
"Huuuffft ... kalau kamu begini, aku tidak tahu cara menghiburmu. Aku bukan manusia yang bisa memahami kata tanpa bahasa verbal. Aku bukan suhu yang memahami bahasa hanya lewat ekspresi. Jadi, apa pun yang kamu rasa, kamu harus berani menyampaikannya kepadaku. Itu lah harfiahnya suami istri, saling memberi dan saling menerima. Karena dalam pernikahan itu, kita tidak selalu bahagia."
Yuvi masih menundukan wajahnya. "Aku hanya kasihan dengan Aziel. Dia terlalu kecil menerima hukuman yang tidak dilakukannya."
"Hanya itu? Ada yang lain?" tebak Axel. Akan tetapi, Yuvi masih menggelengkan kepala.
Axel beringsut turun berlutut di hadapan Yuvi. Ia memeluk sang istri, lalu menempelkan daun telinganya pada rahim istrinya.
"Sayang, apa kamu mendengar suara Papa? Apakah benar hanya itu saja?" Beberapa waktu suasana hening, Axel mengangguk sendiri.
"Terima kasih yah? Nanti kasih tau Papa alasan mamamu menjadi sedih ya?" Axel bangkit dan memeluk sang istri.
"Anak kita sudah mengatakan semuanya padaku. Kamu jangan sedih yah? Apa pun yang diucapkan Mama, jangan diambil hati." Ia mengecup kening istrinya. Yuvi memaksakan senyum merekah di bibir dan mengangguk pelan memeluk pinggang sang suami.
"Lalu bagaimana keputusannya?" tanyanya menengadahkan wajah menatap Axel.
"Setelah ini tidak ada yang boleh mendekati Aziel. Jika masih nekat, mereka mendapat sanksi hukum yang tegas." Sejenak, mata Axel terlihat liar. Deru napas berat terdengar membuat Yuvi menyimpulkan sesuatu dengan sendirinya.
"Semoga, semua baik-baik saja."
*
__ADS_1
*
*
Keesokan hari, Axel berencana kembali ke agen rumah yang dulu sempat ia datangi. Saat ia keluar dari ruang kerja, suasana di kantor ternyata sedikit heboh. Tak sedikit yang menggodanya karena batal menjadi duda keren yang membuat para pengejar cintanya, kembali sekedar memendam asa.
"Buru-buru sekali, Pak? Masih belum habis kangen sama istrinya?" tanya sang sekretarus menggoda Axel.
Axel sekedar tersenyum tipis tak menjawab melambaikan tangan meninggalkan kantor. Tak lama kemudian, ia telah berada di tempat agen penjualan rumah.
"Bagaimana kalau apartemen saja?" tawar sang agen.
"Sepertinya apartemen akan menyulitkan istriku nanti. Aku ingin rumah terbaik dan nyaman untuknya. Apalagi istriku sedang hamil saat ini. Jadi, rumah itu bisa membuatnya tentram."
"Anda bisa memilih, mana rumah yang Anda suka."
****************
Yuvi sedang membersihkan kamar yang semalam ia tempati bersama sang suami. Ia memandangi seluruh pernak pernik yang ada di dalam kamar tersebut. Entah kenapa ia merasa sedih dan suram. Ditambah lagi perilaku mertuanya yang tidak pernah lembut sedikit pun padanya.
"Mama, Aziel mau es krim. Kita jajan es krim yuk?" Aziel terlihat bosan beringsut turun dari ranjang yang ia tempati semenjak tadi.
__ADS_1
"Ah, iya ... kita tunggu Papa Axel pulang kerja dulu ya? Nanti dibelikan sama Papa Axel aja. Kan Papa Axel ngelarang kita untuk keluar dulu."
Aziel seakan teringat pada suatu hal yang dikatakan oleh seseorang kemarin. "Tadi Aziel denger ada es krim dalam lemari es di dapur. Boleh minta yang itu nggak, Ma?"
Yuvi berpikir sejenak. Kepalanya seakan menerawang orang yang berada di balik pintu di luar kamar ini. "Hmm, nanti aja? Kita tunggu Papa Axel pulang dulu."
Aziel memasang raut kecewa berjalan menepi duduk meringkuk di sudut kamar. Yuvi yang saat ini memegangi sapu, tertarik akan tingkah bocah itu. Ia segera berjalan mendekati Aziel.
"Kok cemberut?"
"Aziel kan lagi pengen es krim, Ma."
Yuvi tersenyum kecut merasa sedikit sungkan. Karena ia sadar diri bahwa mereka hanyalah orang asing yang tidak diterima di rumah ini. "Iya, tunggu dulu ya? Pasti dibelikan kok."
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras berasal dari luar. Yuvi bangkit kembali dengan tergesa telah menduga siapa yang melakukan itu semua dan buru-buru membuka pintu kamar itu.
__ADS_1
"Iya, Ma?"