
Namun, pasukan polisi tak bergeming tiada menanggapi apa yang diucapkan anak kecil itu.
Aziel akhirnya berlari pada Mila yang sedang terjepit dalam pelukan Axel. Aziel menarik tangan Mila menunjuk ke arah Arsen.
"Mama ... tolongin papa ... orang-orang itu sudah jahatin papa ...." Aziel menggoyang-goyangkan lengan Mila yang menggantung dalam pelukan Axel.
Aziel mendorong tubuh Axel. "Lepaskan Mama Aziel, Om. Biar kan Mama bicara dengan orang-orang yang narik-narik papa."
Axel melepaskan pelukannya, ia duduk berjongkok menyamaratakan tinggi dengan anak laki-laki bernama Aziel ini. Axel memegang kedua pundak Aziel.
"Mama Mila-mu ini adalah orang yang selama ini Om cari. Kenapa begitu? Karena papamu sudah menyembunyikan istri Om dalam kurun waktu yang sangat lama. Sekarang, izinkan Om membawa mama Mila-mu ini kembali pulang ke rumah kami."
"I-istri? Aku?" tanya Mila gugup.
"Tidak boleh! Mama Mila harus sama Papa dan Aziel. Mama Mila harus tinggal sama Aziel."
Axel melirik pada wanita yang masih termangu setelah menyampaikan kenyataan kepada Aziel. Setelah itu, ia melirik Arsen yang tidak sanggup lagi melawan diseret paksa oleh para anggota interpol.
"Papaaaa ...." Tangisan Aziel kembali meledak ingin mengejar mereka semua yang membawa Arsen. Namun, tangan Axel telah mencekal tubuh sang anak yang sudah meronta-ronta untuk mengikuti sang ayah.
Mila menggantikan Aziel mengikuti Arsen yang sudah dibawa masuk ke dalam lift. Wajah orang yang telah bersamanya dalam beberapa waktu ini terlihat memutih. Ia kehilangan banyak darah. Arsen terdiam dalam menatap Aziel dan Mila secara bergantian.
__ADS_1
"Saya akan menjaga Aziel. Bapak tak usah khawatir," ucap Mila melirik Aziel yang masih menangis berusaha melepaskan diri dari Axel.
Lift pun tertutup, Mila segera memeluk Aziel yang masih ditahan oleh Axel. "Sabar ya Sayang. Nanti kita akan menyusul papamu ke kantor polisi."
Axel bangkit menggandeng Aziel. "Ayo, kita bersiap. Bawa semua benda berharga yang kamu bawa dari Indonesia! Ayo pulang!"
Pasukan ibu-ibu tadi telah membubarkan diri masuk ke rumah mereka masing-masing. Mila menatap Axel yang tidak putus mengawasi dirinya semenjak tadi hingga membuat dirinya menjadi canggung. Mia memutar bola matanya mengalihkan pandangan.
"Oh ... ya ... rumahnya yang itu." Mila bergerak cepat masuk ke dalam apartemen milik Arsen.
Axel mengikuti langkah Mila menggandeng Aziel yang masih menangis melihat keadaan papanya yang miris. el mengusap kepala Aziel turut merasa kasihan. Namun bagaimana lagi, walau kenyataan ini pahit baginya, tetapi ini lah kenyataan yang harus ia terima.
"Om gak boleh membawa Mama Mila, Aziel. Mama Mila hanya boleh bersama Aziel."
"Minum dulu ya?" Mila mendekatkan gelas itu ke mulut Aziel. Setelah bocah itu minum beberapa teguk, ia tampak lebih tenang.
Mila kembali mengambil air minum dan kali ini disertai alat P3K yang diletakan di atas baki. Mioa mendekatkan baki itu ke hadapan pria yang mengatakan bahwa dia adalah istrinya. Tiba-tiba Mila merasa malu sendiri saat mengingatnya.
Axel menerima gelas yang berisi air putih itu dengan senyuman membuat ketampanannya menjadi maksimal. Tangan Mila bergetar hebat dan ia membuang muka mengalih pandangan kembali. Ia benar-benar merasa canggung dengan keadaan ini.
Axel menenggak minuman tersebut hingga habis, lalu menyerahkan gelas yang telah kosong hanya dalam kurun waktu beberapa detik. "Lagi!" pintanya.
__ADS_1
Mioa menaruh baki yang berisi alat P3K tadi, mengambil gelas tersebut dan segera mengisinya. Kali ini Mila menyerahkannya langsung ke tangan Axel disambut oleh pria yang selalu memenuhi kepalanya itu.
Axel menerimanya sambil menggenggam tangan Mila beberapa detik. Setelah itu, ia meneguknya dan menyisakan setengah bagian.
"Apa kamu tahu, ini adalah air pertama yang aku minum semenjak menginjak negeri paman Sam ini?"
Mila menjepit bibir menahan senyumnya. Ia melihat langit-langit rumah ini menahan diri karena jantungnya saat ini, berdebar hebat.
"Kamu, tahu ... tingkahmu saat ini persis sama seperti saat aku baru menginjakan kaki di rumahmu?"
Informasi dari Axel membuat Mila memutar tubuhnya memegangi kedua pipi. Ia merasa malu dan tubuhnya menjadi panas dingin.
Sementara pria yang membuatnya jadi seperti itu mengusap kepala Aziel dan menghapus air matanya. "Jangan nangis lagi ya? Dulu kamu bilang, Mama Mika adalah mama kedua untuk kamu. Om tidak akan marah kok, asal kamu tidak larang Om untuk membawanya bersama Om."
Aziel melirik Mipa yang masih membelakangi mereka dengan wajah polosnya. "Mama Aziel, jangan dibawa Om ... nanti Aziel tinggal bersama siapa jika Om membawa Mama Mila?"
Axel mengusap punggung Aziel beberapa kali. "Kamu jangan khawatir! Mama Mila pasti tidak akan membiarkanmu sendirian."
Mila menepuk pipinya beberapa kali. Setelah itu menatap Aziel mengangguk menyetujui apa yang dikatakan pria ini, barusan.
Bibirnya masih tidak bisa lepas dari senyuman hingga membuatnya menjepitnya hingga terlihat aneh. Mila mengambil alkohol menuangkannya pada kain kasa yang ada di dalam kotak P3K.
__ADS_1
"Tahan sejenak. Aku akan membersihkannya." Mila duduk tepat di samping Axel.