
"Lepaskan!" teriak Tuan Setto.
"Apa yang kalian ingin kan?" Tuan Setto segera merogoh kantong pada celana mengeluarkan dompetnya.
"Saya tahu! Kalian menginginkan ini!" Tuan Setto menarik isi yang ada dalam dompet itu.
"Ambil!" Lalu melemparnya tepat di wajah Arsen.
Arsen hening, ini pertama kali ia mendapat kehinaan dari keluarga pasien. Arsen merasakan harga dirinya jatuh seketika di antara uang yang bertebangan di udara.
Arsen terpaku menatapi punggung keluarga Tuan Setto yang terus menjauh meninggalkan ruang ICU itu. Tangannya tergenggam, tambang emas melayang, dan ia merasa dipermalukan.
Ponsel Arsen bergetar, tanpa pikir panjang ia menjawab panggilan tersebut tidak melihat siapa yang meneleponnya. "Kenapa kalian sangat lama, hah?"
Suara di seberang terdengar hening. "Cepat katakan! Di mana anak itu!" bentaknya lagi setelah tidak mendapatkan jawaban.
"Maaf, Dok ... saya tidak mengerti dengan maksud Anda," jawab seseorang yang diseberang.
Arsen mengerutkan keningnya melirik pada layar ponsel yang melekat di telinga. Dengan seketika ia pun terkejut ternyata orang yang baru saja ia maki, bukan lah Kano.
"Ma-maaf, Pak. Saya pikir yang menelepon barusan adalah karyawan rumah sakit ini." Arsen berusaha menata dirinya kembali mengusap jakun yang terasa sangat kering.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Sepertinya Anda sedang mengalami masalah?" tanya yang diseberang kembali.
"Biasa lah Pak. Masalah pasti selalu ada di mana pun kita berada dan bekerja. Ada informasi penting apa ya, Pak? Tumben sekali Anda menelepon?"
"Begini, Dok. Barusan seseorang meminta izin kepada pihak kepolisian untuk menggeledah dan memeriksa rumah sakit yang Anda pimpin."
Wajah Arsen yang sudah tegang gara-gara kesal, kini semakin mengerut. "Maksudnya?"
"Seorang pengacara, baru saja melaporkan keanehan Rumah Sakit Medika Jaya. Beruntung dia membuat laporan kepada saya. Jika, ia melapor kepada Komandan Aji, dipastikan malam ini juga rumah sakit itu akan disidak dan diinvestigasi."
Degh ...
"Anda jangan khawatir, Dok. Saya akan menjadi tameng yang handal bagi, Anda. Asalkan ... sepertinya saya tidak perlu memperjelaskannya lagi bukan?"
Panggilan pun usai, menyisakan debaran jantung yang belum juga kembali normal. "Siapa orang yang ikut campur dengan urusanku?" geramnya.
Setelah beberapa waktu berhasil menata diri, Arsen segera melakukan panggilan kepada Kano. Tak lama kemudian, panggilan dijawab.
"Maaf, Boss ... kami belum bisa menemukan kriteria itu hingga saat ini. Mohon tunggu beberapa waktu lagi! Kami masih dalam pencarian."
"Cepat kembali!" ucap Arsen dengan geram.
__ADS_1
"Tapi, Boss? Bukan kah transplatasi itu akan dilakukan malam ini juga?" Kano masih belum mengetahui apa yang terjadi, tetapi ia berhasil membuat raut merah padam milik Arsen, semakin menghitam.
"CEPAT KEMBALIIII!" teriaknya.
Kano tersentak membuat ponsel yang tadinya melekat pada telinga, menjauh dari posisinya. Beberapa kali ia mengusap telinga dan menggelengkan kepala.
"Baik lah, Boss. Kami akan kembali."
*
*
*
Pada mansion keluarga Arsen, Mila tengah mengeloni Aziel yang hampir tertidur. Bibirnya tiada henti mengulas senyuman. Bayangan senyuman Axel, seakan tak luput dari ingatan.
Senyuman itu persis sama dengan rangkaian gambar yang terkadang muncul dalam ingatan. Meskipun terasa samar, entah kenapa wajahnya tidak asing sama sekali. Siapa dia?
Mia merasakan debaran yang semakin cepat.
Aku ingin bertemu kembali dengannya. Namun, aku tak mau jika Pak Arsen melihat pertemuan kami berdua. Kenapa ini?
__ADS_1