
Para perawat itu memilih diam dan masih saling bertatapan. Akan tetapi, di saat ia melihat wajah memelas pria tampan tersebut, akhirnya mereka mengangguk.
Tanpa sadar Axel mengulas senyuman dan segera menepisnya kembali memasang raut penuh ketakutan. Axel membantu mendorong brangkar tersebut masuk ke melewati koridor menuju unit gawat darurat. Di sampingnya, Ron mengikuti memandang Beni yang berakting di atas brangkar.
Setelah mereka memasuki ruang emergensi tersebut, beberapa pria berpakaian hitam berjalan melewati koridor. Hal ini tertangkap jelas oleh mata Axel.
"Saya akan keluar sejenak, tolong periksa dengan baik! Saya akan membayar perawatannya."
Para perawat itu menganggukkan kepala, lalu segera mencari dokter yang bertugas pada unit gawat darurat ini. Axel pun memberi pesan kepada Ron untuk duduk menunggu dengan tenang pada bangku yang tersedia di dalam ruangan tersebut.
Sedangkan Axel, bergerak cepat mengejar para pria berpakaian serba hitam yang seolah tidak mengganggu bagi para karyawan rumah sakit ini. Para pria berwajah sangar itu, terus berjalan menyusuri koridor panjang menuju bagian paling belakang.
Mereka itu bukan orang-orang tadi. Namun, aku yakin mereka pasti menuju ke rumah sakit ini, batin Axel.
Ia mencoba mengikuti gerakan cepat tetapi mencurigakan para pria yang mengenalan pakaian serba hitam itu. Namun, ketika setiap melangkah, suara gemeletuk dari sepatunya ternyata cukup mengganggu. Ia segera melepaskan kedua sepatu lalu memilih menentengnya mengikuti diam-diam dari belakang.
__ADS_1
"Buruan! Malam ini kita harus eksekusi!" ucap salah satu dari mereka terus berjalan terburu-buru.
Akan tetapi, dari arah yang berlawanan mereka bertemu dengan pria yang bergaya sama. Rautnya tampak gusar dan berjalan terburu-buru menyusuri koridor hingga akhirnya mereka saling berpas-pasan.
"Kenapa lu buru-buru, ***?" sapa salah satu yang baru saja datang.
"Gue bingung nih, anak yang kita dapatkan ternyata gak bisa dipakai. Usianya terlalu muda. Jadi, kemungkinan ukuran jantungnya lebih kecil dibanding yang dibutuhkan!" ucap pria yang tak lain adalah kaki kanan Arsen, bernama Kano.
"Wah, gawat juga! Lalu kita harus bagaimana?"
Dari jauh sembari bersembunyi, Axel memandangi orang-orang tersebut. Hal yang mereka obrolkan tidak terlalu jelas terdengat oleh telinganya. Namun, semua orang tadi kembali berputar arah membuat Axel memilih untuk bersembunyi supaya tidak terlihat oleh mereka.
Ia mencoba menyusuri arah pria yang tadi keluar dari sebuah ruangan. Dari sana, tampak sebuah bangunan yang terpisah jauh dengan gedung bagian utama rumah sakit ini. Pria yang hanyalah seorang pengacara ini melangkah memasang wajah waspada. Memastikan keadaan aman, tanpa satu pun orang yang terlihat.
Setelah berada tepat di depan pintu ruangan tersebut, Axel kembali mengendarkan indera penglihatannya demi memastikan semua aman dan terkendali.
__ADS_1
Axel mencoba menarik gagang pintu ruangan itu, tetapi ... pintu tersebut tak kunjung terbuka. Lalu ia menariknya berkali-kali, tetap saja tak terbuka. Tak berlama-lama, ia segera memutar otak dan beralih pada posisi lain. Kini, ia telah berada pada sisi jendela bangunan itu.
Axel melirik ke segala sisi, memastikan kondisi masih aman. Ia mencoba memeriksa jendela tersebut, tetapi jendela yang berada pada sisi ia berdiri saat ini masih terkunci. Ia memutari bangunan yang cukup besar dan kembali menemukan jendela pada sisi lain.
Kali ini, ia mencoba menarik jendela tersebut ke arah luar. Terdengar deritan halus, dan jendela itu terbuka dengan lebar. Axel mencoba memastikan kembali kondisi dan ternyata masih aman, lalu meneropong hingga ke dalam memastikan tidak ada orang berada dalam ruangan tersebut.
Setelah memastikan semua aman, Axel mulai memanjat jendela hingga ia berhasil berada seutuhnya di dalam bangunan tersebut. Kali ini, ia berada pada sebuah ruangan APD yang berisi hazmat (jubah penutup tubuh), hair cap (pelindung rambut dari segala kemungkinan saat operasi dilakukan, terutama melindungi dari bercak darah dan yang lainnya), sarung tangan, dan segala kebutuhan para tenaga kesehatan dalam pembedahan.
Axel memutar otak dengan cepat, ia segera mengambil APD tersebut, memasang pada tubuhnya, hingga ia benar-benar tidak dikenali lagi. Ia berjalan perlahan keluar dari ruangan tersebut. Menyusuri bagian demi bagian mencari sesuatu yang berkaitan hilangnya Doni, adik Beni.
Bangunan tersebut terdiri dari beberapa ruangan. Ia menemukan satu ruangan yang terdapat alat pembeku yang cukup besar. Ia masih menebak-nebak fungsi bangunan yang terpisah dari gedung utama ini. Saat membuka pintu ruangan terakhir, ia menemukan ruangan bedah, dan di atas brangkarnya tampak seorang anak laki-laki sedang tertidur dengan sangat pulas.
"Doni?"
Ia memutar otak kembali memeriksa segala hal yang mungkin bisa membantunya untuk membawa Doni keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Dari dalam bagian rumah sakit, di ruang kerja Arsen, Kano dan yang lainnya tengah dicecar oleh orang yang membayar mereka.
"Kalian semua bodoh! Saya sudah mengatakan bahwa pasien ini seorang remaja! Bukan anak-anak!"