
"Mama masuk rumah sakit! Ini gara-gara kamu!" bentaknya.
Dengan refleks, tangan Yuvi bergerak untuk menutup mulutnya. Air matanya mengalir begitu saja dan kepalanya menggeleng tidak percaya.
"Nyo-Nyonya di rumah sakit?" Ia baru ingat tadi malam tidak menghubungi Nyonya Honga sama sekali karena ia sibuk menghabiskan waktu bersama Axel.
"Iya! Dan kau harus bertanggung jawab karena ini!" ucap putra Nyonya Hong.
"Di mana beliau, Tuan Muda? Antarkan aku ke sana," pintanya memasang wajah memohon.
"Pergi sendiri lah! Ini adalah ulahmu! Jadi, harus kau yang menyelesaikannya! Kalau tidak, siap-siap lah masuk penjara!"
Yuvi terduduk tertunduk merasa amat sedih. Belum habis kesedihannya setelah berpisah dengan Axel, malah ditambah oleh kesedihan Nyonya Hong yang selalu baik padanya, ternyata sedang sakit.
"Tunggu apa lagi?" bentak sang Tuan Muda.
"Ba-baik Tuan Muda." Yuvi bangkit dengan tergopoh memutar tubuhnya dalam kalut, tetapi ternyata Nyonya Hong sedang berdiri di pintu.
"Kejutan!" ucap Nyonya Hong.
Lalu, semua orang muncul bertepuk tangan dan tertawa. Yuvi yang tampak bingung, segera mengusap air matanya dan berlari berlutut di hadapan Nyonya Hong.
__ADS_1
"Nyonya baik-baik saja, kan?" harapnya dengan menangkupkan kedua tangannya.
Nyonya Hong menarik Yuvi bangkit. "Berdiri lah! Kami hanya bercanda! Saya baik-baik saja, kok," ucap Nyonya Hong disambut tawa lagi oleh semua yang merencanakan kejutan ini.
Setelah mengetahui bahwa semuanya hanyalah lelucon, Yuvi merasa lega dan berterima kasih atas kejutan yang telah disiapkan untuknya. Ia menghapus air matanya yang tersisa dan tersenyum gembira.
"Aku sangat terkejut, Nyonya Hong! Terima kasih atas kejutan ini," kata Yuvi dengan suara bergetar.
Nyonya Hong tersenyum penuh kehangatan. "Aku senang bisa membuatmu terkejut." Ia sedikit terkekeh menepuk pelan lengan kecil milik Yuvi.
"Bagaimana liburannya? Kenapa sejak semalam kamu tidak dapat dihubungi?" tanya Nyonya Hong.
"Maaf, Nona Yuvi karena sikap saya yang keras tadi terhadapmu," ucap Putra Nyonya Hong.
Yuvi tersenyum sedih mengusap air matanya lagi. "Tadi akting Tuan Muda sungguh keren. Aku benar-benar sangat takut," ucapnya.
Nyonya Hong mengangguk mengerti. "Tidak apa-apa, Yuvi. Itu hanya lelucon kami. Jadi saya bisa melihat kesungguhan dan ketulusanmu kepadaku. Maafkan kami jika kami membuatmu khawatir."
Putra Nyonya Hong juga menyesal. "Sekali lagi, aku minta maaf, Nona Yuvi. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Semua ini hanyalah bagian dari kejutan yang kami rencanakan untukmu."
Yuvi tersenyum dan menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, Tuan Muda. Saya tahu semuanya hanya lelucon. Saya bahagia bahwa semuanya baik-baik saja dan bahwa Nyonya Hong sehat."
__ADS_1
Nyonya Hong mengulurkan tangannya dan mengusap lembut pipi Yuvi. "Kamu sungguh baik hati, Yuvi. Aku berterima kasih atas kerja kerasmu dan kepedulianmu terhadap saya."
Yuvi tersenyum dan merasa lega bahwa semuanya berakhir dengan baik. Meskipun ia sempat merasakan kesedihan dan kekhawatiran, kejutan ini membuatnya merasa dihargai dan dicintai oleh keluarga Hong.
"Terima kasih, Nyonya Hong. Saya selalu berusaha yang terbaik untuk keluarga ini," ucap Yuvi dengan tulus.
Nyonya Hong mengangguk mengerti dan melirik Putra Nyonya Hong. "Jangan lupakan, Yuvi, bahwa kamu adalah bagian penting dari keluarga ini. Kami menghargai dan menyayangimu."
Yuvi merasa hangat di hati. Meskipun perpisahan dengan Axel masih membuatnya merasa sedih, kejutan ini mengingatkannya bahwa ia memiliki tempat di hati keluarga Hong.
"Makasih banyak, Nyonya Hong. Saya sangat beruntung bisa bekerja untuk keluarga yang luar biasa ini," ucap Yuvi dengan penuh rasa syukur.
*
*
*
Pada malam harinya, sebuah panggilan video call masuk pada ponsel Yuvi. Itu adalah penggilan dari Axel. Dengan semangat Yuvi ingin menarik tanda hijau dalam layar ponselnya.
Namun, entah kenapa tiba-tiba Yuvi memiliki rencana lain. Ia bergerak menuju tempat di mana ia menaruh alat kesehatan.
__ADS_1