tersenyum pahit, tetapi dia mencoba menerima keputusan Yuvi. "Baiklah, Yuvi. Aku akan bersabar dan mendukungmu dalam perjalananmu. Kita akan menikmati waktu yang ada bersama dan menjaga hubungan ini tetap kuat."


Kedua pasangan itu saling memandang dengan penuh harapan dan ketulusan. Meskipun ada tantangan yang harus dihadapi, mereka berjanji untuk menjaga hubungan dan saling mendukung dalam perjalanan hidup masing-masing.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka di sepanjang sungai Han, sambil saling berpegangan tangan. Meskipun ada rasa sedih di hati mereka, mereka juga menemukan kebahagiaan dan keindahan dalam momen-momen yang mereka bagikan bersama. Mereka memutuskan untuk menikmati sisa malam itu dengan penuh kegembiraan dan cinta.


Yuvi berdiri di Bandara Incheon, berusaha menahan air matanya yang hampir tumpah, sambil melambaikan tangan kepada Axel. Ia akan segera kembali ke Hong Kong, dan kesadaran bahwa mereka akan berpisah sangat berat baginya. Mereka telah menghabiskan momen-momen indah bersama, dan pikiran akan berpisah untuk jangka waktu yang lama membuatnya menjadi emosional.


Axel, dengan senyum penuh keberanian di wajahnya, menghampiri Yuvi. "Jaga dirimu dengan baik di sana, Yuvi. Aku akan merindukanmu setiap hari," ucapnya dengan suara lembut.


Yuvi mencoba menahan tangisnya saat merespons, "Aku juga akan merindukanmu, Axel. Terima kasih atas semua kenangan yang telah kita buat bersama. Aku berjanji akan kembali setelah kontrakku selesai. Kita akan bertemu lagi."

__ADS_1


Axel menggenggam tangan Yuvi dengan penuh kasih sayang. "Aku akan menunggumu, Yuvi. Jadikanlah perjalanan ini sebagai pengalaman yang berharga, dan tetaplah kuat. Aku yakin kita akan bersatu kembali suatu hari nanti."


Dengan berat hati, Yuvi melepaskan genggaman tangan Axel dan berjalan menuju pintu pesawat. Sebelum memasuki pesawat, ia membalikkan badannya untuk melihat Axel sekali lagi. Matanya penuh dengan harapan dan cinta.


"Selamat tinggal, Axel. Aku akan selalu mengingatmu," bisik Yuvi, lalu ia melangkah maju menuju perjalanan yang akan membawanya kembali ke Hong Kong.


Axel berdiri di tempatnya, menyaksikan Yuvi menjauh, dan meskipun hatinya sedih, ia tersenyum dengan keyakinan bahwa cinta mereka akan bertahan meski jarak memisahkan. Ia bertekad untuk menunggu Yuvi dengan sabar, sambil merencanakan masa depan yang indah bersama.


Saat pesawat Yuvi lepas landas, mereka berdua memikirkan satu sama lain, saling mengirimkan doa dan harapan untuk waktu yang akan datang. Meskipun terpisah oleh jarak, cinta mereka tetap kuat, dan mereka percaya bahwa takdir akan membawa mereka bersatu kembali.


Yuvi duduk di kursi pesawat dengan hati yang penuh emosi. Air matanya mulai mengalir begitu pesawat meninggalkan Bandara Incheon dan menuju Bandara Hong Kong. Pikirannya terus teringat pada momen-momen indah yang mereka habiskan bersama Axel, dan kehadiran Axel dalam hidupnya menjadi semakin berarti.


"Mili, aku merasa hancur saat harus berpisah dengan Axel. Setiap momen bersamanya begitu berarti bagiku," ucapnya pada seseorang yang duduk di sampingnya.


"Aku tahu perasaanmu, Yuvi. Kalian berdua memiliki ikatan yang kuat. Tapi ingatlah, jarak bukanlah penghalang untuk cinta sejati. Kalian bisa menjaga hubungan ini dengan saling mendukung dan berkomunikasi secara teratur."


"Aku berharap begitu, Mili. Tapi terkadang rasanya begitu sulit. Bagaimana aku bisa mengatasi kerinduan dan kesedihanku?" Air mata Yuvi, terus jatuh tak bisa lagi ia bendung.


"Ketika rasa rindu itu datang, cobalah untuk mengingat kenangan indah yang kalian bagikan bersama. Lihat foto-foto dan pesan dari Axel, dan ingatlah bahwa cintamu masih ada di sana. Selain itu, jaga komunikasi yang baik dengan Axel melalui pesan, panggilan video, atau bahkan kunjungan jika memungkinkan. Jadwalkan waktu khusus untuk berbicara dan saling mendengarkan," ucap Mili dengan bijaksana.


"Aku akan mencoba, Mili. Aku tidak ingin kehilangan Axel. Aku akan tetap kuat dan berusaha menjaga hubungan ini."

__ADS_1


"Aku yakin kamu bisa melakukannya, Yuvi. Dan selama kalian berdua saling mempercayai dan berkomitmen, tidak ada hal yang tidak mungkin. Kalian bisa melewati jarak ini dan menjaga cinta kalian tetap bersinar."


"Terima kasih, Mili. Aku beruntung memiliki teman seperti kamu yang selalu ada untukku. Meski sedih, aku akan berusaha menjaga semangatku."


"Kami akan selalu mendukungmu, Yuvi. Aku percaya bahwa cinta sejati akan selalu menemukan jalan. Jika kalian memang ditakdirkan bersama, waktu dan jarak tidak akan menjadi penghalang."


"Aku berharap begitu, Mili. Aku akan tetap berdoa dan melangkah maju dengan harapan Axel dan aku bisa bersatu kembali suatu hari nanti."


"Semangat, Yuvi! Aku ada di sini untukmu. Kita akan melewati ini bersama-sama."


"Terima kasih, Mili. Aku berharap kita bisa bertemu lagi dengan senyuman di wajahku dan cerita bahagia untuk dibagikan."


"Pasti, Yuvi. Kita akan melihat masa depan yang cerah bersama. Percayalah."


Setelah Yuvi dan Mili tiba di Bandara Internasional Hongkong, mereka berdua berpisah untuk kembali ke rumah majikan masing-masing. Yuvi merasa sedih dan tegang saat menghadapi pertemuan dengan Nyonya Hong, majikannya. Namun, ia tetap memasuki rumah dengan harapan semuanya baik-baik saja.


Akan tetapi, ia mendapat sambutan dingin dari keluarga Nyonya Hong. Nyonya Hong tidak terlihat.


"Apa yang terjadi, Tuan Muda Hong?" tanya Yuvi kepada putra Nyonya Hong.


"Mama masuk rumah sakit! Ini gara-gara kamu!" bentaknya.

__ADS_1


__ADS_2