
Wajah Mila terlihat kecewa, karena ia sendiri belum sempat membaca pesan yang tertulis di dalamnya. "Padahal, ini diberikan oleh ...."
"Mana suamimu?" sela Leticya.
Mila kembali menggelengkan kepala. Leticya pun menjadi heran atas jawaban yang tanpa jawaban itu.
"Maksudnya?"
"Saat aku bangun, aku tak mengingat siapa pun. Bahkan, aku tidak tahu siapa ayah dari anak di dalam sini. Aku tahu, suamiku pasti sedang mencariku." Mila mengusap perutnya dengan wajah sendu. Ia teringat kembali pada pria yang bernama Axel yang diseret oleh anak buah Arsen.
Leticya, sang lawan bicara memainkan kepalan pada bibir dan dagunya. Ia memutar badan, wajahnya mengernyit dan memukul angin.
"Kenapa Mbak?" Mila meminta penjelasan.
"Maaaamaaaa?" Suara tangisan memanggil namanya terdengar jelas membuat tatapannya refleks menuju Aziel yang sudah berada di ujung koridor.
"Kamu kembali?" tanya Mila beringsut langkah mendekati Aziel.
Leticya membiarkan Mila pergi. Aziel mengusap air matanya dan segera mendekati Mila.
"Ayooo, Ma? Papa sudah menunggu di mobil." Aziel menggenggam tangan Mila dan mengajak Mila berjalan meski perlahan.
Aiptu Leticya terlihat gusar menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Tangan itu beralih menggaruk rambut lurus berpotongan box dan giginya masih tertaut tidak tahu akan sikap yang saat ini dilakukannya.
"Siiiaaal! Apakah dia memang istrinya Pak Axel? Kenapa istri Pak Axel itu masih hidup?" Leticya pun berlari menuju tempat yang diucapkan oleh Bharada Jun.
Sementara itu, Arsen yang menunggu putranya kembali menjemput Mila, terlihat gusar karena mereka belum juga sampai ke lokasi mobilnya terparkir.
Ponselnya bergetar. Arsen segera menarik tombol hijau dan langsung menempelkannya pada daun telinga.
__ADS_1
"Sudah siap? Oke! Tunggu saya! Kami akan segera ke bandara!"
Saat panggilan usai, Aziel dan Mila telah berada dekat dengannya. Dengan cepat, Arsen membuka pintu mobil dan memberikan ruang untuk Mila dan Aziel masuk. Setelah memastikan keduanya telah berada di dalam, Arsen berpindah posisi ke bagian sebelah supir.
"Cepat ke bandara!!" ucap Arsen memasang sabuk pengaman.
Aziel mengusap lengan Mila yang masih meringis. "Pak, pelan-pelan! Mama sakit!" ucap Aziel memberi peringatan kepada supir. Kendaraan itu kembali meninggalkan lokasi.
*
*
*
Beberapa hari kemudian, pintu gerbang masuk ke rumah sakit Medika Jaya ditutup dengan label DISEGEL.
Axel duduk di atas kendaraannya yang tepat berada di depan gerbang tersebut dengan wajah hampa. Para dokter, perawat, dan semua karyawan yang bekerja di sana, diinterogasi oleh pihak polisi.
Tiba-tiba, Aiptu Leticya menanyakan kisah kejadian lengkap saat kecelakaan pesawat yang ditumpangi istrinya.
Setelah menceritakan semua kejadian, Aiptu Leticya tak bergeming dan tidak mengatakan apa pun hingga semua kasus pencul1kan dan penjualan organ tubuh manusia terungkap semua.
Pihak pengadilan memutuskan rumah sakit itu disegel tak layak guna hingga waktu yang tidak ditentukan. Namun, sang pimpinan rumah sakit tak bisa dihubungi dan entah kabur ke mana menggunakan transportasi udara.
Baru lah, tadi malam Leticya menceritakan kepada Axel tentang percakapan antara dirinya dengan wanita bernama Mila.
"Kenapa kamu tidak mengatakan apa pun semenjak awal?" geramnya kesal.
"Maaf ...." Leticya menundukkan kepalanya. Wanita berambut box itu pergi dengan wajah tertunduk. Ada rasa sesal menyelinap di hatinya, tetapi bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur. Istri dari pria idamannya telah dibawa kabur, karena ia melepaskan wanita itu begitu saja.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu melupakan kisah kita yang panjang dan berliku di antara kita dengan mudahnya? Sementara aku, terus tersiksa karena menjadi suami yang tidak berguna bagimu. Jangan lupakan aku, Sayang. Kamu di mana?" rintihnya sendu.
"Perjuanganmu pasti sangat lah berat mengandung buah hati kita tanpa ada aku di sisimu. Sayang, harusnya aku menyadarinya semua semejak awal. Bukan setelah kamu menghilang kembali."
Axel menyandarkan kepala pada jok di depan kemudi, menutupi setengah wajah dengan lengannya. Ia tiada henti menyalahkan diri sendiri. Ia merasa putus asa, tidak tahu harus berbuat apa.
"Ke mana bajingan itu membawamu? Ah, sial! Sial! Aaaarrgh!" Axel memukul-mukul setir beberapa kali dan akhirnya ia mengusap wajahnya dengan kasar.
*
*
*
Pada sebuah ruangan di gedung pencakar langit, Mila memandangi sebuah patung seorang wanita ukuran yang sangat kecil, terlihat dari jarak yang jauh. Patung wanita yang sedang memegang obor di tangan kanannya, dan buku di tangan kirinya. Ia tak tahu berapa jauh keberadaannya saat ini dari seseorang yang terus mencari keberadaannya.
"Sampai kapan kita di sini, Pak?"
"Mungkin untuk selamanya," seringai Arsen duduk bersandar pada sofa di ruangan yang tidak terlalu luas tersebut.
Saat ini, keadaan Mila sudah jauh lebih baik karena mendapat penanganan intensif pada rumah sakit teman Arsen di kota ini. Arsen pun diajak bekerja di rumah sakit itu untuk menjalani hari baru di kota asing ini.
"Mama, Aziel tidak mengerti cara bicara dengan anak-anak yang tinggal di sini. Aziel bingung mereka mengatakan apa."
Mila berjongkok dan tersenyum manis. "Kita tidak akan lama tinggal di sini. Mama harus mencari papa adik yang ada di dalam sini," ucap Mila mengusap perutnya.
"Jadi, adik itu bukan adik dari Papa?" tanya Aziel dengan lugunya.
"Jadi, kamu mau memiliki adik dari Mama Mila-mu itu?" seringai Arsen menatap Mia penuh arti.
__ADS_1
Mila menggeleng cepat. "Bapak jangan macam-macam kepadaku!"